Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Sosok Almarhumah Mama Rosa


"Ma, benarkah Andin bukan anak Mama?" tanya Andin kini kepada Mamanya.


Mendengar apa yang disampaikan Andin membuka Mama Tika merasakan debaran yang keras di jantungnya. Setelah sekian puluh tahun berlalu, akhirnya Andin menanyakan hal itu kepada Mama Tika.


"Kenapa kamu bilang begitu? Dulu waktu kecil, ketika kamu menangis, kamu akan lari kepada Mama dan bertanya apakah Andin bukan anak Papa, sekarang kenapa pertanyaannya berbeda? Tidak pernah sebelumnya kamu bertanya seperti ini," balas Mama Tika lagi.


Ya, ini adalah pertanyaan yang kali pertama ditanyakan oleh Andin. Tidak pernah sebelumnya Andin menanyakan hal seperti ini kepadanya. Justru sejak kecil, Andin merasa bukan anak Papanya.


"Hanya bertanya kok Ma ... kenapa Kak Arine mirip Mama, dan Andin tidak. Andin berbeda. Namun, jika Mama tidak memberikan jawaban tidak apa-apa," balasnya dengan memasukkan buku-buku ke dalam shopping bag yang dia bawa dari rumah.


Mama Tika pun berpikir, mungkinkah Andin sudah mengetahui sebelumnya perihal asal-usul dirinya, sehingga sekarang Andin pun menanyakan hal tersebut.


"Jika Mama berbicara jujur, apakah Andin akan marah?" tanya Mama Tika terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban.


Dengan cepat Andin pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ... Andin tidak marah. Apa Andin berhak marah di rumah ini Ma? Andin akan selalu sabar kok, sama seperti nasihat Mama hampir setiap hari," balasnya lagi.


Mama Tika pun menghela nafasnya dan kemudian duduk di pinggir ranjang yang ada di kamar Andin, duduk di dekat Andin. "Andin ... sebenarnya, kamu bukan anak Mama. Bukan anak yang Mama lahirkan," ucapnya.


Mendengar pengakuan itu, air mata Andin menetes dengan sendiri. Ini adalah satu kenyataan pahit yang harus dia terima. Wanita yang selama ini dia pikir adalah Mamanya, Mama kandungnya sekarang mengatakan bahwa bukan Mama Tikalah Mama kandungnya. Walau kemarin Andin sudah mengetahuinya, dan sekarang Mama Tika menjelaskan secara langsung tetap saja hati terasa begitu sakit.


"Dengarkan Mama dulu, Ndin ... walau bukan Mama yang melahirkan kamu, tetapi Mama sayang sama kamu. Kasih sayang Mama untuk kamu dan Arine itu sama besarnya," jelas Mama Tika.


Andin sudah menangis sesegukan di sana. Tidak dipungkiri bahwa ini adalah sebuah kenyataan pahit. Akan tetapi, bagaimana lagi jika memang hidupnya seperti ini adanya.


"Kamu adalah putri dari seorang wanita yang bernama Rosalia Rahayu, istri kedua Papa kamu. Rosa, demikian wanita itu dipanggil adalah wanita yang cantik seperti kamu. Wanita yang ceria, dan tentunya memberikan banyak warna cinta di dalam hidup Papa kamu. Sampai suatu ketika, Mama kamu melahirkan kamu dan tiada usai melahirkan kamu. Tekanan darah tinggi ketika melahirkan membuat Dokter meminta kepada Papamu untuk memilih salah satu di antara kalian. Papamu tidak bisa memutuskan, dan Mama kamulah yang memutuskan untuk menyelamatkan kamu. Ya, dia memberikan kehidupan untuk kamu walaupun pada kenyataannya dia harus pergi selamanya dari sisi kamu. Dia lah Rosalia Rahayu," balas Mama Tika.


Mama Tika lantas berdiri meninggalkan kamar Andin sejenak, menuju ke dalam kamarnya. Ada sesuatu yang hendak dia ambil dan tunjukkan kepada Andin. Mungkin ini memang saatnya bagi Andin untuk tahu dan mengenal sosok Mama kandungnya. Mama Tika kembali ke dalam kamar Andin dengan membawa stopmap berwarna merah jambu.


“Ini adalah foto Mama kandung kamu, Andin … namanya Rosalia Rahayu. Dia adalah sekretaris kamu dan akhirnya Papa jatuh hati kepadanya dan keduanya memutuskan untuk menikah. Mirip seperti kamu bukan? Cantik dan sosok wanita yang ceria,” ucap Mama Tika.


“Pernikahan Mama kamu dan Papa kamu berjalan singkat. Hanya tiga tahun, tetapi dalam tiga tahun itu banyak hal menyenangkan dan juga indah yang dijalani Mama kamu dan Papa Miko. Ini, foto mereka kala menikah. Menikah resmi di mata hukum dan agama,” jelas Mama Tika lagi.


Ketika Mama Tika menunjukkan foto pernikahan itu, justru Andin merasa sedih. Tidakkah Mama Tika merasa sakit hati kala suaminya pada akhirnya menikah lagi dan sekarang dengan menceritakan semuanya kepada Andin, bukankah membuka kembali luka lama?


“Ini foto waktu Mama kamu mengandung kamu. Terlihat jelas betapa bahagianya dia kala mengandung kamu. Namun, Tuhan berkata lain, ketika melahirkan dan tekanan darah tinggi, sehingga harus memutuskan menyelamatkan salah satu di antara kalian,” cerita Mama Tika dengan begitu jelas.


“Apa Mama tidak tersakiti dengan pernikahan Papa Miko dan Mama Rosa?” tanyanya.


Ada senyuman getir di wajah Mama Tika, “Tidak ada wanita yang tidak tersakiti ketika suaminya memilih menikah lagi dan mendua hati. Namun, Mama sudah ikhlas Andin … awalnya Mama juga kesakitan dan marah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Mama bisa menerimanya,” jelas Mama Tika.


Itu pun adalah perasaan yang jujur dari Mama Tika bahwa pada mulanya dia merasa tersakiti dan marah. Namun, apa yang sudah terjadi tidak bisa lagi dihindari, sampai batas di mana Mama Tika bisa menerima semuanya.


“Jangan bersedih Andin … bagi Mama, kamu adalah anak Mama. Dari kecil kedua tangan Mama ini yang mengurus dan merawat kamu. Mama sayang kamu, Andin,” ucap Mama Tika dengan menangkupkan kedua tangannya.


Andin pun kian menangis di sana. Sangat pedih. Wanita yang disakiti oleh Mama kandungnya, justru menjadi wanita yang mengasuh dan merawatnya sejak dia bayi sampai dewasa. Andin juga bisa merasakan bahwa Mama Tika juga menyayanginya.


“Maafkan untuk kesalahan Mama kandung Andin di masa lalu ya Ma … maafkan beliau pernah membuat Mama terluka dan kecewa, maafkan almarhumah,” pinta Andin kali ini.


Mama Tika pun menganggukkan kepalanya dan memeluk Andin, “Mama sudah memaafkannya sejak dulu, Andin … tidak ada dendam lagi di dalam hati Mama. Ikhlas, dan Mama sayang kamu. Kamu adalah anak Mama, adiknya Arine.”


Dalam pelukannya kedua wanita ini sama-sama menangis. Masa lalu yang pahit telah menyertai kisah keduanya, tetapi Andin sangat bersyukur karena Mama Tika begitu baik dan juga sangat menyayanginya. Dia yang anak dari madunya, justru dirawat dan diasuh layaknya anak sendiri.


“Andin sayang Mama,” ucapnya.


“Sama Ndin … Mama juga sayang kamu,” balas Mama Tika dengan masih memeluk Andin dengan penuh kasih sayang.