Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Pemeriksaan Pertama


Seolah tidak ingin menunda terlalu lama, keesokan harinya Evan sudah mendaftarkan istrinya itu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan untuk pertama kalinya di Rumah Sakit. Sebagaimana permintaan Andin, pemeriksaan akan dilangsungkan saat sore hari.


Tengah hari, saat jam makan siang tiba, Evan buru-buru mengambil handphonenya guna menghubungi istrinya itu.


“Halo Sayang …” sapanya begitu telepon itu sudah berdering.


“Iya, halo Mas … ada apa?” tanya Andin sembari wanita itu meregangkan leher dan pinggangnya sejenak setelah duduk berjam-jam lamanya menyelesaikan skripsi di meja belajarnya.


“Aku sudah daftarkan kamu untuk pemeriksaan hari ini ya, sore aku jemput ke rumah ya, abis itu periksanya di Rumah Sakit,” ucapnya yang hendak memberitahu istrinya.


***


Beberapa jam setelahnya …


Evan yang baru saja pulang dari Agastya Properti segera memasuki rumahnya dan mencari istrinya berada.


"Yang ... Sayang," panggil Evan sembari menaiki anak tangga.


"Ya, Mas Evan ... sudah datang?" balas Andin.


"Iya, yuk sekarang yuk," ajak Evan dengan begitu bersemangat.


"Kamu enggak capek memangnya Kak?" tanya Andin kemudian.


“Lumayan sih, yuk … jangan sampai telat,” pria itu lantas menggenggam tangan Andin dan segera membawanya untuk keluar dari rumahnya. Menuntun wanita untuk segera memasuki mobil, Hingga sampai di depan mobilnya, Evan terlebih dahulu membukakan pintunya untuk Andin, “Hati-hati Sayang …,” ucapnya sembari mengangkat satu tangannya di atas pintu mobil, berjaga-jaga supaya kepala istrinya tidak sampai terantuk mobil.


Setelahnya, barulah dia berjalan mengelilingi mobil dan berjalan menuju kursi kemudi. Dengan tenang, dia mengemudikan mobilnya itu, lantaran istrinya juga sedang berbadan dua, sehingga Evan pun mengurangi kecepatan mengemudinya.


“Kenapa nyetirnya jadi sepelan ini sih Mas? Dulu enggak sepelan ini deh,” tanya Andin kepada suaminya itu. Sebab, Evan benar-benar mengemudikan mobilnya begitu pelan.


“Bawa Ibu Hamil itu kan harus hati-hati Sayang … kamu mau aku nyetirnya asal serobot, terus berbahaya untuk kamu?” tanyanya sembari tersenyum dan sesekali melirik istrinya itu.


“Buruan dikit, Mas … biar kita enggak telat periksanya. Sudah daftar belum Mas?” tanyanya lagi kepada suaminya itu.


“Sudah dong … aku sudah daftar kok. Dapat antrian nomor empat sih, semoga saja enggak terlalu lama nunggu.” jawabnya dengan tenang.


Kurang lebih dua puluh menit kemudian, mereka telah tiba di Rumah Sakit. Setelahnya, dia keluar dan membukakan pintu bagi istrinya itu. Menggandeng tangannya untuk memasuki bagian Poli Kandungan.


Setelahnya, mereka telah tiba poli kandungan. Lantaran baru pertama kali periksa, maka seorang perawat mendata Andin terlebih dahulu.


“Sore, dengan Ibu siapa?” tanya seorang perawat kepada Andin.


“Iya sore, saya Andin.” jawab Andin dengan sopan.


“Kita data dulu ya Bu. Silakan jawab pertanyaan dari saya, sebagai data di komputer kami.”


“Bu Andin, usianya berapa?” tanya perawat tersebut.


“Hari terakhir menstruasi?” pertanyaan ini sering ditanyakan kepada calon ibu yang melakukan pemeriksanaan kandungan untuk pertama kalinya, karena bisa digunakan memperkirakan usia kehamilan.


“Bulan terakhir, tanggal 25.” jawab Andin sembari menunjukkan aplikasi menstruasinya di handphonenya.


“Sekarang kita akan menimbang berat badan Ibu dan mengukur tekanan darahnya ya Bu.” instruksi selanjutnya dari perawat tersebut.


Maka, Andin pun menimbang, di sebuah timbangan yang berada tidak jauh dari tempat itu.


“47 kilogram ya Bu.” ucap perawat itu dan menuliskannya di sebuah buku pemeriksaan untuk pasien.


“80/100 untuk tekanan darahnya,” ucap perawat tersebut. “Sudah semua Bu, silakan ditunggu ya. Nanti akan dipanggil berdasarkan antrian," sambung perawat itu lagi.


Keduanya lantas menunggu, Andin sembari mengamati beberapa ibu-ibu muda yang juga menunggu untuk melakukan pemeriksaan rutin. Wanita itu tiba-tiba tersenyum, saat melihat seorang wanita yang datang dengan perutnya yang sudah begitu membuncit. “Hamil itu lucu ya Mas, perutnya bisa bulat dan menyembul kayak gitu.” ucapnya sembari satu tangannya mengusap sendiri bagian perutnya.


Evan pun mengangguk, “Iya, seolah-olah perut manusia ini elastis ya Sayang … bisa mengembang dan mengecil,” sahut pria itu dengan lirih.


Setelahnya mulailah, nama Andin dipanggil. Mereka berdua bersama-sama memasuki ruangan pemeriksaan kehamilan itu.


“Selamat sore, dengan Ibu Andin ya? Perkenalkan saya Dokter Rinta, spesialis kandungan di Rumah Sakit ini.” salam perkenalan dari Dokter Rinta.


“Halo, selamat sore, Dok … saya Andin.” ucap Andin memperkenalkan dirinya.


“Baik, kita akan periksa terlebih dahulu ya Bu … silakan berbaring di brankar kita akan melakukan pemeriksaan dengan USG,” ucap Dokter Rinta yang mempersilakan Andin.


Sementara Andin kini mulai berbaring di atas brankar, seorang perawat membantu mengangkat kemeja yang dia kenakan, memperlihatkan perutnya yang masih rata di sana dan kemudian mengoleskan USG Gell yang memberikan kesan dingin di permukaan kulit di perut Andin.


“Kapan terakhir kali menstruasi, Bu?” tanya Dokter tersebut kepada Andin.


“Bulan yang lalu, tanggal 25, Dok.” jawab Andin.


Kemudian mulailah Dokter Rinta menggerakkan Transduser dengan tangannya, gerakan memutar seolah mencari-cari organ yang dikirimkan oleh gelombang ultrasond dan terlihat di monitor USG.


“Nah, ini dia. Masih kecil sekali ya Bu. Jadi kalau, kemarin Ibu melakukan test dengan menggunakan test pack dan hasilnya positif, maka benar Bu. Di Monitor Ibu bisa melihat ya, bagian kecil yang bergerak-gerak ini adalah janin Ibu, atau biasa disebut embrio. Tempat tumbuhnya janin ini disebut rahim, Bu,” ucap Dokter Rinta yang menjelaskan begitu detail kepada Andin.


“Sekarang kita ukur ya Bu. Untuk panjang janin ini masih sangat kecil Bu, baru 2 milimeter. Kendati masih berukuran kecil, tetapi sistem dan struktur tubuh bayi mulai terbentuk, seperti jantung, otak, dan sumsum tulang belakang. Gejala kehamilan juga sudah mulai terasa ya Bu seperti mual, muntah, lemas, sering buang air kecil, pusing, perubahan suasana hati yang disebabkan oleh hormon kehamilan. Sejauh ini ada keluhan?” tanya Dokter Rinta kepada Andin.


“Saya sering merasa lemas sih Dokter. Badan juga tidak enak banget rasanya seperti masuk angin,” jawab Andin yang memang beberapa hari ini merasakan begitu lemas.


“Benar Bu, perbanyak istirahat dan juga konsumsi makanan yang bernutrisi tinggi. Nah, di kehamilan 5 minggu ini sebaiknya jangan naik turun tangga dulu ya Bu, karena embrio ini belum ada plasentanya, tunggu sampai janin benar-benar kuat dahulu. Jika mau berhubungan suami istri boleh, asalkan harus hati-hati jangan sampai terlalu banyak penekanan yang bisa memanipulasi mulut rahim.” penjelasan Dokter Rinta kepada Andin.


Setelah selesai pemeriksanaan, Andin pun merapikan kemeja yang dia gunakan dan bergabung untuk duduk dengan suaminya di depan meja Dokter Rinta.


“Baik, saya resepkan penguat rahim untuk Bu Andin, vitamin, dan penambah darah. Di sini tekanan darah Ibu agak rendah, jadi harus ditambah dengan penambah darah ya Bu. Pemeriksaan selanjutnya satu bulan lagi ya Bu ... nanti menjelang usia kehamilan 9-10 minggu, sehat selalu Bu,” ucap Dokter tersebut sembari menyerahkan resep dan buku pemeriksanaan rutin kepada Andin.


Di dalam hatinya Evan dan Andin merasa begitu lega, semoga janinnya dalam keadaan sehat. Terlebih Andin juga masih harus menyelesaikan skripsinya sehingga Andin merasa harus lebih kuat dan sehat untuk menghadapi skripsi dan juga ujian skripsi dua bulan lagi. Hamil dan mengerjakan skripsi memang berat, tetapi Andin akan menempuhnya perlahan-lahan dan terus bersemangat untuk bisa segera lulus menjadi seorang sarjana.