
Sore harinya, begitu sudah tiba di rumah, Evan memilih untuk mandi terlebih dahulu. Dia butuh menyegarkan tubuhnya dan juga mendinginkan kepalanya. Mungkin guyuran air shower yang dingin, bisa menyegarkan tubuh dan juga mendinginkan kepalanya yang benar-benar pening. Di dalam kamar mandi, seolah Evan juga sudah menyusun apa saja yang hendak dia sampaikan kepada Andin. Semoga saja kali ini, Andin bisa lebih memahami dirinya.
Jika bagi orang menganggap kebutuhan batin itu tidak penting. Padahal sebenarnya kebutuhan jasmani, rohani, dan batiniah sama pentingnya. Lagipula, jujur dan terbuka dengan pasangan sendiri tidak ada salahnya. Begitu selesai dari mandi, Evan sudah keluar dengan wajah yang segar dan tentunya wangi. Pria itu memilih duduk di sofa dan Andin mengerjakan skripsi di meja belajarnya yang ada di dalam kamar itu.
Menyadari suaminya yang sudah selesai mandi, Andin menyimpan file yang dia kerjakan di dalam laptopnya terlebih dahulu dan kemudian mulai duduk di samping Evan.
"Mas," sapanya lirih.
"Hmm, iya," sahut Evan.
Andin kemudian menatap suaminya itu, "Mas ... apa aku ada salah sih? Kok kamu diem sama aku sejak semalam?" tanyanya.
Setidaknya Andin sedikit peka, terbukti dari wanita itu yang bertanya apakah dirinya ada salah dan juga menyadari bahwa Evan sudah diem dengannya sejak semalam. Walau mungkin sedikit terlambat, karena Andin memang tidak peka sebelumnya.
"Menurut kamu?" tanya Evan.
"Kamu marah ya sama aku?" tanya Andin secara langsung.
Akan tetapi, Evan menggelengkan kepalanya, "Tidak ... aku tidak marah kok. Aku sedikit sebel aja," balasnya.
Andin kemudian beringsut dan menatap suaminya itu, "Sebel karena apa? Bilang dong," balasnya.
"Kamu tidak peka kok Yang ... aku mendamba kamu, seminggu lebih, dan kamu tidak peka. Kamu acuh," balas Evan sekarang jujur. Bahkan Evan mengakui bahwa seminggu lebih ini dirinya sudah begitu mendamba, tetapi Andin tidak peka dan justru acuh padanya.
"Oh, itu yah ... aku pikir kamu bercanda," balas Andin lagi.
Evan kemudian menyandarkan punggungnya di sofa dan menutup matanya dengan tangannya. Begitu sebal rasanya. Dia berbicara dengan serius, tetapi Andin justru menganggapnya sebagai candaan. Bagaimana jika dia berbicara dan meminta dengan bercandaan, pasti Andin akan lebih tidak peka dengannya.
Andin pun mengusapi kepala suaminya di sana, "Maaf yah," balasnya.
"Sebel tahu, suami begitu mendamba, kamunya tidak peka," balas Evan kali ini dengan begitu jujur. Evan juga menunjukkan bahwa perasaan sekarang sangat tidak baik. Berusaha sabar dan juga mengatakan bahwa dirinya sebal.
Menyadari kesalahannya kini, Andin lantas dengan berani mengambil inisiatif awal. Wanita itu kini naik dalam pangkuan suaminya, menarik tangan Evan yang hanya menutupi matanya. Dengan jantung yang berdebar-debar, Andin pun akan memberikan kepastian kepada suaminya itu.
Bukan menjawab, nyatanya Andin justru menangkup wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya. Wanita itu mengikis jarak sejengkal wajahnya dengan sang suami dan melabuhkan bibirnya, mengecup permukaan bibir yang lembut dan kenyal milik suaminya itu.
“Maaf,” balas Andin begitu telah menjauhkan jarak wajahnya.
Evan pun tersenyum tipis, tidak mengira kali ini istrinya itu akan mengabulkan apa yang dia minta. Tidak mengira pula bahwa Andin memberikan apa yang suaminya itu mau.
Andin lantas kembali mencium bibir suaminya itu, mengecup permukaan bibir itu hingga keduanya sama-sama berdecak, dan menyapukan lidahnya di bibir itu. Menyesap lipatan bibir suaminya bergantian atas dan bawah. Wanita itu memejamkan matanya, seolah benar-benar ingin menikmati perasaannya kali ini untuk sang suami.
Tangan wanita itu bergerak yang meremas rambut suaminya, menyentuh permukaan telinga suaminya dengan perlahan, pergerakan tangannya kian turun dan membelai leher Evan dengan lembut. Hingga membuat pria itu mengangkat wajahnya kian naik ke atas dan membiarkan istrinya itu bermain-main atasnya.
Andin dalam hati tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan suaminya itu. Bibir wanita itu perlahan turun dan mendaratkan kecupan-kecupan basah dan hangat di garis leher suaminya, tangannya bergerilya dan menelusup di balik kaos yang dikenakan suaminya itu. Meraba dada suaminya yang bidang, meraba punggung suaminya yang kokoh, dan bibirnya kembali mengecupi bibir Evan.
“Hh, Sayang … kamu,” ucap Evan dengan menghela nafasnya.
Seakan-akan cara istrinya memegangnya, menyentuhnya, membelainya sekarang ini justru menyulut api dalam diri Evan. Pria itu ingin menikmati semua yang dilakukan sang istri atas tubuhnya.
Hingga akhirnya tangan Evan bergerak dan menyentuhkan tangan Andin ke inti tubuhnya yang sudah sepenuhnya menegang, semua ciuman, semua pagutan, semua sentuhan yang diberikan oleh istrinya benar-benar membuat dirinya panas dingin sekarang ini.
Sembari menghela nafasnya, Andin lantas bergerak turun dari pangkuan suaminya.
Evan mengangguk, memberikan akses sepenuhnya bagi wanita itu untuk melakukan apa pun terhadapnya. Evan menyandarkan punggungnya di sofa dan akan menikmati semua tindakan yang tengah dilakukan Andin.
Wanita itu memberanikan dirinya menyentuh pusaka sang suami. Meremasnya perlahan, jantungnya berdebar-debar sekarang ini. Akan tetapi, hasratnya seakan mengatakan untuk mampu melakukan yang lebih. Untuk itu, Andin kembali menggenggam pusaka itu, menggerakkannya naik dan turun. Tidak terkira bagaimana reaksi sang suami yang di atas.
Evan lantas bangkit, kedua tangannya langsung bergerak dengan begitu cepat dan tepat, lantas membawa Andin kembali duduk di pangkuannya.
“Sudah cukup, main-mainnya,” ucap Evan kemudian.
Keduanya membawa bibir mereka untuk kembali bertemu, kembali menyapa, kembali memagut, mengecup, melu-mat, dan menciumnya dengan kian dalam. Kedua tangan Evan, berusaha mengangkat kaos yang dikenakan istrinya, hingga membuat kaos itu terlepas dan Evan segera melemparkannya begitu saja. Pria itu membuka matanya, tatkala melihat pembungkus renda di area dada istrinya, berwarna pink muda yang lembut. Tanpa permisi, tangan Evan meremas gundukan kembar itu, menekannya perlahan, satu tangannya menelisip di balik punggung Andin hingga membuat pembungkus itu terlepas.
Pria itu lantas melepaskan sendiri kaos yang masih dia gunakan. Lantas dia, melucuti sisa-sisa kain yang menempel pada tubuh keduanya. Evan sedikit mengangkat tubuh Andin, mendaratkan pantat wanita di pangkuannya, di atas pahanya. Menyatukan inti tubuh keduanya, membuat Andin memejamkan matanya dan meremas helai rambut suaminya.
“Mas Evan ... Mas,” de-sahnya kala itu saat merasakan milik suaminya yang telah menusuk masuk seolah mengenai dinding rahimnya. Jari-jemari Andin yang lentik meremas bahu suaminya, dan dia mencerukkan wajahnya di leher suaminya.
Evan membawa tangannya untuk kembali menyusuri kulit Andin yang lembut, merabanya, memberikan sentuhan-sentuhan yang seolah menyulut partikel yang membuat tubuh keduanya kian tersulut, kian panas, dan kian basah lantaran keringat yang keluar begitu saja. Menghadirkan kesan liat dan basah.
Bibir pria itu bergerak dan mengecupi puncak buah persik itu, memberikan sapuan dengan lidahnya, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Tidak membutuhkan waktu lama, puncak buah persik itu pun membengkak dan basah.
Pinggang Andin bergerak mengikuti instingnya. Dalam pergerakan maju dan mundur, dirinya kian kacau kali ini. Beberapa kali Andin bahkan melenguh dan kian mencengkeram bahu suaminya itu. Gesekan demi gesekan yang terjadi membuat keduanya sama-sama terbakar.
Tubuh Andin meliuk dengan begitu sensual, dalam dorongan hasrat yang secara samar terasa saat pusaka suaminya mendesak di bawah saja. Gesekan yang mampu mengalirkan setiap gelenyar pada tubuhnya sendiri.
Wanita itu kian meremang, saat jari-jari tangan Evan kian menyusuri kulit punggungnya, meraba pahanya, bahkan mempermainkan buah persiknya. Keduanya bergerak dalam percikan yang seolah kian sulut-menyulut.
Evan benar-benar terbakar, hingga pria itu tak henti-hentinya mengeksplor tubuh istrinya. Jari-jarinya sibuk memilin satu buah persik yang ada, dan bibirnya melahap dengan begitu rakus buah persik yang satunya. Hingga des-ahan berkali-kali mengalun dari bibir Andin. Kegiatan panas yang benar-benar membakar keduanya saat ini.
“Hh, Mas Evan … aku ... aku,” pengakuan yang tidak jelas maknanya itu keluar dari bibir Andin.
Ya, wanita itu merasa sudah sampai di batas pertahannya. Tak mampu lagi tersulut dengan semua aktivitas yang dilakukan suaminya atasnya. Suaminya sendiri yang benar-benar menyulut tubuhnya dengan gelora, dan membuat Andin berada di batas pertahannya.
Mendengar pengakuan sang istri, Evan dengan cepat bergerak, membawa Andin dalam gendongannya, dalam pelukannya dan membaringkan wanita itu. Evan langsung menindihnya.
“Sayang,” Evan pun menggeram. Sebenarnya bukan hanya Andin yang tersulut, dirinya sendiri pun turut tersulut.
Wanita itu kian memejamkan kedua matanya saat merasakan desakan demi desakan, hujaman demi hujaman. Gerakan seduktif yang dilakukan suaminya, keluar dan masuk, menekan dan menusuk benar-benar memabukan.
Evan lantas membuka kedua kaki istrinya itu. Menempatkan dirinya tepat ditengah-tengahnya, mengarahkan milik pusakanya pada cawan surgawi milik sang istri. Tanpa aba-aba dia menghujam masuk.
Kuat.
Dalam.
Cepat.
Menusuk hingga pusakannya tenggelam dalam cawan surgawi milik istrinya. Kesan erat, hangat, dan cengkeraman di dalam sana membuat Evan beberapa kali memejamkan matanya, perasaan yang membuat pria itu hilang akal. Hingga akhirnya Evan sadar bahwa dia tidak mampu lagi bertahan lebih lama lagi.
Maka Evan pun menggeram, merengkuh tubuh Andin dengan tangannya. Hingga akhirnya gerakan seduktif yang kacau dan penuh hujaman itu menghantarkan Evan ke jurang kenikmatan tak bertepi. Saat cairan cintanya menyembur di dalam sana, pria itu benar-benar meledak, pecah seperti percikan kembang api dengan bunga-bunga apinya yang bertaburan di angkasa. Walau dengan mata yang terpejam, tetapi bunga api bisa mereka lihat dengan sangat jelas.
Inisiatif awal yang menjadi pintu menuju kenikmatan yang tiada terperi. Insiatif awal yang menjadikan keduanya hancur lebur, benar-benar pecah dan tanpa sisa.