
Selang beberapa hari kemudian, kediaman Sukmajaya cukup dikejutkan oleh kedatangan seorang pria. Pria yang sebenarnya kedatangannya tidak diharapkan oleh Papa Miko. Pria yang kadung dinilai sebagai pria yang tidak benar dan memberikan pengaruh buruk untuk putri sulung keluarga Sukmajaya yaitu Arine. Namun, rupanya malam itu pria itu datang dan menyampaikan niatnya untuk bertanggung jawab kepada Arine.
"Saya akan bertanggung jawab atas Arine, Om," ucap pria yang kira-kira berusia 27 tahun itu dengan menatap wajah Papa Miko dan Mama Tika di sana.
Sungguh, walaupun keluarga Sukmajaya begitu bergelimang harta. Akan tetapi, kedatang pria itu benar-benar tidak diharapkan oleh Papa Miko. Lebih baik Arine hamil dan tidak ada yang mendampinginya, daripada pria itu akan datang dan bertanggung jawab kepada Arine.
Lagipula, di mana saja pria itu selama 4 bulan ini? Kenapa baru sekarang, pria itu datang dan mengucapkan ingin bertanggung jawab. Jika, Papa Miko hanya menatap nanar pada pria itu, sementara Arine menunduk. Sungguh, memang dialah pria yang sudah merenggut kehormatannya. Pria yang dia cintai, tetapi pada akhirnya memberikan luka seperti ini.
"Lalu, kemana saja kamu selama 4 bulan ini?" tanya Papa Miko.
"Maafkan saya, Om ... saya masih labil. Saya waktu itu jujur saja belum siap untuk menikah. Akan tetapi, saya sadar bahwa saya sudah melakukan sebuah kesalahan. Jadi, izinkan saya untuk bertanggung jawab atas Arine dan anak saya," ucap pria itu lagi.
Mendengar apa yang diucapkan sang pria, Arine meneteskan air mata di sana. Ya, dia teringat dengan kali pertama dia mendapati dirinya hamil, dan mendatangi pria itu untuk meminta pertanggungan jawab. Akan tetapi, yang didapati Arine hanyalah luka, karena selama 4 bulan ini pria itu justru pergi ke Lombok dan mengembangkan bisnis resort di sana.
Jujur saja seorang Ayah, Papa Miko begitu marah dengan kedatangan pria itu. Bisa-bisanya datang di kala kandungan Arine kian membesar. Yang Papa Miko harapkan adalah pria itu datang lebih cepat, di luar bahwa perusahaannya dengan perusahaan milik Ayah pria itu adalah rivalnya, tetapi kehamilan Arine harus ada yang bertanggung jawab.
"Jadi, bagaimana Arine? Papa serahkan sekarang sama kamu ... maukah kamu menikah dengannya? Dengan pria yang pernah lari dari tanggung jawab?" tanya Papa Miko.
Sengaja Papa Miko menekankan kata lari dari tanggung jawab untuk menjelaskan betapa Papa Miko kecewa dengan perlakuan pria yang bernama Rendra itu.
"Arine tidak bisa memberikan jawabannya sekarang Pa ... Arine sangat kecewa dengan Rendra," ucapnya.
Tidak ingin melihat Rendra lebih lama, Arine memilih untuk berlari ke dalam kamarnya. Di sana Arine menutup pintu dan menguncinya dari dalam dan menangis di ranjangnya.
***
Empat Setengah Bulan yang Lalu ....
Di tengah-tengah break syuting, Arine mendapatkan pesan dari kekasihnya yang sudah dipacarinya selama empat bulan secara diam-diam. Kenapa mereka memilih pacaran diam-diam karena status Arine yang adalah seorang artis dan juga Rendra yang ada seorang pengusaha muda yang begitu sukses.
[To: Arine]
[Rine, ketemuan yah ....]
[Temui aku sebentar ya Rine ...]
Merasa mendapatkan pesan dari kekasih hati, Arine pun memilih untuk segera bergegas ke hotel seperti yang disampaikan Rendra itu. Tidak menunggu lama, gadis itu datang ke hotel dan Arine sengaja mengenakan masker dan juga topi untuk menyembunyikan identitasnya.
Dengan hati-hati, Arine memasuki hotel itu dan menuju ke lantai 8. Kamar nomor 818 menjadi tempat yang Arine datangi sekarang ini. Tangan gadis itu terangkat untuk mengetuk pintu dan kemudian terlihat pemuda tampan berdiri membuka pintu.
"Sayang," sapa pemuda itu dengan membuka pintu lebar dan mempersilakan Arine untuk masuk.
"Hei," sapa Arine dengan menatap kekasihnya itu.
"I am fine, Baby," ucap Rendra yang langsung memeluk Arine di sana.
Pelukan yang hangat seakan menjadi penawar rindu bagi keduanya. Pelukan hangat dan berubah dengan hasrat yang memburu kala kedua bibir bertemu dan saling memagut, saling mencecap di sana. Hingga decakan demi decakan pun mengiring pertemuan dua bibir itu.
Ciuman yang kian memburu, hingga membuat Rendra dan Arine langsung untuk mencicipi hasrat terlarang yang memercik di antara keduanya. Tidak menunggu lama, busana keduanya saling terlepas, saling memberi dan saling memuaskan satu sama lain.
Hingga terkoyaklah sudah selaput tirai yang ada di sana, disertai dengan percikan darah yang menjadi tanda hilang sudah mahkota Arine. Namun, berucapkan cinta dan tanggung jawab, Arine yakin bahwa Rendra akan bertanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.
Namun, usai satu bulan kemudian, ketika Arine mengatakan bahwa dirinya hamil, Rendra justru mengelaknya dan Rendra nyatanya justru memilih untuk pergi ke Lombok. Pria itu benar-benar menutup akses komunikasi dengan Arine.
***
Sekarang ....
Tangisan Arine bukan untuk kedatangan Rendra. Akan tetapi, untuk meratapi bulan-bulan yang lalu di mana dia mengabarkan kehamilannya dan Rendra menghiraukannya.
Sampai terjadi pernikahan kontrak dengan Evan Agastya. Namun, untuk sesaat Arine sempat merasakan begitu maruk dan ingin merebut Evan Agastya dari sisi Andin. Namun, ada sesuatu yang membuat Arine tersadar, dengan merebut Evan, dia akan menghancurkan dua orang sekaligus yaitu Evan dan juga Andin. Oleh karena itulah, Arine memilih membatalkan pernikahan kontraknya dengan Evan.
"Sekarang ... kenapa kamu datang Ren? Di saat aku sudah tidak mengharapkanmu. Kenapa kamu datang dan ingin tanggung jawab?"