Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Hari Terakhir Menjadi Sekretaris


Tidak terasa satu bulan sudah berlalu, hari ini pun seluruh mahasiswa magang yang berada di Agastya Properti akan dilepas dan kembali ke kampus untuk melanjutkan pembelajaran di kampus dan bersiap dengan skripsi yang akan mulai mereka kerjakan.


Begitu juga dengan Andin di mana hari ini akan menjadi hari di mana dia akan terakhir magang di perusahaan suaminya. Tidak menyangka dari perjumpaan yang begitu membuatnya sebal, justru membuatnya kini bersanding dengan putra CEO, pemilik Agastya Properti yaitu Evander Agastya. Jika Andin terlihat biasa saja, hal berbeda justru diperlihatkan oleh Evan. Ya, Evan justru terlihat sedih walau memang pria itu tidak mengungkapkannya.


"Andin, bisa ke ruangan saya sebentar?"


Evan memanggil dengan interkom. Keduanya memang sepakat jika berada di perusahaan akan bersikap formal dan bekerja dengan profesional. Melupakan sejenak ikatan di antara mereka berdua sebagai suami dan istri.


"Baik Pak," balas Andin dan kemudian dia masuk ke dalam ruangan suaminya itu.


Andin pun mengetuk pintu dan kemudian masuk menghadap atasan sekaligus suaminya itu.


"Ada yang perlu dibantu?" tanya Andin.


Evan menggelengkan kepalanya sejenak, "Tidak ... ini hari terakhir kamu magang yah? Besok kamu akan kembali ke kampus yah? Aku akan kehilangan kamu Andin," ucap Evan.


Rasanya aneh. Sudah enam bulan bersama, mengerjakan tugas bersama, berdiskusi perihal jadwal dan pekerjaan Evan yang padat dan akhirnya ini menjadi hari terakhir Andin untuk magang. Rasanya Evan merasa tidak rela jika Andin tidak lagi bekerja bersamanya.


"Iya, besok sudah harus kembali ke kampus," balas Andin.


Evan menghela nafasnya, kemudian menatap Andin. "Pasti berat menjalani hari-hari di kantor tanpa ada kamu," balasnya.


Andin yang mendengarkan ucapan suaminya pun tersenyum, "Kan di rumah kita masih bertemu ... jadi, kita bertemu di rumah ya Pak Evan," balasnya.


Evan kemudian berdiri dari tempat duduknya. Pria tampan itu kemudian melangkahkan kakinya menuju Andin dan segera memeluk istrinya itu. "Aku bakalan merindukanmu. Apa aku bisa bekerja di sini tanpamu," ucap Evan.


Andin justru tertawa, "Pasti bisa. Kamu adalah seseorang yang keren dan juga kompeten. Kamu bisa melakukan semuanya sendiri, Mas. Kamu sangat bisa, walau tidak ada aku," balas Andin.


Evan kemudian mengurai pelukannya dan menatap Andin, "Baiklah ... aku yang sedih, kamu kelihatan biasa saja," balas Evan.


"Kan hanya berpisah selama bekerja. Kamu bekerja, dan aku kuliah. Tidak akan lama. Jadi, tidak apa-apa. Begitu di rumah, kita sudah berdua terus," balasnya.


Evan kemudian menganggukkan kepalanya, "Baiklah ... besok kembali ke kampus, aku antar yah ... dan malam nanti, kita nikmati berdua yah," bisik Evan di telinga Andin.


"Kamu bisa saja sih Mas," balas Andin.


Andin dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak ... jangan. Perusahaan ini dibangun dan dibesarkan Papa Belva dengan dedikasi tinggi. Aku yakin Mama dan Papa juga tidak akan pernah melakukan hal demikian di kantor ini. Jadi, jangan," balas Andin kemudian.


Evan kemudian tersenyum, "Benar ... Mama dan Papa tidak pernah melakukan yang aneh-aneh. Mereka panutanku dan Elkan," balas Evan.


"Nah, maka dari itu gunakan kantor untuk bekerja, jangan buat aneh-aneh. Oke Mas?"


"Iya ... baiklah. Kerjakan semuanya sampai selesai yah ... jangan lupa buat satu folder khusus untuk pekerjaan kamu selama enam bulan ini supaya terlihat apa saja yang sudah kamu kerjakan. Walau aku suami kamu, aku akan memberikan penilaian secara adil," balas Evan.


Andin pun menganggukkan kepalanya, "Siap Mr. Vice President. Siap dikerjakan," balas Andin.


Menghabiskan sisa hari, Andin benar-benar mengerjakan semuanya sampai benar-benar selesai. Folder khusus untuk seluruh pekerjaannya sudah dia buat juga. Berharap nanti nilai magangnya juga akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Dari tempat duduknya, Andin menatap ke suaminya yang sedang serius bekerja.


"Duduk dari sini, sambil menyelesaikan semuanya, ada kalanya aku menatapmu dari sini, Mas Evan ... kamu terlihat tampan dan seksi ketika serius bekerja seperti itu. Beruntungnya aku yang menjadi istri kamu. Aku cinta kamu, Mas Evan."


Andin yang usai bergumam dalam hati, memilih untuk menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat dan kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sebelum hari menuju sore dan jam bekerja usai, lebih baik jika Andin bisa menyelesaikan semuanya.


Tidak terasa, waktunya untuk pulang kerja. Andin merapikan meja kerjanya. Lantas dia mengisi presensi untuk hari terakhir bekerja di Agastya Properti. Andin juga meraba perlahan papan ketik dan fotonya dengan Evan yang sengaja dia pasang di meja kerjanya.


"Kamu sudah menyelesaikan semuanya dengan baik Andin ... saatnya kembali ke kampus dan menyelesaikan kuliahmu. Semangat!"


Terlihat Andin mengepalkan tangannya dan menyemangati dirinya. Dari jauh Evan tersenyum melihat istrinya itu. Hingga akhirnya, Evan keluar dari ruangannya.


"Sudah selesai semuanya?" tanya Evan.


"Iya, sudah Pak Evan," balas Andin.


Evan tersenyum, tangan terulur dan memberikan usapan di puncak kepala Andin, "Terima kasih sudah bekerja dengan baik. Kamu sekretarisku terhebat. Makasih banyak yah," ucap Evan.


Andin pun tersenyum dan menitikkan air matanya. Tetap saja rasanya terharu dan dia hingga menitikkan air matanya. Tidak dipungkiri jika berawal dari sebel, tetapi Evan banyak membantunya terkait pekerjaan, bahkan Evan juga menunjukkan Etos Kerja yang benar-benar baik sebagai seorang Wakil Direktur Utama.


"Sudah lulus ... kerja kamu hebat, Andin."


Evan mengatakan itu juga dari dalam hatinya. Bangga karena Andin bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Berawal dari saling adu mulut, tidak cocok dalam bekerja, hingga akhirnya keduanya bisa hidup bersama.