Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Sekaligus Konsultasi


“Bu Arsyilla, bisa tidak saya tanya-tanya tentang Skripsi?” tanya Andin dengan malu-malu dan agak takut karenanya.


Kali ini Evan memilih diam karenanya membiarkan Andin untuk berbicara dan melihat usaha istrinya itu. Sehingga Evan tidak ingin ikut campur, walau sebenarnya Evan bisa saja meminta langsung supaya istrinya Aksara itu bisa menolong Andin. Namun, jika Evan melakukan itu rasanya begitu tidak etis.


“Bisa, tapi cuma sebentar,” balas Arsyilla pada akhirnya.


Andin pun tersenyum, waktu yang hanya sebentar harus dia manfaatkan dengan sebaik mungkin, “Saya masih bingung untuk menentukan judul Bu? Membuat judul atau masalah dulu?” tanya Andin dengan begitu polosnya.


“Tentukan masalahnya dulu, jika sudah ada masalahnya, tinggal menyusun judulnya,” balas Arsyilla.


Andin menganggukkan kepalanya, “Saya ingin mengangkat tentang Rancang Bangun, bisa tidak saya nanti meminta ke Biro Skripsi untuk Dosen Pembimbingnya Bu Arsyilla saja?” tanya Andin.


Kali ini tampak Arsyilla yang tertawa, “Coba saja yah … walau sebenarnya penunjukkan Dosen Pembimbing itu tergantung Kepala Biro. Jadi, saya hanya menerima saja mahasiswa mana saja yang harus saya bimbing. Cuma kalau nanti dapat kamu, ya saya akan membantu sebisa mungkin,” balas Arsyilla.


Di sana seolah Aksara teringat dengan waktu dia kuliah dulu dan Arsyilla adalah dosennya, ketika dia bisa mendapatkan Dosen Pembimbing istrinya sendiri, Aksara justru menolaknya dan memilih mendapatkan Dosen Pembimbing yang lainnya. Rasanya lucu mengingat waktu dia kuliah dulu.


“Dulu, istri saya ini Dosen saya loh Pak Evan,” celetuk Aksara kali ini.


Evan tampak bingung dan mengernyitkan keningnya, “Kenapa bisa Pak Aksara?” tanyanya bingung.


Aksara pun tersenyum, “Iya, saya dulu hiatus beberapa tahun, Pak. Awalnya kuliah kedokteran karena ingin menjadi Dokter seperti Ayah, tetapi passion saya tidak di Kedokteran. Akhirnya mengulang dari awal, dan masuk Teknik Arsitektur, sudah kuliah berhenti lagi karena waktu itu memegang proyek di Batam,” balas Aksara.


Evan pun menganggukkan kepalanya, “Jadi hiatus dari kuliah?” tanyanya lagi.


“Iya, hiatus lama dan memulai kuliah awal lagi dari Kedokteran pindah ke Teknik Arsitek. Passion saya lebih ke arsitektur, bisa mengembangkan perusahaan dan membantu Bunda untuk masalah lahan dan proyek di Jaya Corp,” balas Aksara.


“Oh, begitu ya Pak Aksara. Makanya saya bingung. Kalau kami ya harus kuliah dulu Pak … Papa dan Mama itu pengennya anak-anak kuliah dulu,” balas Evan.


“Itu justru bagus, karena begitu selesai kuliah, tinggal fokus bekerja,” balas Aksara.


Cukup lama Arsyilla membantu Andin untuk menemukan masalah yang sekiranya bisa diangkat dalam skripsi, hingga Andin agaknya yakin dengan satu masalah yang bisa dia kembangkan dalam penelitiannya nanti. Agaknya bisa menjadikan salah satu proyek Agastya Properti sekarang sebagai objek penelitian.


“Makasih Bu Arsyilla … saya jadi terbantu,” ucap Andin.


“Iya, sama-sama,” balas Arsyilla.


“Nanti saya akan coba ajukan ke Kepala Biro kalau bisa biar dapat Dosen Pembimbingnya Bu Arsyilla saja,” ucap Andin lagi.


Arsyilla pun tersenyum, “Kalau saya sibuk di kampus, kamu mau konsultasi ke rumah saja?” tanya Arsyilla.


“Kalau Ibu tidak keberatan, saya mau kok … eh, tapi nanti tidak jadi konsultasi malahan main sama Ara,” balas Andin kemudian.


“Iya Pak Aksara … menunggu istri selesai skripsi nanti tinggal kerja keras program hamil. Semoga bisa tidak menunggu lama, sudah dikasih. Mama dan Papa sudah pengen punya cucu,” balas Evan.


“Baiklah semoga lancar yah program hamilnya yah … kami pamit dulu, nanti saya akan gambarkan dulu dan kirimkan via email saja yah,” balas Aksara.


“Siap Pak … terima kasih banyak. Bu Arsyilla, terima kasih banyak untuk bantuannya,” ucap Evan.


Setelah kedua tamunya pulang, Evan tampak mengusapi puncak kepala istrinya itu, “Sekalian konsultasi kan?” tanya Evan.


“Iya Mas … enggak nyangka kalau yang datang itu Bu Arsyilla. Itu dia Mas, yang aku ceritakan tadi. Dosennya cantik, pinter, dan menguasai kelas banget. Idola para mahasiswa di kampus,” cerita Andin kepada suaminya.


Evan pun menganggukkan kepalanya, “Biasanya mahasiswa cowok begitu … jika ada Dosen yang cantik, pasti jadi idola,” balasnya.


“Kamu dulu juga kah?” tanya Andin.


“Enggak … aku enggak suka cewek. Lagian kuliah di luar negeri, Yang. Aku lebih suka selera lokal, daripada internasional,” jawabnya.


Andin yang mendengar jawaban suaminya pun tertawa. Tidak mengira jawaban Evan bisa membuatnya tertawa. Juga, tidak menyangka bahwa suaminya itu lebih menyukai produk lokal. Padahal Evan begitu tampan dan vibesnya luar biasa menawan.


“Aku suka kamu, Yang … walau awalnya kamu menyebelin. Entah kenapa, ketemu kamu dan aku pengen serius sama kamu,” balas Evan dengan sungguh-sungguh.


“Semenyebalkan itu ya Mas?” tanya Andin lagi.


“Iya, mana ada magang tidak mau disuruh-suruh. Namanya magang itu harus siap bekerja, disuruh-suruh, kan biar mendapat banyak pengalaman. Aku aja masih disuruh-suruh atasan mau pun bawahan loh,” balas Evan kemudian.


“Disuruh bawahan maksudnya?” tanya Andin dengan menunjukkan wajah bingung.


“Pak Evan, tolong review laporan ini yah … Pak Evan review data yang diinput yah … siapa dulu yang kayak gitu?” balas Evan.


Andin pun tertawa, karena memang dulu kala magang, Andin sering kali melakukan demikian. Hingga dalam seharian, banyak yang Andin lakukan untuk meminta Evan mereview pekerjaannya. Untung saja, Evan sabar sehingga semua yang Andin kerjakan akan direview dan dicek ulang olehnya.


“Itu aku banget … maaf yah, aku kan tidak expert dan tidak punya pengalaman bekerja. Hanya saja, saat aku maag dan kamu nolongin aku itu, hatiku tersentuh. Kupikir kamu akan marah, ternyata kamu nyuruh aku istirahat. Makasih banget Mas Evan,” balas Andin dengan menatap sang suami di sana.


“Enggak marah lah … bagaimanapun jangan abai dengan kesehatan. Biar bisa beraktivitas dengan lancar dan tanpa gangguan. Yuk, buruan kerjakan Yang … sudah mendung itu, Yang. Nanti aku mau mengajak kamu melakukan sesuatu yang seru,” balas Evan kemudian.


Andin menghela nafas dan mencubit pinggang suaminya itu, “Modus pasti,” jawabnya singkat.


Evan pun tertawa, “Iya, mumpung libur. Yuk, selesaikan dan nanti Senin bisa mengajukan judul dulu ke Biro Skripsi. Lebih cepat dikerjakan kan lebih baik, Yang. Jangan ditunda kalau memang kita bisa mengejarnya,” balas Evan dengan semangat.


Andin pun menurut saja, mengerjakan Bab 1 yang meliputi latar belakang dan menjabarkan rumusan masalah hingga tujuan penelitian. Yang dikatakan Evan benar, harus bisa mengejarnya. Banyak hal-hal yang ingin mereka capai dan kejar usai ini. Rasanya menunda-nunda justru akan membuat semuanya menjadi mundur. Oleh karena itu, Andin pun akan mengerjakannya, lagian Bu Arsyilla tadi juga sudah membantunya, sekarang Andin tidak bingung lagi.