Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Istri yang Tidak Peka


Ketika seseorang mengatakan terserah, sebenarnya itu memiliki makna yang ambigu. Pertama 'terserah' dalam artinya benar-benar tidak keberatan dan memasrahkan kepada pihak pertama. Kedua 'terserah' dalam artinya ada rasa kesal karna ketidakpekaan pihak pertama.


Sementara kali ini, kata terserah yang diucapkan Evan lebih kepada makna yang kedua. Evan merasa memang kali ini istrinya itu sedang tidak peka.


Sehingga begitu telah tiba di rumah, Evan memilih segera mandi. Bahkan pria itu menjadi irit berbicara dan memilih untuk tidur terlebih dahulu.


"Mas, sudah mau tidur?" tanya Andin kemudian.


"Hmm, iya … aku ngantuk," balas Evan.


Andin tertegun melihat Evan yang benar-benar naik ke atas ranjang dan menyelimuti dirinya. Padahal Andin duduk di meja belajar dan bersiap mengerjakan skripsi Bab 2, tetapi suaminya itu tampak tidur terlebih dahulu.


"Serius tidur Mas? Aku masih mengerjakan skripsi loh."


Andin kembali berbicara, sayangnya Evan sudah menutup matanya di sana. Pria itu agaknya benar-benar kesal sekarang. Niat hati hanya ingin mendapatkan nafkah batin, tetapi istrinya yang tidak peka. Oleh karena itu, Evan memutuskan untuk tidur lebih awal.


Andin memilih kembali mengerjakan skripsinya dan nyaris tengah malam, barulah Andin selesai. Begitu dia sudah selesai, wanita itu segera berbaring di sisi suaminya, tetapi terlihat Evan yang benar-benar terlelap ke alam mimpi.


***


Keesokan harinya …


Evan bangun terlebih dahulu dengan wajah yang masam. Efek lebih dari seminggu dan tidak tersentuh, ladang batinnya meronta-ronta rasanya. Sampai rasanya, Evan mengusapi wajahnya dengan begitu kasar pagi itu. Bahkan pria tampan itu, bangun dan langsung beranjak ke dalam kamar mandi.


“Mas Evan,” ucap Andin dengan lirih dan perlahan membuka kelopak matanya.


Namun, Andin mendengar ada suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Oleh karena itu, Andin merasa lega, itu artinya suaminya sudah bangun dan sekarang berada di dalam kamar mandi. Merasa lega, Andin pun bangun dan turun ke dapur menyiapkan sarapan.


Cukup lama Andin berada di dapur, sampai sarapan untuk pagi itu sudah tersaji di atas meja makan, tetapi suaminya juga belum turun ke bawah. Akhirnya, Andin memilih untuk memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, dan mulai mencucinya. Barulah Andin kembali ke dapur, rupanya di sana Evan sudah duduk, dan menyesap kopi hitam yang sudah dibuatkan oleh Andin sebelumnya.


“Mas,” sapa Andin kemudian.


“Hmm, iya,” sahut Andin dengan singkat.


Bahkan karena begitu tidak pekanya Andin, wanita itu pun langsung duduk di meja makan dan menikmati sarapannya. Sekilas Evan memperhatikan Andin di sana, menerka apakah memang istrinya itu tidak peka sama sekali atau apa? Bagaimana bisa seorang istri tidak peka dengan kebutuhan batin suaminya sendiri.


Merasa kian pusing, akhirnya Evan segera memakan satu roti bakar, dan menghabiskan kopinya. Setelahnya dia berpamitan kepada istrinya itu.


“Aku berangkat ke kantor dulu yah … ada banyak laporan yang harus aku review,” pamitnya.


Andin pun segera menganggukkan kepalanya, “Iya … hati-hati ya Mas Evan. Kalau sudah sampai di kantor jangan lupa untuk kabarin aku. Seharian ini aku di rumah saja, mau selesaikan skripsi dulu. Semangat ya kerjanya Mas,” balasnya.


Akhirnya, Evan pun dengan perasaan yang sebal memilih untuk segera berangkat ke kantor. Di dalam mobilnya, pria itu mende-sah kesal, “Aku yang salah, atau kamu yang tidak memahami aku sih, Yang? Aku cuma ingin ladang batinku disemai, tetapi kamu sama sekali tidak peka. Huh, kenapa jadi seperti ini,” gumamnya dengan kesal.


Percayalah, hanya sekadar ketidakpekaan dari pasangan, maka hati bisa merasa begitu kesal dan rasanya menjadi uring-uringan. Itulah yang dirasakan Evan sekarang ini. Dia yang salah karena pusing dan dilandai hasrat yang bergelora, atau memang istrinya yang tidak peka dan tidak memahami kebutuhannya sebagai seorang suami, sebagai seorang pria dewasa.