Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Pengajian Empat Bulanan


Hari ini, sejak pagi kediaman Belva Agastya telah disibukkan dengan berbagai persiapan untuk mengadakan acara empat bulanan untuk Andin. Bagian ruang tamu telah didekorasi dengan aneka bunga mawar putih dan juga peony berwarna pink. Itu adalah dua bunga kesukaan Andin, ada dedaunan segar dan juga lampu-lampu hias yang dipasang untuk memperindah suasana. Ada tenda berwarna putih yang dipasang juga di deapn rumah. Kajian malam ini akan dihadiri tetangga, staf dari Agastya Properti, dan kerabat saja.


Untuk urusan katering, Mama Sara yang memesan langsung dari katering langganannya dan juga tidak lupa berbagai bingkisan dari Coffee Bay yang akan dibagikan kepada tamu undangan.


Mengingat acara empat bulanan ini, keluarga Sukmajaya pun juga pulang dari Sydney. Walau hanya Mama Tika dan Papa Miko saja yang pulang, sementara Arine dan juga Rendra serta bayinya masih berada di Sydney. Dresscode yang akan dikenakan pada malam kajian kali ini adalah warna biru royal, sebagaimana warna kesukaan Evan. Biasanya warna biru dipilih karena bayi yang berada dalam kandungan seorang Ibu berjenis kelamin laki-laki. Akan tetapi, kali ini pilihan warna biru hanya didasarkan pada warna kesukaan Evan saja, karena memang Evan memilih untuk menunda satu bulan untuk mengetahui jenis kelamin bayinya.


Sementara di dalam kamar milik Evan, Andin tampak bingung dengan acara yang akan digelar malam ini. Wanita itu melihat dari balik tirai jendela di dalam kamar suaminya.


"Seramai apa sih Mas? Kok banyak banyak orang yang menyiapkan semuanya, sampai memasang tenda juga," tanya Andin.


"Aku tidak tahu Sayang ... kan ini murni dari Mama dan Papa. Kita anak-anaknya ngikut saja," balasnya.


Andin pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... kita ngikut saja. Terharu banget aku, disayang Mama dan Papa sampai sedemikian rupa," balas Andin.


Evan pun juga merasakan bahwa kasih sayang yang diberikan keluarganya untuknya dan Andin memang luar biasa melimpah. Namun, Evan juga yakin memang orang tua cara mengekspresikan kasih sayangnya berbeda, dan sekarang Mama Sara dan Papa Belva mengekspresikan kasih sayang itu dengan mengadakan kajian yang benar-benar terkonsep.


Menjelang sore, Mama Sara pun mengetuk pintu kamar Andin dan kemudian menemui Evan dan Andin yang rupanya sudah selesai mandi itu. "Van, nanti kamu turun duluan yah ... temenin Papa kamu untuk menerima tamu yang datang dan ada pemuka agama juga yang akan hadir memberikan siraman rohani," ucap Mama Sara.


"Iya Ma ... siap. Kapan sebaiknya Evan turun Ma?" tanyanya lagi.


"Setengah jam lagi saja," balas Mama Sara.


Kemudian Mama Sara menatap kepada Andin di sana, "Nanti pakai Dress dari lace ini ya Andin ... warnanya biru, kesukaan suami kamu. Serasa di Burj Al Arab," balas Mama Sara.


Andin pun tertawa di sana, "Iya Ma ... bagus banget dressnya," balasnya.


"Mama yang sengaja milihin. Semoga kamu suka yah ... perlu MUA enggak Ndin?" tanya Mama Sara lagi.


"Eh, enggak usah saja, Ma ... Andin gak pernah make up aneh-aneh. Ya sudah, nanti biar dimake-upin Mama Marsha saja yah, keluarga kita juga. Mama Marsha itu mantan model, jadi bisa make-up dan bagus," ucap Mama Sara.


Andin pun menganggukkan kepalanya, "Iya Ma, Andin mengikuti saja. Terima kasih banyak ya Ma," balasnya.


Evan pun bersiap dengan mengenakan kemeja batik yang senada motifnya dengan Papa Belva dan Papa Miko nanti, sementara dress yang dikenakan Andin akan senada dengan yang dikenakan oleh Mama Sara dan juga Mama Tika nanti.


Hingga akhirnya, Mama Sara kembali mengunjungi Andin di dalam kamarnya dan sekarang mengajak wanita paruh baya yang masih begitu cantik. Mantan model yang malam itu datang dari Semarang untuk menghadiri acara empat bulanan Andin dan juga Evan.


"Andin ... kenalkan ini Mama Marsha," ucap Mama Sara.


"Halo ... cantik sekali sih. Istrinya Kak Evan memang cantik," balas Mama Marsha.


Andin pun tersenyum dan menundukkan wajahnya, "Mama Marsha ini keluarga kita juga, rumahnya dekat dengan Mama, tetapi dua tahun belakangan Mama Marsha dan suaminya tinggal di Semarang."


"Kami datang untuk turut bersyukur untuk kehamilan kamu Andin ... selamat yah," balas Mama Marsha.


"Minta tolong dipoles dikit ya Jeng," ucap Mama Sara dengan menepuk lengan Mama Marsha di sana.


"Aman ... siap Jeng Bos," balas Mama Marsha dengan tertawa.


Hingga akhirnya, Mama Marsha menyelesaikan tugasnya untuk merias Andin. Hanya sekadar make up minimalis saja, dan kemudian Mama Marsha mempersilakan Andin untuk melihat hasil make upnya.


"Bagaimana Andin, ada yang kurang?" tanyanya.


"Sudah Ma ... sudah bagus banget ini," balas Andin.


Beberapa menit kemudian, Mama Sara dan Mama Tika kembali naik ke kamar atas, keduanya benar-benar kagum melihat Andin di sana.


"Cantiknya kamu, Ndin," ucap Mama Tika begitu melihat anaknya itu.


"Mama," ucap Andin yang tentunya senang melihat kedatang Mamanya dari Australia.


"Make up dari kamu selalu oke, Jeng," ucap Mama Sara dengan mengacungkan ibu jarinya kepada Mama Marsha di sana.


Sentuhan terakhir, Mama Sara memasangkan kerudung saja yang mempermanis tampilan Andin sekarang ini. Setelahnya Mama Sara menggandeng Andin di sebelah kanan, dan Mama Tika menggandeng di sebelah kiri, sementara Mama Marsha berjalan di samping Mama Sara. Mereka turun ke ruang tamu di mana para tamu undangan sudah hadir di sana.


Begitu Andin menuruni anak tangga, semua mata tertuju kepadanya. Terlebih Evan yang seolah takjub dengan istrinya. Pria itu melemparkan senyuman tipis kepada istrinya itu. Begitu sampai di ruangan tengah, Mama Sara lantas memberikan satu tangan Andin kepada Evan dan mempersilakan keduanya duduk berdampingan.


Seorang Ustad pun melantun doa berikut ini. "Ya Allah, semoga Engkau lindungi bayiku ini selama ada dalam kandunganku, Berikanlah kesehatan kepadanya bersamaku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesehatan selain kesehatan yang Engkau berikan, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain. Ya Allah, bentuklah dia di dalam perut ibunya dalam bentuk yang elok dan tetapkanlah hatinya dalam keimanan kepada-Mu dan Rasul-Mu. Ya Allah, keluarkanlah dia dari perut ibunya pada saat kelahirannya dengan mudah dalam keadaan selamat dan dengan bentuk yang indah dan sempurna. Ya Allah, jadikanlah dia anak yang sehat dan sempurna, berakal yang cerdas, yang alim, dan mau mengamalkan ilmunya."


Andin meneteskan air mata, saat doa itu dilantunkan. Semua doa adalah doa yang baik dan tentunya berharap janinnya sehat, lengkap, sempurna, bahkan jikalau bisa akan berakal cerdas, dan bisa mengamalkan ilmunya kelak.


"Amin ... Debay sehat-sehat di perut Mommy yah. Ketemu Mommy dan Daddy saat usia kamu di balam perut Mommy lengkap yah," ucapnya.


Pun demikian juga dengan Evan, mendengar alunan doa yang mengalun indah membuatnya tersentuh. Di dalam hatinya, Evan juga berharap buah hatinya tumbuh sehat, lengkap, dan sempurna dalam rahim istrinya. Selain itu, Radit pun memohon kekuatan bagi istrinya selama menjalani kehamilan, kiranya Allah lancarkan hingga persalinan nanti.