Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Bisa Mengatasi


Setelah banyak diskusi dengan Ravendra, Evan pun tersadar bahwa tanpa Andin pun dia harus bisa bekerja dengan baik. Terlebih ketika Ravendra mengatakan bahwa Papa Belva adalah sosok yang luar biasa dan bisa menggapai kesuksesan, walau Mama Sara tidak turut serta menyertainya. 


Lebih mengagumkan karena Papa Belva dan Mama Sara bisa sama-sama mengembangkan bisnis mereka. Tanpa ikut campur, dan gurita bisnis mereka justru berkembang dengan luar biasa pesat. Evan tersadar bahwa dia harus bisa membangun kembali motivasinya dan mencapai sukses seperti Papanya. 


Evan memang sudah dipersiapkan sebagai seorang Suksesor di Agastya Properti. Oleh sebab itu, Evan pun harus lebih kuat dan kompeten dengan segala suasana. 


"Makasih Bro, jadi aku semangat lagi untuk bekerja," ucap Evan pada akhirnya. 


Ravendra yang mendapatkan ucapan terima kasih dari Bos sekaligus temannya itu pun menganggukkan kepalanya. 


"Sama-sama Bos … inilah gunanya teman," balas Ravendra. 


"Oh, iya Rav … proyek dengan Jaya Corp itu kepala arsiteknya teman kamu yah?" tanya Evan kemudian. 


"Iya, namanya Aksara, Bos. Ada apa?" tanya Ravendra. 


"Kapan-kapan aku butuh untuk mendesainkan kolam renang di rumahku bisa enggak yah mendesainkan kolam renang. Aku maunya gaya Timur Tengah kayak di Dubai gitu. Bisa enggak menggambarkan?" tanya Evan. 


"Coba hubungi aja Bos. Cuma biasanya dia menolak mendapatkan pertemuan di luar jam kerja," balas Ravendra. 


Mendengar apa yang disampaikan Ravendra pun, Evan tampak mengernyitkan keningnya, "Loh, kenapa emangnya?" tanyanya. 


"Iya, karena dia suami yang cinta banget sama istri dan keluarganya, jadi kalau udah jam pulang kerja, biasanya dia akan full untuk istri dan anak-anaknya. Family Man gitu," balas Ravendra. 


Evan tampak tertawa, rupanya selain Papa Belva ada juga pria yang menghindari pertemuan di luar jam kerja. Sebab, Papanya juga sosok seperti itu, hanya mau menemui klien di saat jam kerja saja. Selanjutnya Papa Belva lebih banyak menghabiskan banyak waktu bersama Mama Sara. 


"Kenapa mirip Papa yah," balas Evan. 


"Faktanya memang begitu Bos. Jadi kalau mau ketemu waktu jam makan siang saja. Proyek Jaya Corp sekarang juga didesain oleh Aksara dan rancang bangunnya juga keren kok. Itu karena istrinya Dosen Arsitektur yang jago di bagian Rancang Bangun. Jadi, ya hasilnya luar biasa keren," cerita Ravendra. 


"Oh, pantesan proyek Jaya Corp selalu menghasilkan bangunan yang kuat dan juga kokoh," balasnya. 


"Kurang satu Bos, tak tertandingi biar kayak merek semen. Kuat, kokoh, tak tertandingi."


Ravendra mengatakan itu dengan tertawa. Evan yang baru konek dengan maksud Ravendra pun turut tertawa di sana. Begitulah Evan, dengan orang yang sudah dia kenal dan juga membuatnya nyaman, Evan bisa tertawa. Sama seperti bersama Ravendra, Evan pun bisa tertawa. 


"Iya, seumuran dengan kita kok Bos. Walau sebenarnya lebih tua dia satu tahun," balas Ravendra. 


Evan pun menganggukkan kepalanya, "Oke deh, thanks ya Bro. Aku jadi giat bekerja. Benar, nanti sore pulang sudah disambut Nyonya. Harus giat bekerja untuk anak istri," balas Evan. 


"Sama-sama Bos. Lanjut ya Bos. Jangan galau, jadikan semangat untuk terus sukses," balas Ravendra. 


Setelahnya Evan berkutat dengan pekerjaannya. Menjelang siang rupanya ada pesan masuk dari Andin yang mengatakan kuliah hari ini dibatalkan, sehingga Evan bisa fokus bekerja. Namun, Evan berkata jika Andin membutuhkan sesuatu, jangan segan-segan untuk menghubunginya dan meminta tolong kepadanya. 


Usai membalas pesan dari istrinya, Evan tersenyum di sana. Kemudian Evan kembali bekerja, sembari menunggu waktu pulang kerja. Detik demi detik berlalu, hingga jam demi jam pun berganti, begitu waktunya pulang kerja, Evan pun memilih bergegas untuk pulang. Rasanya sudah begitu rindu dengan istrinya di rumah. 


"Van, langsung pulang?"


Papa Belva yang turun dari ruangannya pun tampak menyapa anaknya itu. Keduanya berpapasan di depan lift yang akan membawanya turun. 


"Pa, gimana kabarnya? Iya, Pa … seperti Papa, begitu waktunya pulang kerja. Langsung pulang," balasnya dengan tertawa. 


"Kamu bisa saja. Gimana kerjaan beres?" tanya Papa Belva kemudian. 


"Beres Pa, aman," balas Evan dengan yakin. 


"Andin kabarnya baik?" tanya Papa Belva lagi. 


"Baik juga Pa, cuma dia kembali kuliah. Menyelesaikan skripsi. Hari pertama tanpa sekretaris ini tadi Pa," balas Evan. 


Papa Belva pun tersenyum sembari menepuk bahu anaknya itu, "Bisa mengatasi kan? Enggak galau kan?"


"Lumayan Pa, cuma tadi ngobrol sebentar sama Ravendra kalau Evan harus fokus dan seperti Papa yang giat bekerja. Ada istri di rumah yang menunggu," balasnya. 


Papa Belva pun tertawa, "Harus itu, di balik kesuksesan pria pun ada doa yang tulus dari istri di rumah. Bukan semata-mata karena Papa, tapi doa Mama kamu juga," balas Papa Belva. 


"Benar Pa, jadi Evan harus fokus, kerja keras biar bisa seperti Papa," balasnya dengan yakin. 


Walau memang awalnya susah dan Evan mengakui susah konsentrasi, tetapi buktinya hari ini Evan bisa melaluinya dengan baik. Evan akan terus belajar dan bekerja giat untuk menghapus kesuksesan seperti Papanya.