
Tidak terasa sudah satu pekan mereka berdua membina rumah tangga. Andin juga banyak belajar untuk sekadar menyiapkan sarapan untuk suaminya. Berada di rumah besar berdua bagi pasangan pengantin baru memang cukup membahagiakan. Hanya saja, Andin kali ini ingin berbicara terlebih dahulu dengan suaminya.
"Mas Evan, boleh bicara sebentar?" tanya Andin kepada suaminya itu.
"Hmm, ada apa Nyonya?" tanya Evan yang segera mematikan tabletnya dan sepenuhnya fokus kepada Andin yang duduk di sampingnya.
"Begini, Mas ... kan begitu magang selesai ini, aku kembali ke kampus untuk melanjutkan semester akhir sampai skripsi. Jadi, boleh tidak kalau untuk memiliki anaknya kita tunda dulu," tanya Andin kepada suaminya.
Menurut Andin, dirinya juga masih kuliah, sehingga memang jikalau Evan setuju, Andin akan memilih untuk menunda untuk memiliki momongan sampai dirinya selesai diwisuda nanti. Selain itu, semester akhir yang akan diisi dengan skripsi sudah pasti membuat Andin harus berkuang ekstra untuk menyelesaikan skripsinya. Tidak ingin membuat keputusan sendiri, Andin pun mengajak suaminya itu untuk berdiskusi bersama.
"Lalu, gimana? Kamu mau aku memakai pengaman?" tanya Evan secara langsung.
Andin tampak menundukkan wajahnya. Sebenarnya Andin merasa takut melakukan negosiasi seperti ini dengan Evan. Bagaimana pun wajah Evan yang dingin dan irit bicara, membuat Andin merasa takut. Hanya saja, sekarang kan Evan sudah menjadi suaminya. Lagipula yang Andin diskusikan adalah perihal kehidupan rumah tangganya, sehingga Andin berani untuk mengajak Evan berdiskusi bersama.
"Bukan gitu juga, apa Mas Evan mau pakai pengaman?" tanya Andin masih dengan menundukkan wajahnya.
Evan lantas menghela nafas dan menatap wajah Andin yang berada di sampingnya. "Lalu, bagaimana?"
"Aku yang memakai kontrasepsi saja," balas Andin kemudian.
Evan diam, tetapi kemudian dia ingin bertanya-tanya kontrasepsi apa yang hendak dipakai oleh Andin. Namun, menurut Evan juga lebih baik mereka menunda untuk memiliki anak terlebih dahulu. Menunggu satu semester sampai Andin benar-benar selesai wisuda, tidak masalah untuk Evan. Lagipula, dengan demikian membuat Evan dan Andin memiliki banyak waktu untuk bersama.
"Mau ke Obgyn untuk memasang kontrasepsi?" tanya Evan kemudian.
"Boleh, cuma malu ... aku masih muda banget ke Obgyn itu rasanya gimana deh," balas Andin.
Ya, Andin memang masih berusia 21 tahun. Sehingga untuk mengunjungi Obgyn dan berkonsultasi rasanya juga malu. Mau bertanya, tidak tahu juga harus menanyakan apa.
"Mau ke obgyn bersama Mama?" tanya Evan kemudian.
"Mama Sara?"
"Iya, Mama Sara ... Mama pasti mau kok menemani kamu ke Obgyn. Cuma ya aku anterin, waktu jam makan siang kan bisa," balas Evan.
Andin kemudian menganggukkan kepalanya, "Boleh deh Mas ... Jadi setuju kan untuk menunda terlebih dahulu?" tanya Andin lagi untuk memastikan jawaban dari suaminya.
"Iya, enggak apa-apa. Hanya kalau pengen, pasti boleh kan?" tanya Evan.
Seketika wajah Andin menjadi memerah di sana. Begitu malu mendengar ucapan Evan. Malu juga untuk memberikan jawaban.
"Pengen apa," sahut Andin lirih.
"Pengen kamu lah ... pengen apa lagi," balas Evan dengan wajahnya yang masih datar.
Evan kemudian menganggukkan kepalanya, "Oke baiklah ...."
"Mas ...."
Andin kembali memanggil suaminya itu. Masih ada hal lagi yang ingin dia sampaikan kepada suaminya.
"Hmm, apa?"
"Mas, jangan dingin-dingin dong kalau di rumah. Aku takut loh sama kamu," ucap Andin.
Ini adalah pengakuan yang jujur. Evan yang dingin, tegas, irit berbicara, bahkan pria itu hanya tersenyum tipis membuat Andin kadang kala merasa takut karenanya.
"Lalu, gimana? Aku memang seperti ini. Karakterku memang seperti ini," jawab Evan.
Andin kemudian menggelengkan kepalanya, "Aku pernah melihatmu menjadi pribadi yang hangat kok," balas Andin.
"Hmm, kapan?" tanya Evan.
"Saat bersama Mama Sara ... kamu menjadi sosok yang hangat tiap bersama Mama Sara. Bisa hangat, ramah, dan juga wajah kamu bahagia," ucap Andin.
Evan tersenyum di sana. Memang dirinya yang hangat dan ramah itu hanya dia tunjukkan kepada keluarganya saja. Jika tidak, karakternya akan berubah menjadi sosok yang dingin, datar, dan irit berbicara.
"Aku kan istri kamu, Mas? Apa kamu tidak ingin menjadi sosok yang hangat dan baik saat bersamaku?" tanya Andin.
Bagi Andin, apa pun tujuan mereka menikah. Untuk serius, atau apa pun. Hanya saja, bukankah pasangan bisa saling terbuka dengan pasangannya. Bahkan dengan pasangannya sendiri, mereka bisa menunjukkan sisi-sisi tersembunyi dalam hidupnya. Andin hanya menginginkan Evan yang menunjukkan dirinya sesungguhnya.
"Aku akan mencobanya," balas Evan.
"Kalau terpaksa tidak usah," balas Andin.
Evan menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak terpaksa kok. Cuma aku masih butuh beradaptasi, Andin. Aku siap menikah, cuma untuk terbuka masih butuh waktu. Maaf yah," balas Evan.
Kali ini Evan juga berbicara dengan jujur bahwa dirinya memang sudah siap untuk menikah. Hanya saja untuk terbuka dan menunjukkan jati dirinya, Evan masih butuh waktu. Namun, Evan akan mencobanya. Tentu supaya Andin juga nyaman hidup bersamanya.
"Makasih ya sudah diingatkan ... aku memang hanya bisa terbuka dengan keluargaku. Aku juga merasa dengan orang lain aku menjadi diam dan juga tegas, mungkin bawaan bekerja dan mengkoordinasi banyak pegawai juga. Aku akan berubah pelan-pelan," balas Evan.
Andin kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, pelan-pelan saja," balas Andin.
Evan yang harus mencoba berubah saja sudah begitu baik untuk Andin. Memang keduanya yang hanya pendekatan untuk sesaat dan juga masih perlu waktu untuk beradaptasi. Sehingga memang Andin merasa perlu waktu bagi keduanya untuk bersinergi bersama untuk membina rumah tangga yang masih berusia hitungan hari ini.