Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Kedatangan yang Tak Diharapkan


Menikmati sarapan bersama, beberapa kali Evan dan Andin terlibat dalam obrolan. Mulai dari pekerjaan sampai ke beberapa hal yang sebenarnya tidak penting, tetapi juga mereka obrolkan bersama. Hingga tidak terasa Nasi Goreng Kampung yang semula mengisi kotak bekal itu benar-benar tandas.


"Masakan Tante Sara benar-benar enak sekali, Pak Evan. Wah, sungguh bahagia menjadi Pak Belva dan anak-anak yang bisa menyantap makanan selezat ini setiap hari," ucap Andin.


Evan pun segera menganggukkan kepalanya, "Benar. Inilah yang membuat adikku Eiffel ada kalanya meminta Mama mengiriminya masakan Mama. Mulai dari Sambal sampai Tempe Kering, Mama membuatnya yang kemudian dikemas khusus untuk dikirim ke Australia, adikku kuliah di sana," balas Evan.


"Luar biasa ya Pak … seorang pebisnis sukses, tapi bisa memasak dan mengurus anak-anak dengan sangat baik, sehingga tidak melalaikan pengasuhan anak," balas Andin.


"Itulah Mamaku, wanita pertama yang selalu menjadi cinta pertamaku," balas Evan.


Mendengar apa yang baru saja Evan sampaikan membuat Andin pun tersenyum. Ada satu fakta yang bisa Andin lihat sekarang bahwa Evan yang jutek dan tegas adalah seorang anak yang begitu menyayangi Mamanya. Rasanya Andin baru kali ini menemukan seorang pria yang dengan jujur mengakui kasih sayangnya kepada Mamanya.


"Pak Evan bisa saja. Ya sudah, saya kembali bekerja ya Pak. Sini, kotak bekalnya biar saya yang akan membersihkannya. Terima kasih banyak Pak Evan," balas Andin.


Gadis itu segera berdiri dan ingin keluar dari ruangan Evan. Rupanya Evan masih menyempatkan untuk memanggil nama Andin di sana.


"Andin, nanti sore aku main ke rumahmu sebentar yah. Aku antar kamu pulang saja," ucap Evan sekarang.


"Saya membawa mobil itu Pak, bagaimana?" tanyanya.


"Mobil kamu tinggal di sini saja. Besok pagi biar saya yang jemput. Kalau tidak begitu, bagaimana bisa kita pendekatan," balas Evan.


"Terserah Pak Evan saja," balas Andin.


Setelahnya Andin segera keluar dari ruangan Evan. Gadis itu memilih menuju pantry dan mencuci kotak bekal mereka. Setelahnya, Andin segera kembali ke meja kerjanya dan hendak bekerja. Mengingat pekerjaan Evan sangat banyak, tentu Andin pun harus bekerja lebih cepat dan tidak membuat kesalahan. Melihat kecepatan Evan dalam bekerja, Andin pun tergerak untuk menyesuaikan ritme kerja dengan atasannya itu dan juga berusaha membantu meringankan tugas Evan dengan semaksimal mungkin.


Begitu waktu bekerja usai, Evan yang terlebih dahulu keluar dari ruangannya segera menemui Andin. Pria itu tampak berdiri dan sedikit mengamati Andin yang masih serius bekerja.


"Andin, ayo pulang sekarang," ajaknya.


"Sebentar ya Pak, lima menit lagi. Tinggal sedikit," balas Andin.


Evan pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah, saya tunggu di dalam saja. Daripada saya di sini justru mengganggu kamu," balas Evan.


Evan pun akhirnya memilih untuk masuk kembali ke dalam ruangannya. Begitu sudah lima menit, rupanya Andin sudah beberes dan gadis itu sudah berdiri. Melihat dari kaca jendela yang memisahkan ruangan keduanya, Evan pun kembali ke luar dan kemudian segera menghampiri Andin di luar.


“Sudah selesai?” tanya Evan.


“Iya, sudah Pak Evan,” balasnya.


“Ada yang ingin kamu tuju sebelum ke rumah?” tanya Evan lagi,


“Tidak ada Pak,” balas Andin.


“Kita dilihatin staf Anda, Pak,” ucap Andin dengan lirih.


“Tidak apa-apa, biarkan saja,” balas Evan yang berjalan dengan cueknya dan Andin yang masih saja mengekori atasannya itu.


Memasuki mobilnya, kini Evan pun melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota yang sore itu macet. Evan tampak diam dan fokus menyetir, sementara Andin juga memilih diam. Sebab, ada kalanya Andin pun merasa bingung akan mengajak Evan berbicara apa.


“Menuju ke rumahmu macet ini, Andin,” ucap Evan dengan menggerakkan jari-jarinya di stir kemudi itu.


“Tidak apa-apa Pak Evan, yang penting sampai di rumah dengan selamat,” balas Andin.


“Kalau itu sudah pasti,” balas Evan dengan sedikit melirik Andin.


Perjalanan menuju rumah Andin yang biasanya ditempuh dalam waktu setengah jam pun kali ini harus ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Keduanya sampai di rumah Andin ketika hari sudah petang.


“Terima kasih banyak Pak Evan sudah mengantarkan saya,” ucap Andin.


“Sama-sama. Besok kamu ingin dijemput jam berapa?” tanya Evan.


“Terserah Pak Evan saja,” balas Andin.


“Baiklah, besok pagi aku akan menjemput kamu. Siap-siap saja, esok hari aku pasti datang,” balas Evan.


Saat keduanya masih sama-sama berbicara di dalam mobil, rupanya ada Arine yang baru pulang dari lokasi syuting. Ini merupakan kali pertama Arine pulang lebih cepat. Mungkin karena wanita itu tengah berbadan dua, sehingga petang Arine sudah berada di rumah. Arine tampak mengamati Mobil Audi yang dikemudikan oleh Evan, kemudian Arine menyorot pada Andin yang sudah di dalam mobil dan terlihat sedang terlihat perbincangan dengan Evan.


Tanpa dikira, Arine berani berjalan mendekat ke mobil milik Evan. Akan tetapi, sebelum Arine kian mendekat, Andin memilih untuk keluar dari mobil atasannya itu.


“Baiklah, Pak Evan … saya pamit yah, terima kasih sudah mengantar saya,” balas Andin.


Evan pun menganggukkan kepalanya. Pria itu tahu bahwa Arine sedang berjalan ke arah mobilnya. Namun, Evan sama sekali tak terpengaruh. Evan rupanya turut keluar dari mobilnya dan kini tampak menghentikan Andin.


“Andin, sampai bertemu besok yah,” balas Evan.


Apa yang terjadi di antara Evan dan Andin bisa dilihat jelas oleh Arine. Akan tetapi, ketika Evan keluar dari mobilnya dan memanggil nama Andin, Arine menghentikan langkah kakinya. Wanita itu menatap kepada adiknya.


“Ganjen banget sih,” ucap Arine dengan menatap tajam Andin.


“Kakak datang di waktu yang tidak diharapkan,” balas Andin.


Gadis itu memilih berlalu dari hadapan Kakaknya dan masuk ke dalam rumah. Seakan kali ini genderang perang sudah ditabuh. Benarkah Arine dan Andin akan sama-sama memperebutkan Evan Agastya?