Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Arine dan Rendra


Sementara itu di Australia, Arine dan Rendra sudah pulang ke unit apartemen yang ternyata dimiliki keluarga Rendra yang juga berada di kawasan Sydney. Jika sebelumnya, Arine tinggal bersama Tantenya. Sekarang, tidak lagi. Dia akan memulai kehidupan berumah tangga bersama dengan Rendra, suaminya.


"Ini apartemen yang akan kita tempati sementara di Sydney, Rine. Nanti kalau kamu sudah melahirkan, kita akan kembali ke Jakarta kan?" tanya Rendra kepada Arine.


"Iya, cuma tentu menunggu babynya sudah aman diajak naik pesawat," balas Arine.


"Aku sudah memiliki rumah di Jakarta nanti. Bisa kita tempati bersama. Kamu istirahat saja. Selama di Australia, aku akan kerja dari rumah. Jadi, tenang saja. Selalu menemani kamu di sini," balas Rendra.


Arine pun menganggukkan kepalanya. Wanita itu tampak mengamati sisi demi sisi ruangan yang dia tempati sekarang ini. Memang apartemen lebih cocok untuk pengantin baru. Apalagi, Arine juga tidak akan selamanya tinggal di Sydney, nanti dia akan kembali ke Jakarta juga, sehingga memang menempati rumah lebih baik ketika sudah berada di Jakarta.


"Makasih Ren," balas Arine kemudian.


Sejak siang itu, keduanya seolah masih menjaga jarak. Memang tidak mudah memulai rumah tangga dalam keadaan seperti Arine dan Rendra. Dulu, memang keduanya saling cinta. Namun, setelah Rendra mengatakan tidak ingin bertanggung jawab, rasanya hati Arine rasanya tersakiti, hingga Papanya menyarankan untuk melakukan pernikahan dengan Evan yang kini sudah menjadi adik iparnya.


“Rine, sini … duduklah di sini,” pinta Rendra kepada istrinya.


Arine pun mencoba berdiri dan bergabung dengan Rendra di sofa yang berada di sudut kamar mereka. Arine duduk dan mengambil jarak dari suaminya sendiri. Ketika Arine sudah duduk, Rendra yang menggeser duduknya sehingga kini pria itu bisa duduk di dekat Arine dengan lengan yang sama-sama menempel di sana.


“Rine … maafkan aku untuk salahku dulu yah. Aku benar-benar bersalah,” ucap Rendra kali ini. Sebelumnya Rendra juga sudah meminta maaf, tetapi Arine hanya menganggukkan kepala saja dan hubungan keduanya masih dingin. Bahkan dua hari menginap di hotel bintang lima usai pernikahan saja, sikap Arine juga masih dingin.


Sekarang, ketika mereka sudah sama-sama berada di dalam unitnya. Rendra ingin meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada Arine. Salahnya mungkin tak termaafkan. Namun, Rendra sudah menunjukkan bentuk tanggung jawabnya dan juga akan terus menjaga Arine.


“Pernikahan kita kali ini hanya sampai anak ini lahir atau sampai kapan?” tanya Arine kemudian.


“Kalau aku ingin bersamamu untuk selamanya?” balas Rendra.


Rendra menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya, “Maaf Rine … sekarang aku benar-benar minta maaf. Aku akan bertanggung jawab untuk kamu dan anak kita. Nanti jika sudah kembali ke Jakarta, aku akan kembali bekerja di kantor. Jadi, jangan khawatir. Aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu,” balas Rendra dengan sungguh-sungguh.


“Restu dari orang tuamu bagaimana?” tanya Arine kemudian.


“Jangan memikirkan itu. Aku akan berusaha meyakinkan Papa dan Mama. Nanti kalau di Jakarta kan aku bisa menyampaikan lagi. Mama dan Papa juga tahu aku ke Sydney untuk menikah dan tinggal di sini sementara sampai bayi kita lahir,” balas Rendra lagi.


Rendra kini membawa tangannya dan memberikan usapan di perut Arine yang kian menyembul itu.


“Apa selama ini kamu morning sickness?” tanya Rendra.


Ada gelangan samar kepala Arine, “Tidak … aku sehat-sehat saja,” balasnya.


“Apa selama ini hamil sendiri sakit?” tanya Rendra.


“Bukan sakit, lebih ke terluka. Kamu yang menghamiliku, tetapi penolakan kamu saat itu masih aku rasakan sampai sekarang. Mungkin aku menikah denganmu untuk anakku saja, Ren. Supaya dia mendapatkan status dari Papanya. Jika untuk kehidupannya, aku bisa kembali syuting usai persalinan nanti. Papa dan Mama juga lebih dari cukup untuk bisa membantuku secara finansial,” balas Arine.


Kali ini Arine menjelaskan secara detail bahwa pernikahannya hanya supaya anaknya menjadi status dari Ayah Biologisnya saja. Sementara untuk masalah finansial, dia yakin bahwa dirinya dan keluarga besarnya bisa membantunya. Untuk finansial ibarat kata sudah aman. Namun, anaknya membutuhkan sosok Ayahnya. Walau sebenarnya terlambat karena kehamilan Arine sudah berjalan lima bulan sekarang.


“Jangan seperti itu, Rine … kita bisa membina rumah tangga yang bahagia berdua, tidak … bertiga dengan bayi kita nanti. Aku menyesali kesalahanku dan aku minta maaf. Aku akan buktikan bahwa Rendra yang sekarang sudah benar-benar berubah,” balasnya.


Arine melirik sekilas kepada Rendra, “Buktikan saja, Ren … lagipula, sekarang kita juga sudah satu atap kan, banyak waktu bagimu untuk membuktikan bahwa sekarang benar-benar telah berubah. Sehingga aku bisa membuang keraguanku ini,” jawab Arine.


Ya, dengan keduanya yang sudah tinggal satu atap, sekarang Arine akan memberikan waktu kepada Rendra untuk membuktikan diri bahwa pria itu benar-benar sudah berubah. Banyak waktu yang bisa mereka lalui bersama dan Ervita berharap mungkin saja keraguan di hatinya dengan Rendra seiring dengan berjalannya waktu akan terkikis dan digantikan dengan rasa percaya.