Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Pertanyaan Penting


Andin setidaknya merasa lega karena bisa mengatakan bahwa dirinya memang takut dengan Evan yang dingin dan irit bicara. Dia pikir, dia akan melihat Evan yang hangat seperti tiap kali Evan bertemu dengan Mama Sara. Akan tetapi, Evan tetap seperti atasannya yang irit berbicara. Tentu karakter Evan yang seperti ini membuat Andin menjadi canggung.


"Mas Evan ... boleh tanya lagi?"


Agaknya masih ada banyak hal yang ingin Andin ketahui mengenai sosok suaminya itu. Sehingga kali ini Andin kembali bertanya kepada Evan.


"Hmm, apa? Tumben hari ini, kamu banyak bertanya, Andin," balas Evan.


"Setelah menikah dan serius, Mas Evan cinta enggak sama aku?" tanya Andin kemudian.


Bagaimana seorang wanita membutuhkan kepastian dan pengakuan cinta dari pasangannya. Andin hanya ingin tahu apakah Evan sekarang sudah cinta dengan dirinya? Dulu, Evan hanya mengatakan ingin serius dan menyegerakan niat baik. Lantas, sekarang niat baik itu sudahkah berubah menjadi cinta.


Evan tersenyum di sana, kemudian dia menepuk sisi sofa yang ada di sisinya. "Sini, duduk sini ... mendekat ke aku," ucap Evan.


Andin pun beringsut dan kemudian duduk mendekat ke dekat Evan. Wanita itu mendekat hingga lengan mereka bersentuhan di sana. Lantas, Andin melirik ke arah suaminya, "Sudah ... kenapa Mas?" tanyanya.


Evan tersenyum tipis di sana dan membawa tangannya untuk merangkul bahu Andin, "Kenapa masih tanya? Bukankah waktu malam pertama kita, aku sudah mengatakan bahwa aku cinta sama kamu. Apakah waktu itu kamu tidak mendengarkannya?" tanya Evan.


Tubuh Andin yang kecil, terlihat begitu kecil dalam rangkulan Evan. Wanita itu kemudian menundukkan wajahnya, dan menatap Evan, "Kalau beneran cinta, jangan terlalu diam sama aku dong. Aku takut dan tegang kalau kamu irit bicara," balas Andin lagi.


Evan menghela nafas, lagi-lagi itu disangkutpautkan dengan karakternya yang pendiam. Mungkin Evan memang mewarisi sifat Papa Belva yang dominan. Sebab, dulu Papa Belva juga pria yang dingin, bahkan terkesan tidak peka. Akan tetapi, pelan-pelan Papa Belva bisa menjadi sosok yang hangat dan terbuka. Semua berubah sejak Papa Belva membesarkan Evan seorang diri, dan mencari keberadaan Mama Sara.


Kendati demikian jika di luar rumah Pak Belva juga sosok yang dingin dan berwibawa. Di rumah, barulah Pak Belva menjadi sosok yang hangat dan juga begitu lembut. Bahkan Papa Belva bersama anak-anaknya juga terlihat begitu sayang. Mungkin memang Evan harus meniru Papanya yang bisa menjadi sosok yang hangat dan lembut kala di rumah. Permintaan logis dari istrinya sendiri.


“Iya-iya, Andin … aku akan berusaha untuk berubah. Tolong bantu aku juga yah,” balas Evan.


Andin dengan cepat menganggukkan kepalanya, “Iya Mas Evan … aku juga akan bantuin kamu sebisa aku. Jangan berubah karena terpaksa juga karena hasilnya tentu tidak baik. Jika ingin berubah, ya lakukanlah dari hati. Aku cuma sebatas menyampaikan uneg-unegku saja,” balas Andin.


Sepenuhnya Andin menyadari bahwa jika seseorang berubah karena keterpaksaan, hasilnya akan buruk. Menganggap berubah karena syarat yang diberikan oleh orang lain atau pasangannya. Padahal, Andin berharap jikalau Evan berubah itu benar-benar tulus dari dalam hatinya.


“Andin, kalau kamu cinta enggak sama aku?” tanya Evan kemudian.


“Hmm, iya … cinta,” balas Andin kemudian.


Evan tersenyum di sana. Tidak mengira juga Andin akan mengatakan semuanya secara gamblang dan jujur. Bahkan Andin bisa langsung mengatakan bahwa dirinya mencintai Evan.


“Terima kasih ya sudah mencintai aku. Dari pembicaraan ini setidaknya aku sadar, memang kita masih perlu sama-sama mengenal dan mengisi satu sama lain. Terima kasih sudah mau menyampaikan keinginanmu. Walau aku tidak yakin bisa berubah secara cepat. Setidaknya aku akan berevolusi menjadi Evan yang lebih hangat,” jawab Evan.


“Sama-sama Mas Evan … iya, tidak apa-apa. Aku juga berterima kasih kamu pria pertama yang berani melangkah ke depan, langsung serius, dan tidak main-main. Walau hubungan kita kesannya dadakan, ku harap rumah tangga kita berdua langgeng dan tidak instans. Banyak waktu yang bisa kita lakukan bersama untuk mengenal satu sama lain dan juga saling mengisi.”


Sekali lagi Evan tersenyum tipis. Hanya bibir saja yang terlihat kala pria itu tersenyum. Namun, Andin sekarang tidak akan mempermasalahkan lagi karena memang begitulah suaminya. Ya, Evan perlu berevolusi untuk menjadi sosok yang baru, dan Andin akan menunggu itu.


“Kalau serius dan menikah kan tidak salah, jika aku memelukmu seperti ini. Kalau cuma pacaran main-main aku tidak mau dan tidak akan berani,” ungkap Evan.


“Tidak berani karena apa Mas?” tanya Andin.


“Karena sejak dulu Mama dan Papa selalu memberitahu kalau serius ya serius. Jangan main-main sama cewek. Pria kan lahir dan tumbuh karena seorang wanita. Jadi hargai wanita. Mungkin karena nasihat itulah aku tidak berani pacaran dan fokus kuliah dan mencapai karir. Jadi, ya officially kamu yang pertama untukku,” balas Evan.


Kali ini Andin benar-benar salut dengan cara Papa Belva dan Mama Sara mendidik anak-anaknya. Tidak mengira bahwa Evan menjadi sosok yang menghargai wanita. Bahkan hati Andin merasa berbunga-bunga karena dia menjadi satu-satunya wanita yang pertama untuknya. Di zaman yang sekarang ini dan mendapati pria yang begitu bersih rasanya tidak mungkin. Akan tetapi, Andin mendapatkannya dalam sosok Evan.


“Kok bisa ya Mas … sampai Mas Evan enggak pacaran gitu,” balas Andin.


“Ya pacaran kalau buat coba-coba ya buat apa. Kata Papa, pacaran itu satu tahap sebelum kamu siap menikah. Jadi yah, kalau belum siap menikah tidak usah pacaran,” jawab Evan.


Andin menganggukkan kepalanya di sana. Begitu setuju dengan ucapan Evan dan didikan Papa Belva. Berapa banyak orang zaman sekarang yang terlarut hanyut dalam hubungan yang tidak jelas karena pacaran yang terlalu jauh. Pacaran sejatinya adalah langkah untuk menuju pernikahan. Sepenuhnya Andin setuju dengan suaminya itu.