Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Persiapan Ujian Skripsi


Tidak terasa perjuangan Andin telah sampai pada titik di mana dia hendak mengajukan skripsi miliknya dari Bab 1 hingga Bab 5. Kali ini Andin akan datang ke kampus dan mendaftar untuk mengikuti skripsi. Rasanya selama lima bulan ini, Andin benar-benar berjuang dan juga begitu totalitas untuk bisa setiap Bab dalam skripsinya. Terlebih dengan kondisi Andin yang sekarang berbadan dua. Ada kalanya dirinya lemas, ada kalanya begitu mengantuk, dan juga terkadang pinggangnya yang terasa begitu sakit, tetapi Andin tetap bersemangat untuk mengerjakan skripsinya.


Bahkan ketika memproses hasil penelitian, Andin benar-benar rela begadang selama beberapa malam untuk mengolah data dan juga mendapatkan hasil uji yang sesuai dengan harapannya. Rasanya sekarang Andin benar-benar lega sekarang. Perjuangan menyelesaikan skripsi lebih bermakna karena ada bayi kecil yang bersemayam di dalam rahim Andin.


"Aku lihat kamu kayak gini kasihan banget loh Sayang ... lihat ada lingkar hitam di bawah mata kamu. Kamu kurang tidur," ucap Evan yang menghela nafas melihat istrinya itu.


Sekarang memang ada kantung mata di bawah mata Andin, kantung mata yang sedikit menghitam sehingga istrinya itu tampak memiliki mata panda di sana. Wajah Andin juga terlihat begitu lelah.


"Sini ... istirahat dulu. Capek banget kamu ini," ucap Evan dengan membuka kedua tangannya dan meminta Andin untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Ya capek sih Mas ... bagaimana lagi, konsekuensinya Mas. Lagian ujian skripsi selesai kalau memang harus revisi kan tinggal revisi sedikit, terus juga tinggal nunggu wisuda, setelah itu aku bisa bernafas lega," ucapnya.


Evan pun mengusapi puncak kepala Andin, "Jaga kesehatan, Sayang ... kamu sedang hamil loh," balasnya.


"Iya Mas ... aku sehat kok. Sangat sehat, ya cuma kalau kadang agak capek kan wajar," balasnya.


"Aku tuh lihat kamu kasihan. Dua bulan ini kamu berjuang mati-matian, padahal kalau kamu menunda 1 semester lagi, aku tidak masalah. Fokus ke kehamilan kamu dulu saja," pinta Evan.


Akan tetapi, Andin tampak menggelengkan kepalanya, "Enggak ... aku sudah berlari sangat jauh, aku sudah menyelesaikan setiap Bab mulai dari Bab 1 sampai Bab 5. Jadi, aku tidak akan mundur, Mas. Aku akan menyelesaikan semuanya sampai garis akhir," balasnya.


Untuk urusan niat dan kegigihan memang Andin begitu sangat gigih. Hanya saja, mengingat Andin yang tengah hamil, Evan juga begitu kasihan dengan istrinya itu. Takut jika terlalu capek dan banyak pikiran karena skripsi bisa berdampak pada kehamilannya.


"Aku tahu ... kamu sudah berlari dengan sangat jauh. Hanya saja, aku takut jika kamu terlalu capek berlari dan si kecil di dalam rahim kamu justru terkena imbasnya. Jujur, aku enggak tega melihatmu seperti ini," ucap Evan lagi.


Andin tersenyum, wanita itu mengurai pelukan Evan di tubuhnya, dan kemudian berdiri menyiapkan copy skripsi yang sudah dia print semuanya, menyusunnya dan kemudian menyiapkan untuk besok mendaftar ujian skripsi di kampusnya. Berharap bahwa dia akan segera mendapatkan jadwal untuk ujian.


"Doakan saja ... aku bisa segera ujian. Aku bisa lulus dan tanpa revisi, walaupun itu mustahil karena pasti ada yang direvisi walau sedikti. Setelah semuanya selesai, aku akan istirahat," balas Andin lagi.


"Janji?" tanya Evan lagi.


"Iya, aku akan istirahat dan tidur dengan cukup," balas Andin dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V, tanda dia tengah berjanji kepada suaminya.


"Baiklah ... mana aku bantu. Sudah kamu duduk saja, biar aku yang masukkan semuanya ke dalam map," balas Evan.


Kali ini, Andin pun patuh. Dia segera duduk, dan membiarkan suaminya yang akan menyelesaikannya. Dari tempat duduknya, Andin mengamati Evan yang merapikan setiap skripsi dan memasukkannya ke dalam map. Tidak lupa, Evan juga menyiapkan alat tulis untuk Andin berupa buku catatan dan pena, buku konsultasi skripsi juga Evan siapkan. Semua yang sudah Evan siapkan, dia masukkan ke dalam map besar.


"Sudah semuanya Sayang ... besok kamu mau ke kampus jam berapa?" tanya Evan.


"Jam 10.00 itu Mas ... aku naik taksi online saja ya Mas," balas Andin.


"Jangan lupa izin sama Papa loh Mas ... enggak enak sama Papa," ucap Andin lagi.


"Oke ... tenang saja. Ya sudah, yuk bobok ... besok aktivitas kamu juga masih banyak. Istirahat dulu," balas Evan kemudian.


***


Keesokan harinya ....


Kurang lebih jam 09.00, Evan dan Andin sudah keluar dari rumah, dan kali ini tempat pertama yang akan dituju Evan adalah kampus istrinya. Pria itu akan menagntarkan istrinya menuju ke kampusnya terlebih dahulu.


"Hanya mendaftar ujian aja ya Sayang?" tanya Evan lagi.


"Iya Mas ... ke Biro Skripsi saja kok. Nanti jadwal ujiannya bakalan dikasih tahu via whatsapp," balasnya.


Evan tampak diam sejenak dan kemudian kembali bersuara, "Kalau hanya mendaftar saja, aku tungguin Sayang," balasnya.


"Lha kerjaan kamu gimana?" tanya Andin lagi.


"Selesai dari kampus, kamu ikut aku ke kantor saja Sayang ... ada kamar tidur kan di ruangan aku, bisa kamu pakai untuk bobok. Aman, tidak akan aku ganggu. Aku masih ingat dengan pesan kamu dulu, tidak akan macem-macem di kantor karena Papa membangunnya dengan penuh dedikasi," jawab Evan.


Andin merasa lega, suaminya itu memang keren maksimal. Satu kali diberitahu saja, Evan sudah bisa mengingat semuanya. Akhirnya Andin pun menganggukkan kepalanya, "Oke ... janji yah, enggak gangguin," balasnya.


Dengan cepat Evan pun menganggukkan kepalanya, "Iya, janji," balasnya.


Mobil mewah yang dikendarai Evan pun meluncur ke Fakultas Teknik Arsitektur. Kali ini Evan memilih menunggu di dalam mobil sesuai dengan permintaan istrinya, sehingga hanya Andin yang turun dan segera menemui Biro Skripsi.


Hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit saja, Andin sudah keluar dari fakultasnya. Wanita hamil itu tampak mencari keberadaan Evan.


"Mas, sudah ... yuk," ucapnya dengan mengetuk kaca mobil suaminya.


Evan pun menganggukkan kepalanya dan membukakan mobil untuk istrinya sehingga Andin bisa masuk.


"Cepet sekali?" tanyanya.


"Iya, kan cum menyerahkan semuanya, mendaftar, dan juga nanti menunggu jadwalnya saja ... jeda menuju ujian aku bisa istirahat Mas ... dimulai dari nanti malam, aku bisa tidur cepat dan nyenyak tentunya," balas Andin.


Ya, jeda waktu hingga ujian nanti akan dimanfaatkan Andin untuk istirahat. Di siang hari, dia bisa belajar dan menguasai materi, sementara malamnya akan dia manfaatkan untuk tidur nyenyak dan juga beristirahat. Setelah berhari-hari, bahkan berbulan berjibaku dengan skripsi, akhirnya nanti malam Andin tidak perlu lembur mengerjakan skripsinya.