Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Hanya Alasan


Sementara itu, di dalam perjalanan tampak Andin yang memilih diam. Seolah-olah sekarang yang Andin rasakan adalah dia telah ditinggal nikah oleh kekasihnya. Sungguh, rasanya dadanya begitu sesak. Kata-kata pun tak ada yang terucap. Akan tetapi, Andin memilih diam. Toh, Evan yang mengemudikan mobil juga masih diam.


Akan tetapi, Andin cukup bingung karena arah yang Evan tuju sekarang bukanlah perusahaan atau area perkantoran yang letaknya tidak jauh dari Agastya Properti, melainkan ke arah yang sama sekali bukan ke area perkantoran. Hingga akhirnya, Andin pun membuka suaranya.


"Kita mau ke mana Pak Evan?" tanya Andin kemudian.


"Menyegarkan pikiran sejenak," balas Evan.


Benarlah, tempat yang Evan tuju sekarang adalah kawasan Pantai Karnival Ancol. Agaknya pantai menjadi tempat yang diinginkan Evan untuk dikunjungi sekarang ini. Setidaknya melihat pantai, deburan ombak, dan angin yang semilir bisa menenangkan diri mereka.


"Ke pantai, Pak?" tanya Andin.


"Iya," balas Evan dengan singkat.


"Kita tidak jadi menemui klien, Pak?" tanya Andin lagi kepada atasannya itu.


"Tidak ... itu hanya alasan saja supaya aku bisa mengajakmu keluar Andin. Jujur saja, aku tidak betah berada di rumahmu. Aku tidak suka berlama-lama dengan Arine di sana," balas Evan secara jujur.


Di sini yang menjadi istrinya adalah Arine, tetapi Evan merasa bahwa dirinya sama sekali tidak nyaman dengan Arine. Mengajak Andin menemui klien hanya sebuah alasan saja, karena yang pasti Evan hanya ingin terbebas dari keluarga Andin. Bahkan berbicara dengan Arine pun tidak dia lakukan, karena memang tidak tertarik. Begitulah Evan, dia akan kembali ke sifatnya yang dingin dan cuek. Namun, kepada orang-orang yang membuatnya nyaman, Evan bisa berbicara banyak hal,


Begitu tiba, Evan segera memarkirkan Mobil Audi miliknya dan kemudian mengajak Andin untuk berjalan-jalan sejenak menyisiri pantai yang siang itu terlihat cukup lengang. Sehingga keduanya bisa leluasa berjalan bersama. Benar yang Evan katakan, melihat pantai dengan deburan ombaknya, serta merasakan angin yang bertiup membuat kelegaan sendiri.


"Sejak tadi aku mencarimu," ucap Evan dengan menghentikan langkah kakinya dan menatap kepada Andin yang berdiri di sampingnya.


"Hmm, iya Pak ... hanya saja, saya kan sudah bilang kalau saya tidak akan melihat kala Pak Evan mengucapkan akad," balas Andin.


Evan menganggukkan kepalanya. Ya, dia ingat kala Andin mengatakan bahwa dia tidak akan melihat Evan kala mengucapkan akad. Namun, tetap saja di rumah Andin yang selalu Evan cari adalah Andin seorang. Kepada Arine pun, Evan sama sekali tidak tertarik.


"Apakah pernikahan Pak Evan dengan Kakak saya hanya sebatas itu saja Pak?" tanya Andin kemudian.


"Iya, apa lagi yang bisa diharapkan dari pernikahan ini," balas Evan.


"Kenapa di sini saya seolah menjadi orang ketiga di dalam pernikahan kalian," ucap Andin.


Mungkin kali ini Andin merasa garis takdri yang Tuhan gariskan begitu perih baginya. Baru pertama tertarik dengan seorang pria, tetapi sudah harus merasa kecewa. Baru percaya menaruh kepercayaan kepada pria, tetapi dia harus menunggu dalam kurun waktu 12 bulan lamanya.


Evan diam. Sepenuhnya dia tahu bagaimana perasaan Andin sekarang ini. Hanya saja, Evan pun tidak bisa berbuat banyak. Di dalam pernikahan kontrak ini banyak yang dirugikan. Evan dengan ikatan hatinya, Andin dengan perasaannya yang resah, dan juga Arine yang merasa mengambil milik Andin dan juga bukan Evan pria yang dia cintai.


"Bukan kamu orang ketiganya, karena dari awal saya itu tertarik kepadamu. Namun, jalannya memang harus seperti ini. Tahukah kamu, siapa sebenarnya yang menghamili kakakmu itu?" tanya Evan.


Andin menggelengkan kepalanya secara samar, "Tidak ... saya tidak tahu. Hanya saja, pria terakhir yang saya lihat datang ke rumah bersama dengan Kakak saya adalah Thomas, rekan artisnya," balas Andin.


Ya, ingatan Andin jatuh pada Thomas. Pria yang kala itu datang ke rumahnya dengan Arine. Namun, Andin pun tidak tahu pasti apakah Thomas itu kekasihnya Arine atau tidak. Sebab, memang Arine sendiri dekat dengan beberapa pria.


"Thomas? Thomas siapa?" tanya Evan lagi.


"Thomas Anthonius," balas Andin. "Dia pemain sinetron juga, tetapi berbeda judul dengan yang baru dibintangi Kak Arine. Hanya saja, saya juga tidak tahu dia itu kekasihnya atau tidak. Saya terlalu sibuk bekerja dengan pekerjaan yang begitu menumpuk. Sehingga, memang saya tidak terlalu tahu kehidupan pribadi Kakak saya," balas Andin.


Evan kemudian menganggukkan kepala lagi, "Jika, pria itu akan bertanggung jawab, maka saya akan membiarkannya. Sebab, saya menikah bukan untuk mengikat Kakakmu. Satu-satunya wanita yang ingin saya nikahi secara sah adalah kamu," balas Evan lagi.


Sungguh, andai saja situasi tidak pelik seperti ini sudah pasti Andin akan sangat senang mendengar kata-kata Evan. Namun, yang berbicara kepadanya sekarang adalah Kakak Iparnya. Sedih rasanya mendengar kata-kata manis dan penuh niat yang tulus itu dari Kakak Iparnya sendiri.


"Pantaskah Pak Evan berbicara demikian kepada saya? Bukankah di sini Pak Evan adalah Kakak Ipar saya?" balas Andin.


"Jangan menyebutku Kakak Ipar, Ndin ... sebut aku calon suamimu," pinta Evan.


Kali ini Andin menggelengkan kepalanya dengan tersenyum getir di dalam hati, "Tidak bisa Pak Evan. Untuk masa 12 bulan ini pun jangan mencoba untuk melanggar batas. Di perusahaan kita adalah atasan dan sekretarisnya, sementara di luar itu kita adalah Saudara Ipar," balas Andin.


Ya Tuhan, ini adalah kisah cinta yang begitu pelik. Kisah cinta yang penuh kesesakan dan juga air mata. Ingin berdiri di posisi masing-masing, tetapi hati meminta lebih. Ingin melupakan, tapi hati pun tidak menginginkannya. Hati Andin rasanya begitu sesak. Tidak mungkin juga, dia menganggap Evan adalah calon suaminya sendiri padahal usia pernikahan Evan dengan Arine belum ada 24 jam berlalu.


Pernikahan kontrak yang benar-benar menjerat Andin dan Evan. Entah sampai kapan mereka bisa bertahan. Namun, kenapa semua terasa begitu sulit dan menyesakkan. Bisakah menahan hati dan juga menjaga ikatan yang terjalin di antara mereka bertiga.