
Jujur saja, sikap dan setiap perkataan Evan membuat Andin kian bingung saja. Pria itu berwajah datar, seakan tidak ada ekspresi. Akan tetapi, ucapannya yang ingin serius dengan Andin, justru membuatnya berpikir bahwa ucapan Evan sangat-sangat serius.
“Pak Evan, please dong … kita bekerja kan profesional. Jangan membuat saya bingung,” ucap Andin.
Namun, Evan justru bersikap sebaliknya. Ya, Evan terlihat begitu santai. Hanya saja memang Evan adakalanya mencuri pandang kepada Andin. Sepenuhnya Evan tahu dengan apa yang baru saja Andin ucapkan, tetapi kenapa ada gejolak dari hatinya yang menginginkan untuk benar-benar serius dengan Andin.
“Main-main gimana? Kamu tidak bisa memahami sih, kan saya bilang mau serius. Jadi, gimana?” tanya Evan.
Jika Andin menganggap semuanya hanya main-main, tetapi tidak untuk Evan. Sebab, Evan sangat serius dengan ucapannya. Bahkan Evan juga tidak keberatan jika memang harus melangkah ke jenjang yang lebih serius dengan Anaya.
“Pak Evan, kalau Pak Evan seperti ini terus, lebih baik saya pindah divisi saja. Saya magang itu ingin belajar, mendapatkan pengalaman, dan juga mendapatkan nilai yang bagus. Akan tetapi, justru diginiin sama Bapak,” balas Andin.
Itu adalah ungkapan yang jujur dari Andin. Lagian, mana ada pria yang baru seminggu berkenalan, tidak tahu apa-apa tentang seluk-beluknya, tetapi sudah main mengajak serius saja. Di logika pun juga tidak bisa.
“Silakan saja kalau ingin pindah divisi, ke mana pun kamu pindah, saya tetap bisa membawamu untuk menjadi sekretaris saya lagi,” balas Evan.
“Egois,” balas Andin.
Gadis itu sudah benar-benar sebal dan tidak ingin berdebat lagi dengan atasannya itu. Lebih baik, Andin kembali bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya. Berharap jam pulang kerja akan segera tiba, sehingga Andin bisa segera pulang ke rumah dan terbebas dari jeratan atasannya yang gila menurutnya itu.
Sementara dari ruangannya, Evan hanya tersenyum saja sembari mencuri-curi pandang ke arah Andin. Pemuda itu juga menggelengkan kepalanya, sudah lama dia tidak bersikap jahil dan mencobai gadis seperti ini. Namun, semuanya itu seolah hadir dengan sendirinya saat dia bertemu Andin. Ucapan aneh mulai Evan ucapkan dan rasanya memang ingin benar-benar serius kepada Andin.
Waktu pun terus berjalan, tidak terasa bahwa hanya menyisakan lima belas menit sebelum jam pulang kantor tiba. Rupanya Evan pun keluar dari ruangannya dengan membawa beberapa berkas dan memberikannya kepada Andin.
Mendengar apa yang diperintahkan oleh Evan membuat Andin membelalakkan kedua matanya. Begitu sebal rasanya dengan atasannya itu.
“Pak Evan … sebentar lagi kan waktunya pulang. Apa tidak bisa buat besok saja?” tawar Andin. Setidaknya masih ada waktu esok hari dan Andin akan menyelesaikan esok hari lagi.
Sepanjang hari ini sudah begitu melelahkan bagi Andin, sehingga Andin ingin pulang ke rumah, berbaring di kamar tidurnya. Lagian dalam seminggu ini Andin juga sudah beberapa hari lembur. Masak hari ini dia juga harus lembur lagi sih?
“Kerjakan dulu yah … lembur satu jam aja,” balas Evan.
Agaknya satu jam adalah waktu yang singkat dan mudah bagi Evan. Namun, bagi para pekerja, waktu satu jam itu sangat berharga. Sungguh, sikap Evan yang diktator seperti inilah yang membuat Andin begitu sebal dan kesal kepada Evan.
“Pak Evan, jujur deh … sikap Bapak yang seperti ini yang saya tidak suka. Kenapa sih Pak, kelihatannya bahagia banget nyuruh saya lembur. Saya kan juga pengen pulang, nongkrong bersama teman-teman saya yang lainnya. Semua mahasiswa magang bisa pulang tepat waktu dan beban kerja yang tidak banyak, sementara saya harus berjibaku dengan menginput data yang seakan tidak ada habisnya,” balas Andin.
Gadis itu sudah berkaca-kaca dan begitu sebal dengan Evan. Ya, sore hari teman-temannya yang magang bisa pulang sesuai dengan jam bekerja, nongkrong sembari menikmati kopi. Melakukan evaluasi untuk pekerjaan mereka, tetapi tidak bagi Andin. Sepanjang hari Andin hanya berada satu ruangan dengan atasannya itu. Bagai terpenjara, tetapi bukan di sangkar emas.
“Terserah Pak Evan saja. Saya mau pulang, bekerja terus dengan Pak Evan yang ada justru saya akan menginap di sini sepanjang malam,” balas Andin.
“Terserah kamu saja, Andin … di sini siapa atasannya? Namun, siapa yang justru membuat batasan tersendiri? Sudah selayaknya dan sewajarnya atasan memberikan pekerjaan kepada bawahannya. Namun, kamu justru mengeluh dan tidak ingin lembur. Semua yang bekerja di perusahaan ini harus melakukan kerja sama tim. Bukan hanya mengedepankan ego mereka sendiri. Suatu saat teman-temanmu itu juga akan lembur, ingat itu!” balas Evan.
Ketika waktu pulang bekerja usai, Andin segera merapikan mejanya, dan mematikan personal komputer yang ada di mejanya. Kemudian Andin pun meninggalkan Evan begitu saja. Andin tidak akan mengerjakan berkas yang harus diinput datanya, Andin juga berencana bahwa esok dia akan menemui HRD atau personalia di Agastya Property dan akan meminta supaya dirinya bisa dipindahkan ke divisi lain. Bahkan menjadi office girl pun tidak masalah, asalkan tidak satu ruangan dengan Evander Agastya. Lama-lama bersama Evan Agastya justru membuatnya naik darah dan bagai kerja rodi karena harus lembur, lembur, dan juga lembur.