
“Menikahlah kontrak dengan Arine untuk satu tahun saja,” ucap Papa Miko.
Rasanya memang sangat aneh. Evan datang dengan baik-baik dan tujuannya adalah untuk meminang Andin, tetapi sekarang justru Evan diminta untuk menikahi kakaknya, Arine untuk masa satu tahun saja. Jujur saja, semua orang yang ada di situ tercengang. Secara khusus Evan dan juga Andin.
Padahal, barusan Andin dan Evan terlibat dalam obrolan bahwa Evan sama sekali tidak mengenal Arine dan tidak harus mengenalnya juga, tetapi sekarang Papa dari Andin meminta Evan untuk bisa menikahi Arine untuk satu tahun saja.
“Pa, kenapa Pa?” tanya Andin yang seolah meminta penjelasan dari Papanya.
“Begini Nak Evan, saya akan terus terang kepadamu. Kamu cukup menikahi Arine secara kontrak saja, satu tahun. Tidak perlu menyentuhnya, karena memang tidak boleh disentuh pria lain. Kami membutuhkan status secara hukum saja untuk menyelamatkan reputasi dan popularitas Arine. Juga, kamu tidak perlu tinggal bersamanya, hanya di hari-hari tertentu, menginaplah di sini. Kami pastikan bahwa ini hanya sebatas pernikahan kontrak, dan begitu kontrak selesai, kamu bisa menikahi Andin,” jelas Papa Miko.
Sejauh ini, Evan menerka sudah pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Arine. Mendengar bahwa dia juga tidak boleh menyentuh Arine, maka sudah jelas adanya bahwa Arine sedang hamil sekarang ini, tetapi kenapa Papa Miko tidak menikahkan Arine dengan pria yang sudah menghamili putri sulungnya itu.
“Apakah Arine sedang hamil?” tanya Evan secara langsung.
Terlihat jelas bahwa Evan adalah sosok yang tegas dan juga to the point. Dia ingin mendapatkan penjelasan secara jelas dan tidak ada hal-hal yang disembunyikan darinya. Oleh karena itulah, Evan pun bertanya secara langsung.
Mendengar apa yang ditanyakan oleh Evan, Andin pun membelalakkan matanya. Benarkah memang Kakaknya itu sedang hami sekarang ini. “Benar yang ditanyakan Pak Evan itu, Pa? Jelaskan Pa,” balas Andin.
Mama Tika yang semula diam pun perlahan bersuara, “Ya, benar … Kakakmu hamil, sudah hampir dua bulan,” jawabnya dengan berlinangan air mata.
Orang tua mana yang tidak menangis dan bersedih ketika anaknya hamil di luar nikah. Itu yang dirasakan Mama Tika, untuk mengakui kebenaran itu sampai Mama Tika berurai air mata.
“Kenapa tidak meminta pria yang menghamilinya untuk bertanggung jawab?” tanya Andin lagi.
Di dalam hatinya, jujur Andin seakan tidak rela jika harus melepaskan Evan untuk Kakaknya. Andin merasa bahwa dia juga mulai tertarik dengan Evan, dan kini ketika mungkin bunga di hatinya hampir bersemi, kedua orang tuanyalah justru yang membuatnya layu seketika.
“Tidak Andin, dia adalah pria berengsek. Ayahnya juga mafia yang berkedok CEO. Ayah tidak akan memberikan Arine kepada pria seperti ini,” balas Papa Miko.
“Bagaimana Evan, bersediakah kamu?” tanya Papa Miko yang seakan meminta jawaban dari Evan sekarang juga.
“Bisa jelaskan gambaran besar pernikahan kontrak itu seperti apa?” tanya Evan yang seakan memang perlu untuk mengetahui gambaran besar pernikahan kontrak itu.
"Sebagaimana ini adalah nikah kontrak, jadi pernikahan yang terjadi cukup di bawah tangan saja. Sah secara agama saja. Yang penting ketika perut Arine semakin besar, sudah jelas bahwa Arine sudah menikah secara agama. Juga, telah saya sampaikan bahwa kamu tidak boleh menyentuh Arine karena dia tengah hamil anak pria lain, dan begitu kontrak selesai, kamu tidak perlu mengucapkan talak, tetapi pernikahan akan gugur dengan sendirinya. Bahkan jika kamu meminta imbalan, saya akan memberikannya," balas Papa Miko.
Pun demikian sejatinya nikah kontrak atau biasa disebut dengan mut'ah. Di mana ijab kabul menggunakan kata-kata nikah saja atau dengan kata mut'ah, tanpa wali, tanpa sakisi, ada ketentuan yang dibatasi waktu, tidak ada waris mewarisi antara suami dan istri, dan tidak ada talak karena pernikahan akan gugur begitu waktunya sudah berakhir.
"Bagaimana Nak Evan?" tanya Papa Miko lagi.
Evan tampak diam. Ini bukan pertanyaan yang bisa dia jawab sekarang juga. Untuk pernikahan kontrak, walau hanya di bawah tangan, tetapi orang tuanya wajib tahu. Sebab, Evan tak ingin melangkah dengan gegabah dan tanpa melibatkan keputusan dan pendapat dari Mama dan Papanya.
"Saya perlu waktu untuk berdiskusi dengan Papa dan Mama saya, Om ... bagaimana pun saya pernah berbicara dengan Mama saya, bahwa saya ingin serius dengan Andin. Jika saya kemudian datang dan mengatakan bahwa istri yang saya nikahi bernama Arine, itu akan melukai hati Mama saya," balas Evan.
Ketika Evan menjawab bahwa perlu ada gambaran besar untuk dia ketahui, seketika Andin merasa begitu lemas. Mungkinkah Evan memang akan menerima pernikahan kontrak ini? Mungkinkah Evan tidak sungguh-sungguh dengan niatannya untuk menikahinya? Dari sudut pandang Andin, rasanya Andin kehilangan kepercayaan pada sosok pemuda dan sekaligus atasannya yang bernama Evander Agastya itu.
"Baiklah ... kami akan memberikanmu waktu. Hanya saja jangan terlalu lama, karena perut Arine bisa semakin membesar," pinta Papa Miko.
Evan kembali menganggukkan kepalanya, kemudian dia menatap kepada Andin yang duduk di hadapannya dan sedari tadi tampak menundukkan kepalanya.
“Andin, sabarlah dahulu … lagipula, gagal atau tidaknya ini semua perlu saya bicarakan kepada Mama dan Papa saya. Dengan pendapat, nasihat, dan restu dari mereka, semua ini bisa terjadi. Lagipula, bagaimana lagi jika memang hanya ini satu-satunya jalan yang bisa saya ambil untuk bisa menikahi kamu?” tanya Evan secara langsung.
Mendengar Evan yang berbicara dengannya, Andin pun perlahan menganggukkan kepalanya, “Saya percaya kepada Pak Evan,” jawabnya.
Menaruh kepercayaan kepada orang lain itu tidak mudah, tetapi Andin mau berusaha untuk mempercayai Evan. Lagipula, bagaimana jika memang hanya ada satu jalan yang bisa ditempuh Evan untuk bisa menikahi Andin dengan menjalin pernikahan kontrak ini dahulu. Jika hanya satu jalan, bukankah jalan ini mau tidak mau harus dilalui?