Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Buku yang Terbuka


Sungguh luar biasa peraduan di sore itu. Tidak perlu menunggu malam tiba, ketika langit Ibukota belum menggelap, tetapi Evan dan Andin seolah sudah benar-benar jatuh terperosok dalam pusara cinta. Evan perlahan-lahan beringsut dari atas tubuh istrinya, menggeser posisinya dan membawa Andin ke dalam pelukannya.


Untuk beberapa saat keduanya sama-sama diam, tetapi tangan Evan terus memberikan usapan di kepala Andin. Beberapa kali pula sang pria dengan wajah tampan itu memberikan kecupan demi kecupan di kening Andin. Rasanya momen ini sangat indah, dan tidak ingin cepat berlalu.


“Mas,” panggil Andin dengan suara yang lirih.


“Ya, apa Yang?” sahut Evan.


“Maaf yah … aku tidak menyadarinya. Harus membuat kamu diam dan sebel, baru aku tahu,” ucap Andin.


Evan yang mendengarkan suara Andin pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Tidak apa-apa. Aku sudah mendamba lebih dari satu minggu. Ketika aku benar-benar tidak bisa menahan, kamu justru acuh dan tidak peka sama sekali,” gerutu Evan sekarang ini.


Andin yang mendengarkan gerutuan suaminya itu pun justru tertawa, jari telunjuknya memberikan usapan di area dada Evan, membelainya dengan ujung jari telunjuknya saja. “Maaf, aku memang yang tidak peka,” balas Andin kemudian.


“Iya, kamu tidak peka … tapi terima kasih banyak untuk hari ini. Untuk barusan, luar biasa nikmat,” balas Evan.


Ya, menurut Evan sore ini benar-benar bergelora. Andin untuk kali pertama yang memegang kendali, melakukan yang terbaik untuk bisa memuaskan hasratnya, melakukan semuanya hingga Evan benar-benar terbang. Bagi Evan apa yang baru saja terjadi sungguh luar biasa. Bahkan, Evan tidak keberatan jika Andin akan sering-sering memegang kendali atas permainan.


“Aku malu,” balas Andin dengan mencerukkan wajahnya ke dada Evan.


“Di hadapanku, tidak perlu malu Sayang … jadilah buku yang terbuka, dan aku akan membaca seluruh isi dari buku itu. Jangan menutup dirimu, jangan menutup apa pun dariku. Jika ada satu orang yang di hadapannya kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau, itu adalah di hadapanku, suami kamu,” balas Evan.


Kali ini Evan meminta kepada istrinya itu untuk bisa menjadi sosok dirinya sendiri. Menjadi sosok yang tidak perlu takut menunjukkan sisi demi sisi dirinya. Bahkan Evan meminta kepada Andin untuk tidak perlu malu. Sebab, Evan justru akan merasa senang jika istrinya itu menjadi buku yang terbuka.


"Aku hanya mengatakan dengan suatu analogi bahwa kamu akan menjadi buku yang terbuka. Sebuah buku yang terpampang jelas setiap halaman, bab, alinea, kata, bahkan hingga tanda bacanya. Buku yang bisa kau baca setiap saat. Kamulah buku itu, dan aku pemiliknya."


Sekali lagi Evan mengatakan dengan sungguh-sungguh. Sebab, apa pun dan bagaimana pun seorang Andin, Evan tidak akan keberatan, justru dia akan menikmati setiap halaman, bab, dan alinea yang berada di dalam buku itu.


Andin yang mendengarkan perkataan Evan pun tersenyum, dan kian mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. “Kamu juga yah, jadilah buku yang terbuka. Aku sangat suka memiliki buku berjudul Evander Agastya ini,” balas Andin.


Bisa mengutarakan perasaan, bisa meminta kepada pasangan untuk bisa saling terbuka adalah hal yang luar biasa. Kita bisa menjadi diri sendiri di hadapan pasangan kita. Evan kemudian menundukkan wajahnya, dan menatap istrinya itu.


“Sayang, lain kali kalau kamu tidak peka, aku boleh mengajaknya bermain langsung?” tanya Evan kemudian.


Andin sampai geleng kepala mendengar ucapan suaminya itu, “Ngajak langsung gimana?” tanya Andin dengan bingung.


“Langsung aku lepaskan semuanya,” balas Evan. Pria itu kini beringsut dan menindih Andin lagi, mengungkungnya di bawahnya, “Seperti ini … boleh?” tanya Evan kemudian.


Evan tersenyum, dan dia kembali ke posisinya semula, berbaring di samping Andin, “Oke … tentu akan berani. Aku akan buat kamu takluk di bawahku,” balas Evan dengan tertawa.


Andin pun tertawa, sampai air matanya keluar dari sudut air matanya, “Tidak ku kira, suamiku seperkasa itu,” balasnya.


“Bersamamu, aku selalu perkasa, Yang,” balas Evan.


Tidak ingin menunggu lama, kali ini tawa di wajah Evan sirna. Pria itu membelai sisi wajah Andin dengan perlahan. Evan mengikis jarak wajahnya, sungguh didekati Evan seperti ini, rasanya Andin merasa begitu terintimidasi. Wajah Andin merasa begitu deg-degan, ketika wajah suaminya itu kian mendekat. Sorot mata Evan yang semula menatap mata Andin, kini beralih dan menatap bibir Andin, bahkan ibu jari pria itu sudah menyentuh dan memberikan usapan di bibir bawah Andin.


“Mas, jangan … kan baru selesai,” balas Andin kemudian.


Evan diam, dia masih melakukan pandangan yang begitu lekat, dan ibu jari yang memberikan usapan di sana. Hingga kemudian Evan kembali menjauh dan tersenyum tipis. Ketika Evan menjauh, Andin pun merasa baru bisa bernafas lega.


“Jahat banget sih,” balas Andin.


Evan kembali tersenyum, “Sekadar mengintimidasi istri sendiri,” balas Evan dengan akhirnya tertawa.


Andin memanyunkan bibirnya, dan memukul dada suaminya itu, “Jahat … aku takut,” balas Andin kemudian.


“Tidak takut, cuma deg-degan,” balas Evan.


“Nah, kan … kamu deg-degan. Ah, indahnya sore ini. Pusingku hilang seketika, makasih Sayang,” balas Evan dengan bernafas begitu lega.


“Kamu bisa saja … nanti malam temenin aku nugas skripsi ya Mas. Sudah mulai jalan Bab 2 kok. Masak iya, aku mau ditinggal tidur lagi,” balas Andin. Jujur saja, dia sebenarnya sedih ketika Evan meninggalnya tidur terlebih dahulu. Akan tetapi, juga bagaimana kalau suaminya itu sedang ngambek dan sebel, Andin juga merasa bersalah karena menjadi istri yang kurang peka.


“Boleh … aku temenin, tapi, gini aja yah … tanpa busana. Mau enggak?” balas Evan yang sekarang tangannya sudah memberikan remasan di buah persik istrinya, meremas dalam tekanan yang seirama.


“Hh, Mas Evan … kalau kayak gini, yang ada aku malahan enggak lanjut skripsi dan enggak lulus-lulus. Aku sangat takut suamiku yang perkasa ini akan lemah imannya,” balas Andin.


Lagi Evan tertawa, dan memeluk istrinya itu, “Kamu makin pinter sih … ya sudah, mandi dulu yuk. Habis ini kerjakan skripsinya, aku akan pesan untuk makan malam. Selesaikan dan kita akan segera punya baby, siapa tahu benih yang aku tanam barusan akan menemui sel telur dan terjadi pembuahan,” balas Evan.


“Amin … semoga saja. Punya baby junior yang gemoy,” balas Andin. Tidak ingin menunggu lagi, Andin juga sudah berada di fase siap untuk menjadi seorang Ibu walau usianya masih muda.


Setelah semua masalah selesai, mengomunikasikan isi hati dan perasaan dengan baik, rasanya sepasang suami istri juga menjadi kian harmonis. Untuk sesaat hati mereka meletup dengan kebahagiaan. Semoga saja, memang apa yang mereka inginkan untuk memiliki buah hati bisa tercapai dan juga rumah besar mereka yang mewah akan kian ramai dengan suara bayi.