
Evan yang uring-uringan rupanya membuat pria itu di dalam kantor juga tampak cemberut. Siang itu, Ravendra yang datang ke ruangan bosnya itu pun tertawa ketika melihat Evan yang tampak begitu cemberut dan juga terlihat tidak bersemangat sama sekali. Sehingga Ravendra pun berinisiatif untuk mengajak Evan berbicara.
“Kusut banget, Bos?” tanyanya.
Tidak langsung menjawab, Evan justru mende-sah dengan helaan nafas yang terdengar begitu berat. Melihat reaksi Evan, nyatanya Ravendra justru semakin tertawa.
"Pusing, Bro," keluh Evan sekarang ini.
"Kenapa emangnya?" tanya Ravendra lagi.
"Apa iya, cewek itu gak peka yah?" tanya Evan.
Bukan menjawab, Ravendra justru kembali tertawa, "Cowok pun kadang bisa menjadi manusia yang tidak peka kok, Bos. Optional sih," balasnya.
Evan pun menggelengkan kepalanya sejenak, "Pusing Bro ... biasa sih ada yang baru tidak peka di rumah," balas Evan.
"Dikomunikasikan baik-baik, Bos ... kadang kalau hanya mengirimkan kode itu, orang menjadi tidak paham. Dikomunikasikan dengan baik-baik," balasnya.
Evan pun menatap teman dan sekaligus karyawannya itu, "Kamu sendiri bagaimana?" tanyanya.
"Bagaimana gimana Bos? Saya mah, belum nikah. Ya, enggak gimana-gimana," balas Ravendra.
Evan pun baru tahu jika memang temannya itu belum menikah, tetapi agaknya saran yang diberikan Ravendra itu bagus. Memang perlu dikomunikasikan dengan baik-baik. Jika kode yang sudah dikirim, tidak direspons, tentu harus mencari cara lain.
"Jadi nikah kan?" tanya Evan kemudian.
"Jadi dong ... dua pekan lagi. Cuma enggak cuti bulan madu kok, Bos. Bos saja tidak cuti bulan madu, masak saya mau cuti," goda Ravendra.
Evan pun tertawa di sana, "Lancar yah sampai hari H nanti. Kamu butuh apa yang bisa aku bantu?" tanya Evan kemudian.
"Aman Bos ... sudah semua kok. Nunggu mempelai wanita aja di hari H nanti," balas Ravendra.
Evan kemudian kembali menatap Ravendra di sana, "Gimana biar bisa peka yah?"
Usai mendengarkan penjelasan Ravendra, sore nanti Evan akan berusaha untuk berkomunikasi dengan baik kepada Andin. Namun, jika sudah menjelaskan semuanya, dan Andin masih menolak ya sudah ... apa boleh buat.
"Makasih Bro ... mungkin aku harus jelaskan semuanya kepadanya," balas Evan.
"Sama-sama Bos ... oh, iya ... sudah ketemu Aksara?" tanyanya.
"Iya sudah ... minggu ini akan dikirim blueprint-nya kok. Ya ampun, ternyata istrinya Pak Aksara itu Dosennya Andin. Dunia begitu sempit yah," balas Evan.
Ravendra pun tersenyum di sana, "Dia dulu mantan saya, Bos," balasnya.
Kali ini Evan justru yang tertawa, "Kalau enggak jodoh mau gimana ya Bro ... ikhlaskan, dia bahagia bersama Aksara," balasnya.
Walau tidak begitu mengenal Aksara dan istrinya, tetapi Evan bisa melihat bahwa Arsyilla terlihat bahagia bersama Aksara. Oleh karena itu, dia meminta kepada Ravendra untuk bisa mengikhlaskannya.
"Sudah ikhlas sejak lama, Bos ... mengingini apa yang bukan menjadi milik kita kan buruk. Mengikhlaskan lebih baik," balas Ravendra.
"Good ... itu baru temen gue," balas Evan dengan tiba-tiba.
Rasanya Evan juga bangga karena Ravendra memang sudah mengikhlaskan. Sepenuhnya Evan juga setuju bahwa mengingini apa yang bukan menjadi milik kita adalah sesuatu yang tidak benar. Ikhlas adalah tindakan yang jauh lebih baik.
"Ya sudah Bos ... semangat yah. Kalau sudah dibicarakan baik-baik dan tidak peka juga, langsung serang aja Bos."
Ravendra usai mengatakan itu pun tertawa, hingga Evan melempar temannya itu dengan gulungan kertas di sana. "Ngaco aja deh, sudah sana kerja lagi," balasnya.
Ketika Ravendra hendak keluar dari ruangannya, Evan pun kembali memanggil temannya.
"Bro, thanks yah," balasnya.
Apa yang disampaikan Ravendra benar. Tinggal nanti mengatur emosi untuk bisa mengomunikasi semuanya dengan baik-baik. Walau memang kesal, pusing, dan juga sebal, tetapi Evan akan berusaha untuk bisa berbicara baik-baik dengan Andin nanti. Semoga kali ini Andin bisa berubah menjadi sosok yang lebih peka dan juga bisa memahami apa yang dia mau.