
"Evan, tunggu dulu ... bisakah hari Rabu nanti kamu mengantarkan Arine?" tanya Papa Miko yang turut berdiri dari tempat duduknya.
Pria paruh baya itu seakan menahan Evan supaya Evan bisa menjawab pertanyaannya terlebih dahulu. Sementara Andin pun hanya diam, sama sekali tidak memberikan komentar. Walaupun Andin tahu bahwa Papanya memang sedang membuat kesempatan demi kesempatan agar Arine memiliki kesempatan bersama dengan Evan.
Evan pun berhenti dan berbalik menatap Papa Mertuanya itu, "Tidak ada dalam kontrak bahwa saya harus mau mengantarkan Arine," ucap Evan.
"Kali ini saja, Evan," balas Papa Miko yang agaknya masih berusaha agar Evan mau menuruti maunya.
"Ke mananya memangnya Om?" tanya Evan lagi.
"Ke Rumah Sakit ... temani Arine memeriksakan kandungannya," balas Papa Miko.
Evan sekali lagi menghela nafas. Di sini, dia hanya suami kontrak dan tidak wajib untuk melakukan kewajibannya sebagai suami, tetapi Papa Miko yang mendorongnya supaya dia mau melakukan berbagai hal mengenai kewajiban suami. Evan hanya diam, pemuda memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya, dan kemudian menatap kepada Papa Miko.
"Tidak ada ketentuan jika saya harus mengantarkan memeriksakan kandungan. Lagipula, saya bukan ayah biologis bayi yang dikandungnya," balas Evan.
Bagi yang baru mendengarkannya, tentu saja ucapan Evan itu terdengar begitu kasar. Akan tetapi, Evan berkata jujur bahwa dia bukan Ayah Biologis dari bayi yang dikandung oleh Arine. Ayah Biologisnya lah yang lebih berhak untuk mengantarkan Arine ke Dokter Kandungan dan memeriksakan kehamilannya.
"Tolong sekali saja," pinta Papa Miko.
Andin yang diam hanya bisa mengelus dada. Tidak mengira bahwa Papanya itu rasanya semakin ngadi-ngadi kepada Evan. Andin ingin turut menyahut, tetapi dia sadar diri bahwa ini adalah urusan Evan, jadi Andin masih memilih untuk diam.
"Pria yang baik akan bertanggung jawab untuk apa yang sudah dia lakukan, sementara saya bukan pria yang baik karena saya tidak mau mengantarkannya ke Rumah Sakit karena saya bukan ayah biologis dari bayi itu. Suaminya lah yang lebih berhak," balas Evan dengan begitu tegas.
Apa yang disampaikan oleh Evan membuat seluruh keluarga pun menatap Evan. Begitu kaget dengan jawaban yang begitu tegas dari Evan. Tidak mengira bahwa putra dari CEO besar Belva Agastya itu akan mengatakan demikian.
'Maaf Om ... jika Om Miko terlalu ikut campur urusan saya dan Andin, saya bisa menuntut Om Miko karena bertindak kelewat batas. Perlu Om Miko ingat di sini, pernikahan saya dengannya hanya sebatas kontrak," balas Evan dengan menatap tajam Papa mertuanya itu.
Bukannya Evan tidak menaruh hormat kepada Papa mertuanya sendiri. Akan tetapi, hatinya yang merasa bahwa Papa Miko terlalu berat sebelah dalam memperlakukan putrinya. Selain itu Evan merasa kecewa karena dia kala itu datang untuk Andin, tetapi justru ada kesepakatan yang harus diteken bahwa untuk mendapatkan Andin, dia harus menikahi Arine terlebih dahulu.
"Ayo Andin, kita berangkat," ajak Evan kali ini.
Dengan perginya Evan dan Andin yang melangkah keluar dari rumah besar itu. Papa Miko pun merasa begitu geram dengan tingkah laku menantunya itu.
"Sialan," umpatnya kini.
Mama Tika dan Arine yang masih berada di meja makan pun, terkejut dengan Papa Miko yang terlihat begitu kesal. Pagi ini pun bukan pagi yang baik bagi keluarga Sukmajaya.
"Coba kamu dekati suamimu. Lupakan pria yang sudah melakukan tindakan buruk kepadamu. Harusnya kamu bisa menjaga diri Arine. Sampai suamimu sendiri saja mengakui bahwa Ayah biologisnya yang lebih berhak. Sampai pria itu menunjukkan wajahnya di hadapan Papa, Papa tidak akan segan-segan untuk memukuli pria itu. Berani-beraninya dia merusak putri seorang Sukmajaya," ucpanya dengan kesal.
"Yang Evan cintai itu Andin, Pa ... bukan Arine," jawabnya dengan menundukkan wajahnya.
"Rebut dia dari adikmu ... kamu lebih cantik dari Andin. Evan itu putra pengusaha terbaik dan terkaya di kota ini. Mendapatkan dia akan membuat hidupmu menjadi lebih baik," ucap Papa Miko dengan begitu kesal.
Mama Tika yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak mengira bahwa Papa Miko sampai menyuruh kepada Arine untuk mendekati Evan dan merebut Evan.
"Papa, jangan seperti itu. Evan dan Andin saling menyayangi. Orang tua tidak berhak untuk memisahkan mereka berdua," balas Mama Tika.
"Yang berhak untuk Evan itu Arine, Ma," balas Papa Miko.
"Pa, sebaiknya jangan main-main dengan Evan. Dia bisa melakukan semuanya. Lagipula baik Arine mau pun Andin, keduanya putri kita. Sudah waktunya untuk memandang kedua putri kita dengan pandangan yang sama, Pa ... kasihan Andin yang juga membutuhkan kasih sayang dari Papanya."
Mama Tika kali ini berani untuk bersuara, mengatakan bahwa Andin juga dalam posisi yang kasihan dan membutuhkan kasih sayang dari Papanya. Namun, jika kasih sayang berlebihan yang sampai menyuruh putri sulungnya merebut pria yang mendekati adiknya apakah itu tepat? Layakkah seorang Papa mengatakan demikian?
"Lebih baik Mama diam, dan jangan selalu membela Andin di hadapan Papa," balas Papa Miko.
"Mama tidak membela Andin, Pa ... hanya saja bukankah di sini Papa yang salah. Papa tahu bahwa Evan datang ke mari dengan baik-baik untuk meminang Andin, tetapi yang Papa lakukan apa? Papa membuat pemuda baik-baik itu menikahi Arine untuk dosa yang tidak perlu dia lakukan. Papa membuat Evan harus mengorbankan cintanya dalam kurun waktu 12 bulan ini dalam pernikahan kontrak yang tidak masuk akal ini," sahut Mama Tika.
Kali ini Mama Tika tidak bisa diam. Kali ini Mama Tika harus bersuara. Bukannya dia membela Andin, tetapi di matanya Arine dan Andin itu sama. Keduanya adalah putrinya, yang dia kandung selama 9 bulan dalam rahimnya, dan dia lahirkan dengan mempertaruhkan hidupnya.
"Arine dan Andin itu sama, Pa ... harusnya sebagai orang tua kita mendukung jika kedua anak kita bahagia. Bukan malah menyuruh si Sulung merebut kekasih si Bungsu. Kasih sayang seperti itu Pa?" balas Mama Tika lagi.
"Mama diam saja. Mama tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Papa yang akan terus membuka kesempatan supaya Evan bisa lebih dekat dengan Arine," balas Papa Miko.
Arine yang sedari tadi diam, akhirnya memilih untuk naik ke atas. Di sini dialah yang berperan sebagai antagonis, tetapi apa yang disampaikan Mama Tika barusan benar. Arine merasa bahwa kasih sayang sebaiknya tidak seperti itu. Sekesal apa pun dia kepada Andin, bukan juga dia harus merebut semua yang Andin miliki.
"Mau ke mana kamu Arine?" tanya Papa Miko.
"Ke kamar, Pa ... sebelum Arine ke lokasi syuting nanti," balasnya.
"Pikrikan juga untuk hiatus Arine. Dengan bertambahnya bulan, perutmu akan semakin membesar. Jangan mempermalukan nama besarmu sendiri," sahut Papa Miko.
Arine hanya menganggukkan kepalanya, dan kemudian naik ke lantai dua, menuju ke kamarnya. Keluarga yang kaya raya, tetapi tidak pernah ada kedamaian di dalam rumah besar itu. Yang ada hanyalah perseteruan yang tiada akhir. Apakah keluarga seperti ini akan tetap bertahan untuk selamanya, atau memang akan ada rekonsiliasi di antara masing-masing anggota keluarga? Entahlah, semuanya akan masih terjadi hingga tiba waktunya pembalikkan nanti.