Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Keceriaan yang Hilang


Tidak dipungkiri bahwa apa yang baru saja Andin alami membuat perasaannya merasa begitu buruk. Tidak disayangi dan tidak diinginkan oleh Papanya sendiri membuat Andin merasa tidak berharga. Akan tetapi, Tuhan masih begitu baik kepadanya dengan menempatkan Evan sebagai pasangan hidupnya.


“Kamu jauh lebih beruntung dariku, Mas … kamu memiliki orang tua yang sangat menyayangi kamu. Mama Sara dan Papa Belva adalah contoh kedua orang tua yang baik. Orang tua yang selalu menyayangi anak berdasarkan kebutuhannya, tetapi aku … hanya ditolak dan tidak diharapkan oleh Papaku sendiri,” ucap Andin pada akhirnya.


Evan pun memeluk istrinya itu, “Jalan hidup satu manusia dengan yang lainnya itu sudah Tuhan tetapkan, Sayang … mungkin kali ini kamu menginginkan hal lain, tetapi Tuhan sudah memberikan sesuatu yang jauh lebih indah dari kamu. Jadi, syukuri apa yang ada padamu sekarang ini, lagipula Mama Sara dan Papa Belva sekarang juga sudah menjadi Mama dan Papa kamu,” balas Evan.


Andin pun menganggukkan kepalanya, “Kamu dewasa Mas … terima kasih. Aku mungkin masih kekanak-kanakan, tetapi aku mendapatkan kamu juga merupakan sesuatu yang berharga dalam hidupku,” balasnya.


Evan pun menganggukkan kepalanya, “Jadi … buku apa yang sebenarnya kamu butuhkan? Hari Sabtu nanti aku antar ke Toko Buku, kita beli saja semua buku yang kamu miliki,” ucap Evan.


Andin kemudian tersenyum tipis, “Kalau hari Sabtu, waktuku akan habis, Mas … aku cuma diberi waktu satu minggu untuk melakukan revisi. Besok saja aku akan pulang ke rumah Mama sendiri, di siang hari kan tidak ada Papa. Aku akan mengambil bukuku,” balas Andin.


“Perlu aku antar?” tanya Evan kemudian.


Andin menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku bawa mobil sendiri saja. Tidak akan lama kok,” balasnya.


Evan pun menghela nafas panjang dan menatap istrinya itu, “Kalau ada apa-apa, beritahu aku. Kamu tahu kan, aku tidak akan membiarkan kamu menangis dan bersedih seorang diri,” ucap Evan.


“Iya Mas … pasti,” jawab Andin.


***


Keesokan harinya ….


Usai makan siang, Andin bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Kali ini tanpa diantar oleh Evan. Andin lebih memilih untuk membawa mobilnya sendirian. Walau Evan sudah memaksa untuk mengantarkannya, tetapi Andin pun lebih memilih pergi sendiri, katanya hanya sebentar. Sebelum berangkat, Andin tidak lupa untuk mengabari suaminya terlebih dahulu. Sebab, Andin juga tidak ingin suaminya itu khawatir karena dirinya.


Berkendara kurang lebih 40 menit, dan sekarang Andin sudah tiba di kediaman Mamanya. Wanita itu mengetuk pintu rumahnya, walau hatinya murung dan sedih, tetapi Andin berusaha untuk menyimpan semuanya seorang diri dan tidak menunjukkan kepada Mamanya.


“Mama,” sapanya begitu melihat Mama Tika membukakan pintu.


“Ndin … sama siapa? Sini masuk,” balas Mama Tika.


“Sendirian kok, Ma.”


“Tumben … siang-siang kemari. Kamu dan Evan sehat?” tanya Mama Tika lagi.


“Sehat, Ma … Andin dan Mas Evan baik dan sehat. Andin pulang ingin mengambil buku kuliah, Ma,” ucapnya.


Sejenak Andin tertegun. Wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya sekarang ini rupanya bukan adalah wanita kandungnya. Akan tetapi, kenapa Andin justru merasa bahwa Mama Tika adalah sosok wanita yang baik. Wanita yang menyayanginya dengan tulus, perlindungannya ketika Papanya marah dan juga sering memperlakukannya dengan tidak adil.


“Apa kamu sakit, Ndin? Wajah kamu sembab begitu,” tanya Mama Tika lagi.


Andin pun dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak Ma … Andin sehat kok. Cuma agak pusing karena Andin sudah mulai skripsi. Andin harus lulus cepat-cepat karena kami berdua juga ingin memiliki baby,” jawabnya.


Hanya saja, naluri seorang Ibu tidak bisa dibohongi. Bagi Mama Tika, keceriaan yang biasa dimiliki dan ditunjukkan putrinya itu hilang. Wajah Andin terlihat sembab dan ada kantung mata di wajahnya.


Andin pun segera masuk ke dalam kamarnya, dan segera mengambil buku-buku yang dia butuhkan. Tidak lupa dia mencari catatan kuliahnya sewaktu diajar Bu Arsyilla dulu dan juga mencari buku Ekologi Pembangunan miliknya. Semoga dengan buku-buku itu, revisi skripsi bisa dia kerjakan dengan secepat mungkin dan tentunya maksimal.


Di dalam kamarnya, Andin mengamati sekeliling ruangan itu yang tidak berubah. Semuanya masih berada di tempatnya. Hingga mata Andin menatap ke foto keluarga mereka yang ada di meja belajar. Andin mengangkat pigura foto itu dan mengusapnya perlahan.


“Sama seperti perasaanku dulu … foto keluarga ini indah dan berwarna, tetapi tidak secara nyata. Dalam kenyataannya yang ada adalah orang tua yang membeda-bedakan dalam mengasihi dan menyayangi anak. Juga, aku bahkan hanya anak yang diasuh dan dibesarkan oleh Mama Tika,” gumam Andin dengan lirih.


Tak kuasa menahan sedih, air mata pun lolos begitu saja dari sudut mata Andin. Ada rasa sakit karena selama ini juga tidak pernah ada yang menceritakan tentang siapa Ibunya, bagaimana sosok Ibunya itu, dan juga semua hal tentang ibunya, mendiang Rosa.


Bahkan sampai Andin dewasa, tak pernah Andin lihat foto Ibu kandungnya sendiri. Andin buru-buru menyeka air matanya, ketika Mama Tika menyusulnya untuk masuk ke dalam kamar.


“Sudah bukunya?” tanya Mama Tika.


“Iya sudah Ma … Andin baru mencari buku kok,” balasnya dengan berusaha tenang.


Mama Tika yang berdiri di belakang Andin pun segera menepuk bahu putrinya itu, “Kamu kenapa, Mama perhatikan kamu kok murung. Walau kamu bilang sibuk skripsi, tidak mungkin keceriaan kamu hilang seperti ini. Kamu adalah anak Mama, Ndin … Mama sangat mengenal anak-anaknya. Tidak mungkin kan kamu bertengkar dengan Evan?” tanya Mama Tika sekarang ini.


Andin pun menggelengkan kepalanya, “Tidak, Andin dan Mas Evan rukun kok, Ma … kami tidak pernah bertengkar,” jawabnya.


“Lalu, ada apa?” tanya Mama Tika lagi. “Ceritakan kepada Mama, Ndin … Mama itu adalah Mama kamu, jadi perasaan seorang Ibu itu tidak bisa dibohongi.”


Andin tertegun, bagaimana Mama Tika tahu bahwa sebenarnya ada sesuatu yang Andin sembunyikan. Andin memang sejak kecil lebih dekat dengan Mama Tika. Bahkan di usia remaja, juga Andin sangat dekat dengan Mama Tika, terlebih ketika Arine mulai menjadi Aktris dan banyak menghabiskan waktu di lokasi syuting. Kedekatan itulah yang membuat Andin banyak bercerita kepada Mama Tika.


“Tidak ada apa-apa kok Ma,” balas Andin.


Mama Tika pun menghela nafas di sana, “Aneh rasanya Ndin … dulu kamu selalu bercerita banyak hal kepada Mama, dan sekarang kamu banyak diam seperti ini. Mungkinkah kamu sudah berubah seperti suami kamu yang lebih banyak diam dan menyimpan sesuatu sendiri?” tanya Mama Tika lagi.


Kedekatan yang lama dan kasih sayang yang sudah terjaga puluhan tahun lamanya membuat Mama Tika merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Andin. Biasanya, Andin begitu ceria dan bisa mengutarakan isi hatinya. Akan tetapi, sekarang Andin seolah menahan sesuatu dan tidak terbuka dengan Mama Tika. Ada perasaan yang tidak enak di dalam hati Mama Tika sekarang, dan dia berharap bahwa Andin bisa terbuka kepadanya.