
Selang dua hari berlalu, di awal pekan ini Evan kembali ke perusahaanya dengan bersikap biasa saja, seolah tak ada yang terjadi. Akan tetapi, ada seseorang yang ingin Evan temui dan ajak bicara sekarang ini, tentu dia adalah Andin. Ya, setidaknya Evan ingin menyampaikan terlebih dahulu bagaimana rencananya dengan Andin, dan upaya tindakan preventif jika saja kedua orang tua Andin ingkar janji kepadanya. Sehingga, Andin mengetahui tindakan apa yang Evan lakukan jika kedua orang tua Andin ingkar janji dan tidak melakukan sesuai kontrak yang akan diteken di awal.
Begitu sudah tiba di dekat ruangannya, ternyata Andin sudah terlebih dahulu datang. Gadis itu terlihat sudah sibuk bekerja di depan personal komputer yang ada di depannya.
"Pagi, Ndin ... bisa ke ruangan saya sebentar?" tanya Evan.
Andin pun berdiri dan kemudian mengikuti Evan untuk masuk ke ruangannya, "Ya, Pak Evan," balasnya.
Di dalam ruangannya, Evan tampak mempersilakan Andin untuk duduk di sofa yang berada di ruangannya terlebih dahulu, ada sesuatu yang Evan kerjakan sebentar dengan tablet miliknya. Kurang lebih lima menit, barulah Evan kemudian menyusul Andin untuk duduk di sofa itu.
"Andin, ada yang ingin saya bicarakan, terkait dengan kita berdua. Menurut kamu terlebih dahulu haruskah saya menerima pernikahan kontrak ini?" tanya Evan.
Andin tampak perlahan menatap atasannya itu, tidak mengira di jam kerja, Evan justru mengajaknya berdiskusi bersama terkait hubungan mereka berdua. Hingga Andin pun menyipitkan kedua matanya menatap Evan.
"Bagaimana ya Pak," balasnya dengan suara penuh keraguan.
"Jawab saja Andin ... setidaknya saya ingin mendengar jawabanmu, sebelum saya mengambil keputusan nanti," balas Evan.
"Harus saya jawab, Pak?" tanya Andin lagi memastikan kepada Evan.
"Jawablah ... karena aku ingin mendengar dari sudut pandangmu," balas Evan.
Andin memejamkan matanya sesaat, kemudian gadis menghela nafas, barulah kemudian Andin mulai berbicara, "Begini Pak Evan ... sebenarnya, saya tidak rela jika Pak Evan menikahi Kakak saya. Saya memang belum mencintai Pak Evan, hanya saja saya tidak suka. Namun, menyelamatkan nama keluarga saya pun adalah keputusan yang penting. Jadi, silakan Pak Evan mencari jalan tengahnya," balas Andin.
Andin secara jujur mengakui memang dia masih belum mencintai Evan, tetapi Andin juga berkata bahwa dia tidak suka. Namun, di satu sisi ada nama baik keluarganya yang harus diselamatkan juga. Andin percaya bahwa keputusan yang diambil Evan pun adalah keputusan yang terbaik. Walau di hati sangat tidak ingin, tetapi Andin mencoba memandang dari sudut pandang yang lain juga.
"Andin, seperti aku akan menerima kesepakatan itu. Aku akan menikahi Kakakmu secara kontrak ... hanya saja, aku akan membawa pengacara untuk menjadi saksi hukum dengan kedua orang tuamu. Jika masa 12 bulan usai, dan orang tuamu tidak memberikanmu kepadaku, maka aku akan menuntutnya secara perdata," balas Evan.
Mendengar bahwa Evan mengatakan bahwa akan menuntut, jika orang tua Andin tidak menepati janji, Andin pun menatap Evan dengan sorot mata yang tajam. Sebenarnya, pernikahan di bawah tangan saja tidak memiliki kekuatan hukum, hanya terikat secara agama. Akan tetapi, di sini justru Evan ingin melakukan gugatan kepada orang tuanya.
"Haruskah demikian Pak Evan?" tanya Andin lagi.
"Ya, karena aku tidak mau tertipu. Semua kesepakatan bisa dilegalkan. Lagipula, aku melakukan semuanya ini murni untuk menyelamatkan nama keluargamu saja. Aku tidak tertarik dengan Arine, bahkan aku juga tidak akan bertindak kelewat batas. Aku akan teguh pada hatiku untukmu," ucap Evan dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah Pak Evan, jika itu yang dianggap baik menurut Pak Evan," balas Andini.
"Andin, jadi tetaplah percaya kepadaku. Semua ini kulakukan dalam upaya untuk mendapatkanmu. Dalam satu tahun ini berusahalah percaya kepadaku, karena aku benar-benar sungguh-sungguh kepadamu," pinta Evan.
"Baik Pak Evan," balas Andin.
Kali ini untuk pertama kali dalam hidup, Andin akan berusaha percaya dengan seorang pria. Menaruh pengharapannya, walau dia tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Hanya saja, Andin yakin bahwa Evan bisa dipercaya. Terkait dengan tuntutan Evan, kali ini Andin pun akan mengikuti apa yang Evan rencanakan. Jika memang hanya kesepakatan, maka begitu masa berakhir, selesai sudah kesepakatan yang terjalin.
Selang dua hari berlalu ....
Evan dan seorang pengacara kepercayaannya pun datang ke kediaman Andin lagi. Kali ini Evan dan orang tua Andin bertemu untuk menekan kesepakatan di antara keduanya. Jika dari keluarga Andin hanya meminta pernikahan kontrak saja selama 12 bulan dan membebaskan Evan dari pernikahan itu selesai. Sementara dari pihak Evan menekan beberapa hal:
1. Pernikahan hanya terjadi secara kontrak\, tidak menuntut hak dan kewajiban sebagai suami dan istri.
2. Dalam masa 12 bulan\, jika masa berakhir\, maka berakhir pula seluruh hubungan dengan Arine.
3. Begitu pernikahan usai\, kedua orang tua Andin harus menikahkan Evan dengan Andin secara sah agama dan hukum.
4. Adanya tuntutan kepada kedua orang tua Andin jika tidak menyepakati kesepakatan yang sudah dijalin.
Tampak Papa Miko membaca poin demi poin yang disodorkan oleh pengacara Evan, kemudian Papa Miko pun tersenyum kepada Evan, "Kamu tidak percaya kepada saya bahwa saya tidak akan ingkar janji yah?" tanyanya.
Dengan cepat Evan mengedikkan bahunya, "Bukan masalah percaya atau tidak percaya, tetapi untuk membuat seseorang berlaku setia dengan kesepakatan yang sudah dibuat. Jika Om Miko tidak bersedia, saya juga tidak masalah karena memang saya tidak rugi sama sekali," balas Evan.
Papa Miko pun menatap Evan dengan sorot matanya yang tajam, baru kali ini ada seorang pemuda yang bahkan sudah melakukan tindakan preventif terlebih dahulu. Rasanya Evan memang seseorang yang jeli dan tidak akan mudah terperdaya.
"Bisa-bisanya kamu," sahut Papa Miko.
"Biasanya saja, Om ... di sini justru saya yang dirugikan. Saya datang dengan niat tulus meminang Andin, tetapi Om justru meminta saya menikahi Arine. Siapa yang mulai terlebih dahulu?" balas Evan.
"Lalu, apakah sungguh-sungguh akan menuntut mertuamu sendiri?" tanya Papa Miko lagi.
"Kenapa tidak Om? Mereka yang ingkar janji bisa dijatuhi dakwaan bahkan hukuman. Saya masih baik, Om Miko ... jika tidak saya bisa membawa lari Andin, atau bisa membuat hamil duluan sebelum saya menikahinya. Akan tetapi, saya tidak melakukannya karena saya pria beradab yang tidak akan merusak harga diri seorang gadis," balas Evan dengan sungguh-sungguh.
Di sini Papa Miko disadarkan bahwa Evan memang orang yang jeli. Pemuda itu terlihat tegas dan juga menghormati harga diri seorang diri. Justru Papa Miko merasa bahwa di kemudian hari, Andin pasti akan sangat bersyukur karena memiliki suami seperti Evan.
"Baiklah ... deal. Saya sepakat," balas Om Miko.
"Baik Om," balas Evan.
Kemudian keduanya sama-sama menandatangani kesepakatan itu di atas meterai, dan tentu konsekuensi bagi pihak yang melanggar akan berlaku juga. Kemudian Papa Miko pun kembali bertanya kepada Evan.
"Kapan kamu siap menikahi Arine?" tanya Papa Miko.
"Saya siap kapan pun, tetapi saya pun memiliki akses untuk mendekati Andin, karena gadis yang saya sukai adalah Andin," balas Evan.
Andin yang saat itu mendengar kesepakatan hitam di atas putih pun juga melirik kepada Evan. Mungkinkah Evan sungguh-sungguh dengan ucapannya. Jika menikah nanti Evan akan menjadi Kakak Iparnya, tetapi pantaskah jika main hati dengan Ipar sendiri?