
"Masih ada yang kurang enggak Pak Evan? Biar saya pesankan," ucap Andin.
Sebab, kala itu Evan seolah masih menunggu ada yang kurang dari pesanannya. Sehingga, pemuda itu tampak mengamati sekelilingnya.
"Masih ... Salmon Tempura-nya belum diantar deh," balasnya.
Merasa bahwa pesanan Bosnya itu belum juga datang, Andin pun segera berdiri dan bertanya perihal pesanan Bosnya yang belum datang itu. Setelahnya Andin kembali duduk, dan pelayan pun menyajikan Salmon Tempura yang dipesan oleh Evan itu.
"Silakan Pak, pesanannya," ucap sang pelayan dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Makasih yah," balas Evan.
Kemudian Evan menatap kepada Andin yang sudah kembali duduk di hadapannya, "Lain kali tidak usah menanyakannya. Kamu memang sekretarisku, tetapi kamu juga adalah kekasihku. Aku bisa menanyakannya sendiri," balas Evan.
Akan tetapi, Andin menggelengkan kepalanya di sana, "Bekerja untuk Pak Evan, melayani Pak Evan sudah pekerjaan saya. Jadi, tidak apa-apa," balas Andin.
Tampak Evan menaruh sumpit di piring kecil yang berada di hadapannya kemudian menatap Andin di sana, "Aku memang atasan yang terkesan keras dan arogan, tetapi bersama dengan kamu seperti ini, aku ingin menjadi kekasih yang baik. Andin, juga jika di luar kantor tidak usah berbicara formal dengan saya. Pakai aku dan kamu tidak masalah. Kita harus membiasakannya bukan?"
"Rasanya aneh Pak ... belum terbiasa," jawab Andin.
"Biasakan ... lama-lama akan terbiasa. Di luar kantor juga tidak usah memanggilkan Pak Evan. Seolah-olah aku ini atasanmu saja," balasnya.
Andin tersenyum di sana, "Lah kan benar kalau Pak Evan atasan saya. Jadi, ya tidak apa-apa," balas Andin.
"Kalau di luar kantor, lebih santai saja panggil aku dengan namaku langsung juga tidak masalah," balasnya.
"Kan Pak Evan lebih tua, mana sopan saya memanggil dengan langsung nama," balas Andin lagi.
"Ya sudah ... panggil Mas Evan saja. Sama seperti Mamaku yang sering kali memanggil Papaku Mas atau Mamas, tidak masalah," balas Evan.
Andin justru tersenyum di sana. Mana mungkin memanggil 'Mas' kepada cowok seganteng dan menawan seperti Evan. Rasanya panggilan Mas tidak begitu cocok dengan Evan.
"Baiklah, aku ... akan mencobanya," balas Andin.
Keduanya kemudian menghabiskan pesanan yang begitu banyak itu, dan benar saja Evan dan Andin sanggup menghabiskan makanan sebanyak 32 pcs Sushi. Sampai begitu pesanan mereka habis, Andin pun geleng-geleng kepala sendiri.
"Padahal tadi banyak banget, kenapa habis ya Mmm ... mas," panggilnya dengan memejamkan mata dan menahan tawa karena begitu geli memanggil Evan dengan nama 'Mas'.
Dengan cepat Andin menganggukkan kepalanya, "Benar." Andin membalas masih dengan menahan tawa sampai tubuhnya bergetar dan juga wajahnya memerah di sana.
"Kenapa, aneh ya?" tanya Evan.
"Iya, aku belum terbiasa," balasnya.
"Dibiasakan," balasnya.
Andin pun menganggukkan kepalanya. Ya, jika tidak dimulai dari sekarang, akan sukar baginya untuk memulai semuanya. Lagipula, jika benar adanya sebulan lagi dia akan menjadi pendamping Evan Agastya. Sehingga lebih baik memang membiasakan diri.
Selesai dari restoran Sushi, Evan dan Andin kemudian keluar dan menyusuri pusat belanjaan itu untuk sebentar.
"Ada yang ingin kamu beli?" tanya Evan kemudian.
"Tidak Mas ... tidak ada," balas Andin.
Evan pun menganggukkan kepalanya, "Andin, tunggu deh ... ada yang kurang tepat," ucapnya.
Mendengar ucapan Bosnya, Andin pun berhenti dan dia menoleh melihat Bosnya itu. "Ya, ada apa?"
"Kalau kamu berjalan seorang diri gitu rasanya kamu kayak sekretarisku," ucapnya.
Kemudian Evan menggandeng tangan Andin di sana, menautkan setiap jari-jarinya di sela-sela ruas jari Andin, dan meremasnya perlahan. Evan tersenyum menatap tangan keduanya yang sama-sama bertaut.
"Nah, kalau kayak gini, kita kayak pacar. Gini saja," balasnya.
Andin menghela nafas, sungguh grogi. Tentu Evan pun bisa merasakan bahwa tangannya menjadi begitu dingin sekarang ini. Bahkan Andin juga beberapa kali menghela nafasnya.
"Tangan kamu dingin," ucap Evan kemudian.
"Oh ... itu karena tadi habis memegang gelas es," ucap Andin yang mencoba menemukan jawaban yang tepat.
Evan kemudian tersenyum di sana, "Tidak usah grogi, ke depannya tangan ini yang akan menggenggammu sampai tua nanti," ucapnya.