
Evan sangat tahu bahwa Andin membutuhkan waktu untuk pulih. Mungkin senyuman di wajah istrinya itu tak memudar, tetapi isi hati seseorang tidak ada yang tahu. Untuk itu, Evan berniat mengajak istrinya itu sejenak melupakan semua yang telah terjadi.
Kali ini, Evan mengajak Andin menuju ke Bogor. Ke Villa keluarga Agastya yang berdiri dengan megah di sana. Menikmati suasana kota hujan dan juga menepi sejenak dari riuhnya kegiatan di Ibukota. Sebenarnya Andin menolak, tetapi Evan tetap mengajak istrinya itu untuk liburan tipis-tipis.
"Repot-repot banget sih Mas … padahal di rumah kita aja gak apa-apa," ucapnya kali ini kepada suaminya yang masih mengemudikan mobilnya menuju Bogor.
"Liburan sebentar, Sayang. Dua malam aja kok," balas Evan dengan tersenyum tipis kepada istrinya itu.
Pun demikian Andin pun juga tahu bahwa ini memang sudah direncanakan Evan sebelumnya. Andin sangat tahu dalam sepekan ini, banyak kenangan pahit di masa lalu yang akhirnya terungkap. Dalam sepekan ini, senyuman di wajah Andin terkesan hanya sekadar formalitas belaka. Kini, Evan ingin memulihkan keadaan Andin bagi secara fisik dan juga psikis.
"Papa dan Mama punya villa di sana ya Mas?" tanya Andin kemudian.
"Punya Papa, Sayang … di Villa ini dulu, Mama dan Papa bertemu lagi dan menikah di sini. Aku waktu itu berusia 4 tahun," cerita Evan kepada istrinya.
Berdasarkan cerita yang pernah Evan dengar dan foto yang terpasang di dinding rumah mereka bahwa Mama Sara dan Papa Belva baru kembali bertemu ketika usianya 4 tahun di Bogor. Pertemuan tak disengaja yang akhirnya mempersatukan dua insan yang saling mencintai, tapi sama-sama tak bisa mengungkapkan. Pertemuan kedua yang mengikat Mama Sara dan Papa Belva dalam kehidupan pernikahan yang sudah berlangsung lebih dari 25 tahun sekarang.
"Jadi, dulu menikah terus berpisah. Kemudian bertemu lagi, dan memutuskan nikah lagi ya Mas?" tanya Andin.
Evan pun menganggukkan kepalanya, "Iya, karena Mama Sara tidak ingin merusak hubungan Papaku dengan mendiang Mama Anin. Dia menyerahkan aku kepada mendiang Mama Anin. Hanya saja, Mama Anin hanya mengasuhku sampai usia 2 tahun saja, setelahnya beliau meninggal dunia. Papa hidup sendiri membesarkan aku selama 2 tahun, hingga akhirnya bertemu dengan Mama Sara lagi," cerita Evan kepada Andin.
Dari sini Andin tahu bahwa kisah keluarga mereka berdua pelik. Hanya saja, keluarga Agastya bisa menemukan kebahagiaan bersama. Keluarga Agastya bisa saling bergandengan tangan dan mengisi hari-hari penuh dengan cinta. Sementara keluarga Sukmajaya yang ada justru kian terpecah satu sama lain.
"Kisah asmara Papa dan Mama juga panjang dan berliku ya Mas," sahut Andin pada akhirnya.
"Iya Sayang ... tetapi setelah bersama, semua masalah bisa dihadapi Papa dan Mama bersama-sama. Keduanya bisa saling bergandengan tangan sampai tua," balas Evan.
"Semoga kita bisa terus bergandengan tangan juga sampai tua ya Mas," balas Andin dengan menaikan harapan di dalam hatinya.
"Iya Sayang ... amin," balasnya.
Hingga beberapa waktu berlalu, kini sampailah Evan dan juga Andin di villa mewah yang terletak di Bogor, Jawa Barat. Udara dingin yang menyapa, awan kabut yang seakan turun, pohon pinus yang mengelilingi villa itu benar-benar sangat indah. Di sana, Evan disambut oleh penjaga Villa yang sudah mengabdikan dirinya untuk menjaga villa itu sekian tahun lamanya.
"Den Evan," sapa Pak Ujang yang menjaga Villa.
"Sehat, Den ... silakan sudah dibersihkan semuanya. Nyonya dan Tuan apa kabar?" tanya Pak Ujang lagi.
"Sehat juga Pak ... Mama dan Papa juga sehat," balasnya.
Kemudian Evan mengajak Andin untuk memasuki villa itu, memasuki kamar yang biasa dia gunakan sewaktu kecil dulu. Membuka jendelanya dan membiarkan angin dari perbuktian masuk dan menyapa mereka berdua.
"Ini kamarku waktu kecil dulu. Dulu, Coffee Bay pertama kali dibuka di Bogor, dan aku bersama Papa sering ke sini. Di belakang Villa ini ada rumah Tanteku, besok kita akan datang dan menyapa mereka," cerita Evan kepada istrinya.
"Iya Mas ... rasanya indah banget ... anginnya sejuk banget," ucap Andin dengan menghirup angin yang terasa begitu segar itu.
Rasanya sekarang Andin begitu suka dan nyaman berada di villa keluarga Agastya ini. Rasanya seolah beban yang ada di pundaknya hilang. Wanita itu pun segera mendekat dan memeluk suaminya, dengan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, "Makasih banyak yah sudah membawaku ke Villa ini. Pasti kamu kepikiran sama aku ya Mas?" tanya Andin lagi.
Evan pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... semua itu karena aku melihat senyuman yang redup di kedua matamu. Keceriaan seorang Andin yang hilang. Andin, aku ingin berbicara kepadamu. Walaupun banyak kepahitan di masa lalu, bagilah denganku. Di masa kini, kamu memiliki aku. Kita akan bergandengan tangan dan melalui semuanya bersama-sama bukan?"
Mendengar apa yang baru saja Evan sampaikan, Andin pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... makasih banyak Mas Evan ... makasih kamu memahami aku banget. Makasih untuk liburan ini. Rasanya aku begitu nyaman ada di sini. Perbukitan hijau, pohon pinus, bahkan kicauan burung-burung begitu indah. Hatiku damai di sini, dan semua beban yang menimpa hidupku hilang. Makasih banyak," balas Andin.
Evan pun merasa lega mendengar pengakuan dari istrinya itu. Perjuangannya mengajak Andin liburan ke Bogor tidak sia-sia. Semoga saja Andin benar-benar pulih dan menemukan kebahagiaannya kembali.
"Yang terjadi di masa lalu biarkan saja. Ingat, tanpa masa lalu, tidak pernah ada masa kini. Jadi semuanya menjadi kotak memori yang indah dalam hidup kita. Di masa kini dan masa yang akan datang banyak momen yang akan kita lalui bersama," balas Evan.
Andin pun menganggukkan kepalanya, "Mas, boleh enggak aku lepas KB? Aku rasanya pengen punya baby deh," balas Andin dengan tiba-tiba.
Evan pun tersenyum di sana, "Tentu boleh ... begitu di Jakarta, kita lepas kontrasepsi yah?"
"Iya," jawab Andin dengan singkat.
"Skripsi kamu bagaimana kalau kamu hamil nanti?" tanya Evan kemudian.
"Aman ... aku pasti bisa," balasnya dengan terlihat begitu bersemangat.
Evan pun memeluk Andin di sana, jika ini adalah kebahagiaan, maka biarkanlah kebahagiaan ini akan bisa mereka rasakan bersama. Menenangkan diri dan hati sejenak, mendekat dengan alam, dan juga meresapi semua hal yang sudah terjadi pada diri keduanya.