Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Menerima Tantangan


Tidak terasa, sudah sebulan lebih waktu berlalu. Di kantornya, Evan dan Andin juga lebih bisa menerima keadaan. Terlebih Andin yang mulai tidak banyak membangkang. Justru Andin menjadi sekretaris yang penurut sekarang. Sampai ada masa di mana Evan juga bingung sendiri dengan Andin yang justru jarang membangkangnya. Padahal, biasanya Andin adalah seorang yang keras kepala dan berkemauan keras.


“Andin, tolong ke ruangan saya sebentar,” panggilan Evan melalui mesin interkom yang bisa dipakainya untuk berbicara dengan Andin.


“Baik Pak,” sahut Andin.


Tidak menunggu lama, Andin pun berdiri dan segera mengetuk pintu ruangan Evan terlebih dahulu dan kemudian memasuki ruangan Wakil Presiden Direktur itu. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Andin kepada Evan.


“Bisa nanti temani saya untuk rapat ke Jaya Corp, salah satu mitra kami untuk melakukan proyek yang akan datang,” ucapnya.


“Jam berapa Pak?” tanya Andin.


“Jam 10.00 kita berangkat bisa?” tanya Evan kemudian.


“Bisa Pak Evan,” jawab Andin kemudian.


Rapat kali ini akan diadakan jam 11.00, tetapi mengingat macetnya kota Jakarta. Sehingga, Evan mengajak Andin untuk berangkat satu jam lebih awal. Menunggu di Jaya Corps terlebih dahulu tidak masalah, daripada terlambat.


“Nanti jangan lupa untuk membuat notulen selama rapat berlangsung yah, dan juga kalau sudah di kantor, notulen rapat berikan kepada saya,” ucap Evan yang kali ini sudah mengendarai mobilnya, memacunya menuju Jaya Corp, salah satu perusahaan konstruksi yang besar di negeri ini.


“Baik Pak Evan … Jaya Corps ini perusahaan konstruksi kan Pak?” tanya Andin dengan tiba-tiba.


“Iya, benar … kamu tahu Jaya Corps?” tanya Evan kepada Andin.


“Hanya pernah dengar … dosen kuliah saya yang bilang kalau Jaya Coprs adalah perusahaan konstruksi yang besar dan bonafit juga,” balas Andin.


“Oh, ya … kenapa enggak magang di Jaya Corps saja waktu itu?” tanya Evan.


“Sudah terlanjur mengajukan magang di Agastya Properti,” sahut Andin dengan jujur.


Mendengar apa yang Andin katakan, Evan pun menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya. “Lebih enak di Agastya Property bisa ketemu saya … di Jaya Corps, pemimpinnya Bu Kanaya, dan putranya yang menjadi Kepala Arsitektur di sana, cakep juga hanya saja sudah menikah,” sahut Evan dengan tiba-tiba.


“Yah, saya magang kan enggak nyari yang cakep Pak,” sahut Andin yang menegaskan bahwa dia magang itu untuk menimba ilmu. Bukan hanya untuk melihat staf atau atasan yang bening dan tampan.


Mendengar Andin yang justru menilai bahwa Elkan yang jauh lebih cakep darinya, Evan pun mendengkus dengan senyuman di wajahnya lagi. “Elkan memang tampan. Sejak bayi dia sudah begitu tampan dan kulitnya seperti Mama, putih. Sementara saya lebih kayak Papa, agak coklat. Cuma, jang coba-coba mengganggu Evan, karena dia sudah ada yang punya,” tegas Evan.


“Wah, Elkan sudah ada yang punya yah … duluan Adiknya daripada Bapak dong. Pasti sih, cakep soalnya,” balas Andin lagi yang terlihat memuji Elkan.


“Tidak baik memuji pria lain, sementara di samping kamu ada yang ngajakin kamu serius loh. Gimana mau enggak kalau saya seriusan sama kamu?” tanya Evan dengan tiba-tiba.


Kali ini, jantung Andin berdegup lebih kencang. Rasanya begitu kikuk dan canggung di waktu yang bersamaan. Ini adalah kali kedua Evan mengutarakan niatnya untuk mengajak Andin melangkah ke hubungan yang serius. Hanya saja, serius yang dimaksud oleh Evan adalah menikah, bukan berpacaran. Evan lebih memilih untuk benar-benar melangkah ke pernikahan. Sebab, jika hanya berpacaran semuanya penuh coba-coba dan membawa dosa, karenanya Evan tidak menginginkan itu.


“Jawab saja … urusan cinta nanti bisa tumbuh dengan terbiasa. Cuma kalau sah kan enak, tidak ada dosa di antara kita,” balas Evan lagi.


Andin masih diam, secara materi memang Evan sudah mapan dan posisinya sebagai Wakil Direktur tentu adalah sebuah prestige tersendiri. Secara penampilan, Evan juga begitu tampan dan perawakannya bagus. Namun, benarkah cinta bisa tumbuh dengan sendirinya karena terbiasa nanti? Bagaimana jika sudah melangkah ke jenjang yang serius, sudah terbiasa, tetapi cinta juga belum tumbuh? Lantas jika terjadi kontak fisik, itu karena cinta atau hasrat semata?


Memikirkan semua itu, Andin menghela nafas sejenak dan kemudian melirik ke arah Evan yang sedang menyetir mobil Audi miliknya.


“Pak Evan seserius itu nawarin saya?” tanya Andin dengan menundukkan wajahnya.


“Hmm, saya? Iyalah … ini tawaran kedua saya, Andin. Bagaimana mau tidak?” tanya Evan lagi.


“Pak Evan berani datang ke rumah saya dan meminta saya secara baik-baik kepada Mama dan Papa saya?” tanya Andin.


“Iya, berani. Saya adalah pemuda yang pemberani. Sekadar meminta baik-baik pasti akan saya lakukan,” sahut Evan.


“Mau mencoba datang ke rumah dan melakukan itu?” tanya Andin lagi.


“Oke, siapa takut … kapan?”


“Nanti saya kabarin. Saya akan bilang ke Mama dan Papa dulu kalau ada pemuda yang datang ingin serius dengan saya,” balas Andin lagi.


Entah, apa yang sedang dipikirkan keduanya. Ingin serius dan mencoba semuanya ketika sudah ada satu ikatan yang sah. Akankah ini benar-benar menjadi awal yang baik bagi Evan dan Andin atau justru sebaliknya?