
Beberapa hari kemudian ....
Tengah malam, Andin terbangun. Malam itu, Andin merasakan kedinginan. Tubuhnya menggigil. Andin merungkuk di atas ranjang dengan menyelimuti tubuhnya. Akan tetapi, selimut tebal yang dia kenakan nyatanya masih membuatnya merasakan begitu kedinginan.
Tidak tahan dengan dingin yang kini membuatnya kedinginan, Andin pun mencobanya untuk membangunkan suaminya perlahan.
"Mas ... Mas Evan ... bangun dulu sebentar," ucapnya dengan menepuk pelan lengan suaminya yang kala itu berbaring di sisinya.
Merasa istrinya terbangun dan juga membangunkannya, perlahan Evan pun terbangun. Pria itu mengerjap dan melihat sosok Andin. "Kamu kenapa?" tanya Evan kepada istrinya.
"Aku kedinginan, Mas ... dingin banget," balas Andin dengan menyelimuti dirinya sendiri.
Evan pun lantas menyentuh kening istrinya dengan telapak tangannya, mencoba mengukur suhu tubuh istrinya dengan telapak tangannya.
"Kamu demam, Yang," ucap Evan kali ini.
Evan kemudian mematikan AC di dalam kamar mereka, mengambil termometer untuk memastikan suhu tubuh Andin sekarang. Sebab, jika hanya diraba, maka tidak akan mendapatkan hasil yang akurat.
"38⁰ Celcius, demam tinggi," ucap Evan dengan menghela nafasnya.
"Dingin Mas," keluh Andin lagi kali ini.
Evan lantas menerka, kenapa Andin tiba-tiba merasakan demam mendadak. Apakah memang kecapekan mengerjakan Skripsi yang membuat Andin beberapa malam begadang atau memang istrinya itu tengah sakit. Evan pun mengernyitkan keningnya, tengah malam begini, Evan akhirnya menanyakan sesuatu yang sensitif kepada istrinya itu.
"Sayang, kapan terakhir kali kamu datang bulan?" tanya Evan sekarang ini.
Evan menanyakan itu karena rasanya cukup lama istrinya tidak memasuki periode palang merah. Selain itu juga, frekuensi bercinta mereka yang meningkat dan sedang panas-panasnya sekarang. Lantaran menginginkan untuk bisa memiliki baby, pernah dalam seminggu, mereka bercinta sampai lima kali. Kehidupan pasangan suami dan istri yang benar-benar membara. Maka dari itu, Evan pun bertanya kapan terakhir kali istrinya itu mendapatkan periode haidnya.
"Kapan ya Mas ... aku juga lupa," balas Andin dengan memejamkan matanya perlahan.
"Sebulan lebih kan? Aku enggak kasih kamu obat penurun demam dulu yah. Aku kompres saja," balas Evan kemudian.
Evan kemudian turun dan mulai mengompres kening Andin. Pria itu terlihat begitu telaten mengurus Andin. Sesekali Evan pun juga berpikir apa yang sebenarnya membuat Andin sakit. Evan masih ingat bahwa sebelum tidur, Andin pun masih begitu sehat.
"Selimutan dulu Sayang ...."
Andin pun menganggukkan kepalanya, wanita itu kini bergelung di dalam selimut. Akan tetapi, rasanya masih begitu dingin.
"Mas, minta tolong peluk aku dong ... dingin," pinta Andin kali ini.
"Mau enggak coba testpack Sayang?" tanya Evan kemudian.
"Testpack untuk tes kehamilan?" tanya Andin kemudian.
"Iya ... kalau sakitnya karena kehidupan baru sedang tumbuh di rahim kamu. Aku gak berani beri kamu sembarangan obat. Kamu juga lupa kapan terakhir kali haidnya. Jadi, selimutan dulu yah ... sama aku peluk," ucap Evan tengah malam itu.
Sebenarnya masih tengah malam, tetapi Evan terjaga. Dia masih begitu khawatir dengan Andin. Jika memang hanya masuk angin biasa tidak masalah. Akan tetapi, jika memang istrinya positif tentu itu akan menjadi kabar baik.
***
Semalam pun berlalu. Pagi itu Evan bangun terlebih dahulu. Hal pertama yang dilakukan Evan adalah mengukur kembali suhu tubuh istrinya itu, kali ini Evan merasa lega karena Andin sudah tidak lagi demam. Kemudian Evan turun ke bawah. Di dapur, Evan segera menyeduh teh dan memesan Bubur Ayam yang bisa dimakan Andin untuk sarapan.
Sampai akhirnya, Andin terbangun. Wajah wanita itu terlihat sayu sekarang ini. Demamnya sudah turun, tetapi masih terlihat kalau wanita itu kurang sehat.
"Minum dulu Teh hangat, Yang ... sama aku belikan Bubur Ayam," ucap Evan yang masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan.
Andin pun menerima teh hangat yang beraroma melati itu. Menghirup aroma melati di dalam seduhan teh yang memang dia sukai.
"Mas Evan ... nanti bisa minta tolong belikan testpack?" pinta Andin sekarang.
"Iya, nanti aku belikan. Sekarang sarapan dulu yah ... biar kamu cepat sehat. Aku juga akan bekerja dari rumah hari ini, biar bisa jagain kamu," balas Evan.
Pagi tadi, memang Evan menelpon Papanya untuk bekerja dari rumah terlebih dahulu. Evan juga memberikan kabar kalau Andin sedang tidak enak badan, sehingga Evan memutuskan untuk bekerja dari rumah. Lagian meninggalkan Andin sendirian di rumah dengan kondisi kurang sehat membuatnya tidak enak dan tidak akan bisa konsentrasi dalam bekerja.
"Iya Mas ... makasih yah ... jadi merepotkan," balas Andin kemudian.
"Enggak repot ... sudah kewajibanku untuk menjaga kamu," balas Evan kemudian.
"Makasih ... gara-gara aku sakit, kamu jadi enggak kerja," ucapnya dengan nyaris hampir menangis.
Evan pun menggelengkan kepalanya, "Kok malahan nangis sih ... sini dipeluk dulu. Enggak apa-apa, ada Ravendra yang nanti bisa bantuin aku kerja. Tenang aja, yang penting kamu sehat dulu. Buruan dimakan buburnya, mumpung masih hangat," balas Evan.
"Suapin," pinta Andin sekarang ini.
Pria tampan itu mengulum senyuman di wajahnya dan mulai menyuapi Andin dengan Bubur Ayam itu perlahan. Di dalam hatinya, semoga memang ini bukan sakit serius, tetapi mungkin saja akan ada kabar baik yang bisa Evan dan Andin dapatkan keesokan hari.