Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Boy or Girl?


Tidak terasa satu bulan sudah berlalu, usai kehamilan Andin juga kian membesar, kini usia kehamilannya sudah menginjak 5 bulan, itu berarti memang sudah lebih dari separuh jalan untuk melahirkan bayinya nanti. Sekarang, Evan dan Andin akan mengunjungi Dokter Rinta untuk memeriksakan kehamilannya, sekaligus ingin tahu jenis kelamin bayinya. Mengingat satu bulan sebelumnya, mereka pernah menunda, sehingga sekarang mereka ingin tahu apa jenis kelamin bayinya.


"Kok aku yang deg-degan ya Mas ... baby kita cowok atau cowok," ucap Andin dengan mengelusi perutnya sendiri.


Jika sebelumnya Andin merasa tenang, tetapi kini setelah berada di Rumah Sakit, rasanya sekarang Andin justru merasa begitu deg-degan rasanya. Walau sepenuhnya dia tahu bahwa cewek atau cowok sama sekali tidak masalah.


"Tenang saja, Yang ... cewek atau cowok tidak masalah," balas Evan kemudian.


Andin pun menganggukkan kepalanya, "Iya, cowok atau cewek tidak masalah. Cuma sekarang jadi deg-degan, maklum pengalaman pertama," balasnya.


"Iya Sayang ... semua yang serba pertama rasanya mendebarkan. Namun, dijalani saja yah," balas Evan lagi.


Tidak dipungkiri bahwa semua yang terjadi untuk pertama kali memang begitu mendebarkan. Akan tetapi, kita cukup menjalaninya. Justru deg-degan di dalam hati ini akan membuat seseorang harap-harap cemas dan menunggu hasil pemeriksaan nanti cowok atau cewek untuk bayi yang sekarang berada di dalam kandungan Andin.


"Pasien atas nama Nyonya Andin, silakan masuk," panggil seorang perawat kepada Andin.


Andin pun ditimbang terlebih dahulu berat badannya dan juga tekanan darahnya. Setelahnya, mereka dipersilakan masuk untuk menjalani pemeriksaan dengan Dokter Rinta.


"Halo Bu Andin dan Pak Evan ... apa kabar?" sapa Dokter itu dengan ramah.


"Baik Dokter," balas keduanya hampir bersamaan.


Dokter Rinta lantas melihat catatan pemeriksaan Andin sebelumnya, dan mencatatkan sesuatu di sana, "Hampir 22 minggu ya Bu Andin ... sudah lebih dari setengah jalan nih. Kalau usia kehamilan itu kan 40 minggu, dan Bu Andin sudah menjalani 22 minggu, jadi sudah lebih dari setengah jalan. Tekanan darah juga normal, serta kenaikan berat badannya normal yah ... 6 kilogram untuk 22 minggu kehamilan yang dilalui," ucap Dokter Rinta dengan memperhatikan riwayat pemeriksaan sebelumnya.


"Ada keluhan tidak Bu?" tanya Dokter Rinta kemudian.


Andin pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ada Dokter ... saya sehat dan tidur nyenyak juga," balasnya dengan tertawa.


"Syukurlah ... sekarang kita akan melakukan pemeriksaan dengan USG yah. Oh, iya ... kemarin kan tidak jadi untuk melihat jenis kelamin babynya. Kali ini ingin melihat atau tidak?" tanya Dokter Rinta lagi.


Dokter Rinta pun tersenyum dan mulai memberikan USG Gell di permukaan perut Andin, kemudian Dokter Rinta bersiap dengan transducer di tangannya.


"Selamat datang di usia kehamilan 22 minggu ... gerakan janin di usia 22 minggu ini sudah bisa Bu Andin rasakan yah. Mulai terasa tuh kalau bayi sedang menendang-nendang kalau orang bilang. Nah, di usianya sekarang tangan bayi bisa bergerak dengan kandiri. Bayi dapat menyentuh satu tangan dengan tangan yang lainnya, menyilangkan tangan, dan juga menggenggam tali pusar. Di usia 22 minggu ini, janin kira-kira sudah sebesar buah pepaya dengan panjang badan dari kepala hingga ke kaki sekitar 28 centimeter, dan berat badannya sekarang 453 gram, jadi sudah hampir setengah kilogram ya Bu. Wajah bayi juga semakin terlihat jelas. Silakan Bapak dan Ibu lihat, saya akan menunjukkannya di monitor. Ini adalah alisnya, kelopak mata, hitung, dan ini bibirnya. Wajah bayi sudah terbentuk dengan sempurna."


Mendengarkan penjelasan dari Dokter Rinta, Evan dan Andin begitu bahagia. Mendengar bayinya tumbuh sehat dan juga wajahnya sudah terbentuk tentu membahagiakan. Makin tidak sabar rasanya untuk bertemu dengan bayinya nanti.


"Di usia 22 minggu, otak dan saraf janin sudah terbentuk semakin sempurna, sehingga ia bisa mulai merasakan rangsangan sentuhan dirinya sendiri. Si Kecil juga bisa merasakan sentuhan dengan membelai wajahnya atau saat mengisap ibu jari serta merasakan bagian lain dari tubuhnya. Di saat yang sama, indra pendengaran janin juga sudah mulai bekerja. Dengan demikian, bayi bisa mendengar suara-suara yang ada di luar perut ibunya, seperti saat ibu berbicara, bernyanyi, atau membaca. Jadi, untuk melatih indra pendengaran Si Kecil agar berkembang lebih baik lagi, ibu dianjurkan untuk sering mengajaknya berbicara dan bernyanyi untuknya."


"Baik Dokter," jawab Andin.


"Sekarang kita lihat jenis kelaminnya yah ... Bapak dan Ibu pengennya anaknya cowok atau cewek nih?" tanya Dokter Rinta lagi.


"Sedikasihnya saja sih Dokter," balas Evan dan Andin yang juga hampir bersamaan.


"Yakin nih ... tidak pengen cewek atau cowok?" tanya Dokter Rinta lagi.


Andin pun menggelengkan kepalanya, "Cowok atau cewek tidak masalah kok, Dok," balasnya.


"Iya Dokter," balas Andin sekarang.


Kembali Dokter Rinta menekan-nekan transducer di perut Andin, mengarahkannya ke posisi jenis kelamin bayi. Sedikit berputar, sedikit menekan, hingga terlihatlah tampilan di layar monitor yang saat itu juga direkam oleh Evan dengan handphonenya.


"Selamat ya Bapak dan Ibu ... wah, babynya ada Monas nya ya ini. Jadi baby Bapak dan Ibu adalah laki-laki. Selamat," ucap Dokter Rinta.


Evan dan Andin sama-sama tersenyum. Sebab perihal jenis kelamin bayi, Evan dan Andin sama-sama tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Seorang bayi adalah anugerah dari Allah. Oleh karena itu, Evan dan Andin mensyukuri apa pun jenis kelamin bayinya itu.