
Andin merasakan perutnya kian melilit, sampai rasanya Andin tak tahan lagi. Wanita menyandarkan kepalanya di meja kerjanya, dengan tangan yang masih memegangi perutnya yang sakit. Selain itu ulu hatinya juga terasa panas. Keringat dingin pun dengan sendirinya mengalir di kening Andin. Sayangnya, di saat maagnya kambuh, Andin tidak membawa obat maag dan juga tidak ada makanan di tasnya.
Gadis itu menundukkan keningnya bertumpu dengan meja kayu di depannya dan berharap bahwa dirinya bisa bertahan sedikit lagi, supaya dia tidak tumbang. Andin tidak ingin harus tumbang di saat apa yang dia kerjakan memang baru dinantikan oleh atasannya. Kalau tumbang lebih baik nanti saat sudah di rumah saja. Namun, yang namanya penyakit kadang kita juga tidak bisa menawarnya. Semua terjadi dengan sendirinya.
Sampai akhirnya satu jam kemudian, Evan kembali lagi ke kantor dan dia cukup terkejut melihat Andin yang menundukkan keningnya di meja kerjanya. Dengan segera Evan pun mengetuk meja kerja Andin yang terbuat dari kayu itu.
“Andin ….”
Evan mencoba untuk memanggil sekretaris magangnya itu, dengan mengetuk meja kayu itu.
Tok … tok … tok …
Merasa namanya dipanggil, Andin pun perlahan mengangkat wajahnya. Wajah itu cukup pucat, dan keningnya yang sudah pasti menghasilkan bulir-bulir keringat dingin.
“Ya, Pak Evan,” sahut Andin dengan suaranya yang lirih.
“Kamu kenapa, ini wajah kamu pucat loh,” ucap Evan yang tampak panik melihat wajah Andin yang pucat.
“Enggak apa-apa, Pak … palingan nanti juga sembuh sendiri, maag saya kambuh,” balas Andin dengan masih memegangi perutnya dengan satu tangannya.
Evan menghela nafas, rasa kesal yang dia rasakan sejak semalam, sirna begitu saja melihat Andin yang mengaku sedang kambuh maagnya. Evan segera berdiri di samping Andin, dan merangkul bahu gadis itu.
“Ayo, ikut saya,” ucapnya.
“Hmm, kemana Pak?” tanya Andin yang benar-benar bingung. Apalagi tangan yang kokoh dan telapak tangan yang hangat kala menyentuh bahunya dan posisi yang sedikit ini dengan atasannya membuat Andin tidak nyaman dan juga sungkan.
“Ikut saja,” balas Evan.
Rupanya, Evan membawa Andin untuk masuk ke dalam ruangannya. Menapah Andin untuk berjalan, dan kemudian menyuruh Andin untuk berbaring di sofa miliknya yang ada di dalam ruangannya.
“Istirahatlah … sebentar, aku carikan sesuatu,” ucap Evan.
“ …, tapi Pak,” balas Andin.
“Lakukan saja,” balas Evan yang lagi-lagi ucapannya begitu tegas dan juga tidak ingin dibantah.
Mau tidak mau, Andin duduk di sofa dan menyandarkan bahunya di punggung sofa. Gadis itu masih memegangi perutnya yang terasa begitu sakit. Bahkan beberapa kali Andin masih mendesis karena rasa panas sampai ke ulu hatinya. Ini benar-benar sakit yang teramat sakit.
“Kamu bawa obat maag?” tanya Evan kemudian.
“Enggak, Pak … ketinggalan,” balasnya.
Evan menghela nafas kasar, kemudian pemuda itu segera keluar dari ruangannya dan tempat yang dia tuju sekarang adalah kantin perusahaan. Evan meminta untuk menyiapkan Bubur Ayam dan Teh hangat untuknya, selain itu Evan juga mencari obat maag yang mungkin saja ada di ruang perawatan kesehatan yang ada di perusahaannya. Lagipula, ada tenaga medis yang memang disediakan secara khusus di perusahaan property itu.
“Permisi, boleh saya meminta obat maag?” tanya Evan yang kali pertama mendatangi ruang perawatan kesehatan yang berada di perusahaannya itu.
“Boleh Pak Evan, sebentar akan saya berikan.” balas petugas kesehatan di sana.
Tidak berselang lama, beberapa obat maag mulai yang bentuknya tablet berwarna hijau, bahkan yang bentuknya cair pun diberikan kepada Evan.
“Ini Pak Evan … sebaiknya diminum setelah makan, kemudian hindari makanan yang pedas dan juga berlemak,” balas petugas kesehatan itu lagi.
“Baiklah, terima kasih banyak,” balas Evan.
“Andin, bangunlah … ayo makan dulu, dan setelahnya minum obat,” ucap Evan perlahan.
Merasa namanya dipanggil, Andin pun menegakkan punggungnya. Kemudian gadis itu menoleh ke arah Evan.
“Makan dulu dan minumlah obat maag,” balas Evan kemudian.
Andin mengangkat telapak tangannya hendak menerima Bubur Ayam dengan uapnya yang masih mengepul itu, tetapi Evan dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Buka mulutmu,” balas Evan.
Sungguh, rasanya Andin begitu terkesiap. Kenapa jika seperti ini, Evan terlihat begitu baik dan peduli dengannya? Padahal beberapa jam sebelumnya, Evan terlihat jutek bahkan mendiamkan Andin. Kini, justru Evan menunjukkan sikap seorang pria yang sangat baik.
“Saya masih bisa makan sendiri, Pak Evan,” sahut Andin dengan lirih.
“Satu suapan saja … setelah itu kamu bisa makan sendiri,” balas Evan.
Andin pun bak terhipnotis dengan aura yang dipancarkan atasannya itu. Gadis itu pun segera menganggukkan kepalanya dan segera membuka mulutnya, menerima suapan satu sendok Bubur Ayam itu dari tangan Bosnya sendiri.
“Pelan-pelan saja,” ucap Evan kemudian.
Wajah pria itu memang tampak begitu datar, tetapi tampak jelas kepedulian Evan kepada Andin. Diperlukan sedemikian rupa oleh Bosnya sendiri membuat Andin senang, bingung, canggung, dan berbagai perasaan yang seolah bercampur menjadi satu.
“Biar saya makan sendiri Pak Evan,” pinta Andin kemudian.
Evan pun menyerahkan mangkuk berisi Bubur Ayam itu ke dalam nampan dan kemudian menaruh nampan itu di paha Andin, tujuannya tentu supaya tidak panas. Ada nampan yang bisa menahan kalor/panas dari mangkuk kaca itu.
“Biar tidak panas,” ucap Evan.
“Makasih Pak Evan,” balas Andin.
Evan pun kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, dan mengamati Andin yang baru memakan Bubur Ayam itu. Kenapa bisa gadis itu memiliki maag. Padahal Andin termasuk gadis yang keras kepala bahkan begitu berani kepadanya. Hanya kurang dari satu jam, Evan keluar, justru gadis itu kesakitan karena maagnya kambuh.
“Sudah lama kena maag?” tanya Evan kemudian.
“Hmm, iya … sejak SMP,” balas Andin.
“Hindari makanan pedas dan berlemak, selain itu jangan telat makan,” ucap Evan lagi.
“Iya Pak Evan,” balas Andin dengan menganggukkan kepalanya.
Susah payah Andin memakan Bubur Ayam itu, dan kemudian Evan memberikan obat maag berwarna hijau dan air putih kepada Andin. Memintanya untuk meminumnya sekarang juga, supaya obat itu bekerja dan bisa meredakan gejala maag.
“Terima kasih banyak Pak Evan … saya kembali bekerja,” ucap Andin yang hendak berdiri dengan membawa nampan dan bekas peralatan makan miliknya.
Akan tetapi, dengan cepat Evan menggelengkan kepalanya, “Istirahatlah di ruang perawatan saja. Di lantai tiga. Gunakan separuh hari ini untuk beristirahat,” perintah Evan kemudian.
Andin tampak bingung dengan perintah yang disampaikan Bosnya itu. Bukankah seharusnya pekerjaannya harus selesai dalam sehari. Lalu, kenapa sekarang Evan justru menyuruhnya untuk beristirahat. Lantas, bagaimana dengan pekerjaannya?
“Pak, tapi pekerjaan saya belum selesai,” jawab Andin dengan jujur.
“Tidak apa-apa … istirahatlah dulu, pulihkan kesehatanmu. Bekerja itu penting, tetapi kesehatan jauh lebih penting,” balas Evan.
Agaknya perawatan yang diberikan Evan seolah mengetuk hati Andin. Di kala dia sakit ada yang merawatnya dengan tulus. Ya, walaupun Evan masih terlihat begitu tegas, tetapi ini sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan perawatan yang sangat baik dari Atasannya itu.