Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Kembali Bertemu Evan


Keesokan harinya Andin kembali bersiap untuk berangkat ke kantor. Gadis sebenarnya bangun dengan rasa enggan. Ya, untuk kembali bertemu dengan Evan membutuhkan kekuatan tersendiri bagi Andin. Mungkinkah dia bisa melihat Evan sebagaimana mestinya? Atau juga rasa sesal di dada yang membangkitkan sejuta rasa lainnya di dalam dada. Terlebih ada rasa tidak ingin menerima ketika Arine ingin mengatakan ingin merebut Evan darinya.


"Kita akan bertemu lagi hari ini Pak Evan, tapi bagaimana kalau aku merasa bahwa untuk bertemu dengan Pak Evan membutuhkan nyali yang sangat besar untukku. Hubungan kita ini apa? Terlebih ketika Arine berkata bahwa dia akan merebutmu dariku. Apakah benar bahwa aku ditakdirkan untuk melepas semua yang berharga dalam hidupku hanya untuk kakakku?"


Andin mende-sah pasrah dengan rasa yang berkecamuk di dalam dada. Setelahnya, Andin memilih untuk keluar dari kamarnya dan kemudian turun ke bawah untuk sarapan terlebih dahulu dan mengisi perutnya.


“Pagi Ma,” sapa Andin melihat Mamanya yang sudah berada di dapur.


“Pagi Andin … udah mau berangkat ke kantor?” tanya Mama Tika.


“Iya Ma … sudah hari Senin lagi. Berarti Andin harus berangkat ke kantor,” balasnya.


Ada yang berbeda pagi itu, karena ada Papa Miko yang tidak biasanya bergabung di meja makan. Kali ini, Papa Miko turut bergabung untuk sarapan pagi itu. Andin memilih diam dan tidak terlalu banyak bicara. Sebab, menurutnya semua ketidakadilan ini adalah berasal dari Papanya. Keputusan Papanya yang membuatnya tertekan seperti ini.


“Mau ke kantor, Ndin?” tanya Papa Miko pagi itu.


“Iya Pa … masih magang,” jawabnya dengan menunjukkan raut wajah yang datar.


“Salam ya nanti untuk menantunya Papa. Sampaikan ditunggu di rumah untuk makan malam bersama,” ucap Papa Miko.


Kali ini Andin memilih untuk tidak menjawab. Sebab, dia merasa bahwa kenapa yang diucapkan oleh Papanya hanya menyakiti hatinya. Menyebut Evan sebagai menantu, seolah mengingatkan Andin bahwa atasannya itu adalah suami dari kakaknya sendiri. Seketika hilang sudah selera makan Andin, gadis itu memilih untuk segera berangkat ke kantor.


“Andin berangkat dulu,” pamitnya.


“Ndin, tunggu dulu … perlukah Papa yang mengantar kamu ke Agastya Properti?” tawar Papa Miko.


Untuk seseorang yang ketika Andin kecil saja tidak pernah mengantarkannya ke sekolah, dan sekarang tiba-tiba menawarkan untuk mengantar Andin ke kantor. Tentu saja menghadirkan sejuta tanya di benak Andin. Mungkinkah Papanya memiliki motif tersendiri dengan Evan. Kenapa rasanya hati tidak tenang melihat Papanya yang selalu saja bersikap baik kepada atasannya itu.


“Tidak usah … tidak perlu, Pa. Andin bisa berangkat sendiri,” balasnya.


“Tidak apa-apa. Papa bisa mengantarkanmu,” balas Papa Miko lagi.


Akan tetapi, Andin tetap pada pendiriannya, “Tidak Pa, Andin bisa berangkat sendiri.”


Buru-buru Andin keluar dari rumah, dan segera mengambil mobilnya. Sebagai anak yang tidak pernah diperlakukan dengan baik dan juga tidak pernah mendapatkan perhatian dari Papanya sendiri, dan sekarang tiba-tiba dihujani dengan perhatian justru membuat Andin kian waspada. Ada apakah gerangan yang membuat Papanya tiba-tiba saja berubah.


“Baiklah … hati-hati, Ndin. Sampaikan salam dari Papa untuk menantu Papa,” balas Papa Miko.


Andin sekali lagi hanya diam, tanpa menyahut ucapan dari Papanya itu Andin memilih untuk segera tiba di Agastya Properti. Di sepanjang perjalanan banyak yang Andin pikirkan. Baik itu mengenai pernikahan kakaknya, mengenai perubahan sikap Papanya, dan juga dengan perasaannya sendiri. Hingga tidak terasa mobil yang sudah Andin kemudikan sudah tiba di Agastya Properti.


Sama seperti biasanya, Andin segera menuju ke ruangan wakil presiden direktur. Kembali berkutat dengan pekerjaannya sebagai sekretaris magang. Semoga saja kali ini akan lebih banyak pekerjaan, sehingga tidak ada interaksi antara dirinya dan juga Evan. Namun, apa yang Andin harapkan nyatanya tidak terjadi. Sebab, di sana Evan sudah datang terlebih dahulu. Bahkan Evan mengamati dan tersenyum kepada Andin di kala gadis itu baru saja datang dan kemudian mengambil tempat duduk di belakang meja kerjanya.


“Ya Pak,” sahut Andin dengan segera berdiri dan kemudian masuk ke dalam ruangan Evan.


“Ada apa Pak Evan?” tanya Andin.


“Duduk di sana,” balas Evan dengan menunjuk sofa yang letaknya tidak jauh dari meja kerjanya.


Andin tidak banyak bertanya, gadis itu memilih untuk segera duduk di sofa seperti yang ditunjukkan oleh Bosnya itu.


“Ada apa Pak Evan? Kenapa Pak Evan menyuruh saya duduk?” tanya Andin.


Evan kemudian menyerahkan sebuah paper bag kepada Andin. “Ini … buat kamu. Bukalah,” perintah dari Evan.


Dengan enggan Andin pun membuka paper bag itu dan kemudian mengernyitkan keningnya saat membukanya. “Kotak bekal?” tanyanya.


Evan pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, “Iya … dari Mama untuk kamu. Sebaiknya kita makan bersama terlebih dahulu, Andin,” balas Evan.


Itu bukan karangan Evan saja, tetapi memang Evan meminta kepada Mamanya untuk membawakannya dua kotak bekal yang bisa dia makan bersama dengan Andin untuk sarapan. Jujur saja, Andin merasa terharu karenanya. Bukan karena Evan yang memberinya, tetapi karena Mama Sara yang ternyata mau memberikan kotak bekal untuknya.


“Untuk saya?” tanya Andin.


“Iya, untuk kamu … Mama berpesan katanya kamu jangan terlalu bersedih. Kata Mama, cinta selalu tahu jalannya untuk pulang,” balas Evan.


“Mana mungkin Tante Sara berpesan demikian?” balas Andin. Hanya saja Andin memang tidak percaya jika itu adalah pesan dari Mama Sara. Mungkin saja itu adalah pesan tersendiri dari Evan.


“Serius, aku mana mungkin berbohong. Jika ada orang yang berusaha untuk tidak berbohong, maka aku lah orangnya,” balas Evan.


“Baiklah kali ini saya akan percaya. Sampaikan rasa terima kasih saya kepada Tante Sara,” balas Andin.


“Tentu akan saya sampaikan kepada Mama. Kamu sudah sarapan?” tanya Evan kemudian.


Andin menganggukkan kepalanya secara samar, “Hanya sepotong roti,” balas Andin dengan jujur.


Mendengar jawaban Andin, Evan pun segera beringsut dan kemudian menatap kepada sekretarisnya itu, “Kenapa hanya sepotong roti? Apakah sepotong roti saja mengenyangkan? Ingat Andin, kamu memiliki maag. Jadi, usahakan untuk sarapan sehat. Penuhi nutrisi tubuhmu, karena aku sewaktu-waktu bisa menyuruhmu untuk lembur. Seperti apa yang kamu sampaikan bukan? Bekerja harus profesional. Jadi, sekalipun aku menyukaimu dan tertarik kepadamu, aku ingin kamu bekerja pun profesional. Sama seperti aku yang bekerja keras dan mati-matian di sini sekalipun ini adalah perusahaan Papaku,” balas Evan.


“Baik Pak Evan … saya siap lembur,” balas Andin.


Ya, jika dulu lembur dengan Evan rasanya menyebalkan. Justru sekarang, Andin berharap bisa lembur karena dengan lembur waktunya di rumah berkurang. Entah, hanya saja rumah bukan lagi menjadi tempat yang nyaman untuk Andin. Keberadaannya dan ketenangannya di dalam rumah terusik. Lembur mungkin menjadi pilihan tepat untuk mengurangi interaksi dengan orang di rumah.