Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Kasih Ibu Sepanjang Masa


"Mama, di manakah Mama Rosa dimakamkan? Bolehkah Andin mengunjunginya?" tanya Andin pada akhirnya kepada Mama Tika.


Sedari kecil memang Andin tidak tahu, bahkan baru sekarang Andin mengetahui bahwa dia adalah anak dari wanita lain yang sekarang telah tiada. Rasanya, untuk kali pertama Andin pun ingin mengunjungi pusara Mamanya. Sekadar mengunjungi dan menabur bunga di atas pusara itu.


"Kamu ingin ke sana?" tanya Mama Tika kemudian.


"Iya Ma ... baru sekarang Andin tahu siapa Andin ini. Jadi, bolehkah Andin ke pusara Mama Rosa?" tanyanya lagi.


Mama Tika pun menganggukkan kepalanya, "Tentu ... boleh saja. Mama kamu disemayamkan di Memorial Park. Letaknya jauh dari pusat kota. Ajaklah Evan ke sana," ucap Mama Tika.


Sebenarnya Mama Tika juga merasa khawatir jika Andin menyetir sendiri untuk jarak tempuh yang begitu jauh. Sehingga Mama Tika menyarankan agar Andin mengajak Evan saja.


 "Iya Ma ... akhir pekan nanti saja bersama Mas Evan kok, Ma," balas Andin.


Mama Tika pun menganggukkan kepalanya, "Iya Andin, nanti bolehkah Mama ikut?" tanya Mama Tika kemudian.


Andin merasa terkejut, tidak mengira bahwa Mama Tika hendak turut serta ke memorial park. Rasanya, Andin melihat seorang Ibu yang benar-benar tulus, bahwa memaafkan masa lalu dalam diri Mama Tika.


"Mama benar-benar tidak menaruh dendam kepada Mama Rosa?" tanya Andin lagi.


"Tidak Andin ... tidak baik menaruh dendam kepada mereka yang telah tiada. Ikhlaskan semuanya, Allah akan menggantikan semuanya dengan kebahagiaan yang sejati. Lagipula, Mama juga sayang kepada kamu tulus Andin. Kamu adalah putri Mama," balas Mama Tika.


Andin merasakan tertegun. Ini adalah bukti nyata kasih seorang Ibu yang sepanjang masa untuk dirinya. Hanya memberi dan tak harap kembali, itu adalah kasih nyata seorang Mama Tika kepadanya. Rasanya Andin benar-benar terharu.


"Terima kasih banyak Mama ... Mama benar-benar sayang kepada Andin dengan tulus," ucapnya.


"Sama-sama Nak ... selamanya kamu adalah anak Mama," balasnya.


Ketika Akhir Pekan Tiba ….


Evan bersama Andin dan juga Mama Tika kini menuju ke luar Jakarta, tempat yang mereka tuju sekarang adalah memorial park, tempat di mana Mama Rosa disemayamkan. Di kompleks pemakaman elite itulah, raga mendiang Mama Rosa disemayamkan untuk selamanya. Mama Tika sendiri jugalah yang mengantar Andin untuk kali pertama menyambangi pusara Mama kandungnya. Tidak lupa mereka membawa bunga tabur dan juga air mawar.


“Ini Andin … ini adalah pusara Mama kandung kamu, Rosalia,” ucap Mama Tika.


Ketiganya pun berjongkok di samping pusara itu, di sebuah nisan berwarna hitam tertulis sebuah nama Rosalia Rahayu. Walau tidak sempat mengenalnya, tetapi berada di sana membuat Andin merasakan air matanya menetes begitu saja. Tangannya bergerak dan mengusap nisan itu.


“Kita kirim doa untuk Mama Rosa yah,” ajak Evan kali ini.


Ketiganya pun menangkupkan tangannya, berdoa di dalam hati dan memohon maaf untuk dosa dan kesalahan yang pernah almarhumah lakukan. Baik Mama Tika dan Andin pun sama-sama meneteskan air matanya. Suasana begitu hening, hanya terdengar angin gemerisik, dan isakan tangis yang lirih dari Andin dan Mama Tika di sana.


“Mama sudah tenang, Sayang,” ucap Evan menenangkan hati istrinya itu.


Andin pun menganggukkan kepalanya, “Iya … sayang sekali aku tidak pernah mengenalnya,” balasnya.


“Dia adalah wanita yang ceria, pintar, dan selalu bersemangat, Andin … sama seperti kamu. Rosa, lihatlah … dia adalah Andin, putri kamu. Dia tumbuh menjadi anak yang cantik, pintar, dan juga taat sama seperti nama Andini yang kamu sematkan untuknya. Aku sudah membesarkannya dengan tanganku sendiri, Rosa. Kamu tidak perlu khawatir karena aku akan selalu menyayanginya dan selalu memberinya kasih sayang dan tidak pernah mengharapkan untuk kembali. Kamu bisa tenang di sana, Rosa. Andin tumbuh dengan begitu baik,” ucap Mama Tika dengan merangkul Andin.


“Mama,” sahut Andin lirih.


Mama Tika pun menganggukkan kepalanya, “Iya Ndin … jangan ragukan kasih sayang Mama untuk kamu yah. Selamanya, sampai Mama menutup mata, Mama akan selalu sayang kamu,” balas Mama Tika.


Evan yang menatap Andin dan Mama Tika pun hanya bisa diam, ya pria itu memilih memberi waktu kepada Andin dan Mama Tika untuk meluapkan emosi yang merasa rasakan sekarang ini. Memberi waktu untuk memproses perasaan dan momen yang mereka rasakan berdua. Akan tetapi, di dalam hati Evan merasa bahwa Andin sangat bersyukur memiliki Mama Tika yang sangat menyayanginya. Walau Andin tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Papanya sendiri, tetapi Mama Tika memberikan kasih sayang yang berlipat-lipat banyaknya.