
"Andini, will you marry me? Maukah kamu menyegerakan niat baik yang ada di antara kita?"
Dengan sepenuh hati Evan mengatakan keinginannya untuk menikahi Andin. Menyegerakan niat yang baik. Niat yang baik disertai dengan tindakan yang baik, tentu akan menghasilkan hasil yang baik pula.
Evan pun menyadari bahwa caranya meminta Andin tidak romantis. Namun, Evan akan berusaha untuk mendapatkan hati Andin.
"Aku memang bukan orang yang romantis, bukan juga orang yang puitis. Akan tetapi, cintaku kepadaku ini sangat logis. Menikahlah denganku, aku memintamu," ucap Evan lagi.
Walau Evan mengatakan bahwa dirinya bukan orang yang romantis dan puitis, tetapi di hadapannya Andin sudah meneteskan air mata. Yang Evan ucapkan memang bukan untaian kata-kata cinta, tetapi Evan sangat yakin perasaannya kepada Andin adalah perasaan yang amat sangat nyata.
Alih-alih berpacaran dan mungkin saja bisa bertindak kelewat batas, lebih baik Evan menyegerakan niat baiknya. Membingkai kebersamaan dalam pernikahan yang sah di mata agama dan negara. Evan sangat percaya bahwa cinta bisa diusahakan setiap harinya. Cinta layaknya benih yang perlu untuk disirami, diberikan pupuk, hingga akhirnya benih itu perlahan-lahan akan tumbuh dan menghasilkan bunga.
Jika sudah dalam ikatan pernikahan, keduanya bisa kian mengenal dengan baik dan juga menumbuh rasa cinta untuk bisa semakin kuat. Untuk alasan itulah, Evan menolak untuk berpacaran dan memilih menikah. Walau pernikahan terkesan segera, tetapi Evan sudah berpikir dengan sangat matang sebelumnya.
"Apa kamu menerimaku Andin?" tanya Evan lagi.
Bukan menjawab, nyatanya Andin justru menangis di sana. Tidak mengira bahwa berawal dari Dine in the sky dan sekarang Evan melamarnya secara langsung. Perlahan Andin pun membawa kedua matanya untuk bersitatap dengan mata Evan.
"Will you marry me?" tanya Evan lagi.
"Yes ... i ... do."
Andin menjawab dengan sesegukan di sana. Keinginan hatinya lah yang membuat Andin begitu yakin dengan Evan. Untuk pria yang baik seperti Evan, Andin akan menerima lamaran itu.
Evan tersenyum di sana, kemudian dia mengambil cincin bertahta berlian itu dan kemudian memasangkannya di jari manis Andin. Pria itu kembali tersenyum kala cincin itu sudah bersarang di jari manis Andin.
"Terima kasih sudah mau menerimaku," balasnya. Ucapan terima kasih yang diakhiri dengan sebuah kecupan di punggung tangan Andin.
Chup!
"Aku akan selalu membahagiakanmu."
Mungkin Evan memang tidak mengakhiri lamarannya dengan kalimat cinta, tetapi dia lebih memilih untuk menjanjikan kehidupan yang bahagia untuk Andin. Kehidupan bahagia di mana hanya ada dia dan Andin, serta anak-anak mereka nanti.
Usai semuanya berakhir, Evan dan Andin masih menikmati waktu yang tersisa di Lounge in the sky. Beberapa kali Andin tersenyum melihat cincin yang tersemat begitu indah di jari manisnya. Cincin dengan diamond solitaire di atasnya tampak berkilauan dan begitu indah di jari manis Andin.
"Suka cincinnya?" tanya Evan kemudian.
"Iya," balas Andin.
Kemudian Andin menatap wajah Evan di sana, "Kenapa ukurannya bisa pas?" tanya Andin lagi.
Evan pun tersenyum, "Bisa ... aku hanya sebatas memperkirakan. Dua minggu lagi pernikahan kita Andin. Kamu siap?" tanya Evan kemudian.
Andin pun menganggukkan kepalanya, "Iya, siap. Walau aku tidak sempurna dan banyak hal yang kurang ku kuasai," balasnya.
"Tidak apa-apa, kita bisa memulainya dari awal bersama-sama," balas Evan dengan begitu yakin.
Setelah itu, Evan kemudian kembali menatap Andin, "Kita pulang sekarang?" ajaknya.
"Iya, sudah malam dan angin di sini begitu dingin."
Setelahnya Evan mengajak Andin untuk turun dari Lounge in the sky. Evan kini mengulurkan tangannya meminta Andin untuk menggenggam tangannya itu. Evan tersenyum ketika tangan Andin yang ukurannya lebih kecil darinya bertaut di dalam genggamannya.
"Kamu tadi takut ya aku ajak ke hotel?" tanya Evan.
"Iya ... aku pikir, bisa saja nasibku berakhir sama seperti Kak Arine. Aku tidak akan mau seperti itu," balas Andin.
Evan kemudian tersenyum di sana, "Aku sangat menghormatimu, Andin. Selama ini aku juga hanya berani menggenggam tanganmu saja. Cukup seperti ini, dan nanti semuanya akan berubah ketika kita telah menikah. Persiapan dirimu karena aku tidak akan segan-segan," ucap Evan.
Astaga, tiba-tiba jantung Andin berdegup dengan begitu kencangnya kala Evan mengatakan bahwa dia harus mempersiapkan diri karena Evan tidak akan segan-segan. Satu kalimat yang membuat Andin benar-benar deg-degan karenanya.
"Santai saja ... pelan-pelan, aku juga tidak akan sebuas itu," balas Evan lagi.
Andin hanya mampu terdiam tanpa mengucapkan kata. Biarlah kali ini dirinya menikmati pacaran pendekatan yang memang hanya sebatas bergandengan tangan saja. Itu justru baik karena memang Evan menghargainya sebagai wanita, tidak menyentuhnya sebelum kalimat akad diikrarkan tidak lama lagi.