Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Hari yang Ditentukan


“Permisi Pak Evan … bisa saya bicara sebentar?” tanya Andin yang sudah masuk ke dalam ruangan Evan.


Kali ini Andin masuk bukan untuk membicarakan perihal pekerjaan, tetapi Andin sudah mengatakan kepada Mama dan Papanya bahwa ada pemuda yang akan mengajaknya untuk serius. Tentu dalam hal ini yang tampak kaget adalah Mama Tika. Sebab, Mama Tika benar-benar tidak menyangka bahwa Andin benar-benar mengatakan bahwa ada pemuda yang mengajaknya untuk serius. Mama Tika pikir kala itu, Andin hanya sekadar main-main saja.


“Iya, boleh … apa yang ingin kamu sampaikan kepada saya?” tanya Evan kepada sekretarisnya itu.


“Ehm, begini Pak Evan … saya sudah menyampaikan kepada Mama dan Papa saya. Mereka mengundang Pak Evan untuk makan malam di rumah hari Rabu nanti. Apakah bisa?” tanya Andin.


Andin tidak serta-merta mengatakan bahwa Mama dan Papanya ingin melihat siapa pemuda yang begitu berani untuk mengajak menikah anaknya. Oleh karena itu, Andin lebih memilih untuk mengatakan bahwa orang tuanya mengundang Evan untuk makan malam saja.


“Oh, jadi kamu sudah bilang sama Mama dan Papa kamu yah?” tanya Evan.


Tanpa Andin menjelaskan dengan gamblang pun, Evan sudah tahu bahwa mungkin saja Andin sudah mengatakan untuk kedua orang tuanya.


“Iya Pak … jadi, Pak Evan akan ke sana hari Rabu nanti kan?” tanya Andin yang juga tampak bingung.


“Tentu … Rabu nanti aku akan datang ke rumahmu. Aku akan memintamu dengan baik-baik kepada kedua orang tuamu,” balas Evan dengan sedikit tersenyum kepada Andin.


“Hmm, iya Pak,” balas Andin.


“Baiklah … berikan alamatmu, Andin … dan hari Rabu nanti sambutlah aku, karena aku akan datang,” balas Evan dengan penuh percaya diri.


Jika Evan merasa tertantang, tetapi Andin terlihat sungkan dan bingung juga. Kali ini bisa dikatakan tidak ada cinta pada diri mereka. Evan secara jujur mengaku kepada Mamanya bahwa dirinya tertarik dengan Andin. Sebatas tertarik, tetapi belum tentu ada perasaan cinta. Sementara untuk Andin, dirinya hanya sebatas memberikan tantangan saja kepada atasannya itu benarkah Evan akan serius kepadanya.


Rumah tangga seperti apa yang bisa digambarkan dengan kondisi hati dan perasaan yang seperti ini? Yang satu merasa tertarik dan ingin serius sembari berharap bisa perlahan tumbuh benih cinta, sementara untuk Andin hanya sebatas memberikan tantangan dan mungkin saja Andin mencari perhatian yang selama ini tidak dia dapatkan di rumah karena potret keluarganya yang terlampau sibuk.


***


Hari Rabu yang ditentukan pun tiba ….


Kurang lebih jam 19.00, Evan sudah tiba di rumah besar yang sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Anaya. Jika sehari-hari pemuda itu selalu mengenakan kemeja dan jas yang begitu formal, kali ini Evan tampak tampil lebih santai dengan mengenakan jeans panjang dan kemeja berwarna navy. Tetep rapi, hanya saja tidak terlalu formal. Pemuda itu datang juga tidak dengan tangan kosong, tetapi membawa aneka kue kering yang diproduksi oleh Coffee Bay waralaba milik Mama Sara yang memang merambah ke dunia pastry.


Dengan yakin, Evan pun turun dari mobilnya dan melangkahkan kaki masuk ke pelataran yang luas dengan rumah bertingkat tiga dengan warna cokelat muda itu.


“Permisi ….”


Evan menekan bel rumah sembari mengucapkan permisi. Evan sadar dengan rumah sebesar ini tidak mungkin jika hanya terdengar dengan mengetuk pintu. Oleh karena itu, Evan pun menekan bel yang memang tersedia di dekat pintu masuk.


Tidak berselang lama, rupanya Andin sendiri yang turun dan membukakan pintu untuk Evan. Gadis itu tampil cantik dengan mengenakan dress yang kala itu juga berwarna navy. Serasi sekali dengan kemeja yang sekarang digunakan oleh Evan.


“Silakan masuk Pak Evan,” sapa dari Andin dengan menundukkan kepalanya.


“Hai,” sapa Evan yang tersenyum tipis di sudut bibirnya.


“Silakan masuk,” balas Andin lagi.


Andin mengajak Evan untuk duduk di ruang tamu, dan kemudian Andin mempersilakan Evan untuk duduk dulu. “Duduk dulu ya Pak Evan … saya panggilkan Mama dan Papa dulu,” balas Andin.


Ini juga menjadi kali pertama bagi Papanya Andin ada di rumah. Biasanya tidak pernah Papanya ada di rumah jam segini. Akan tetapi, mendengar apa pemuda yang ingin datang ke rumah dan hendak mengatakan niatan baiknya, Papa Miko merasa harus ada di rumah dan melihat sendiri siapakah pria yang berani datang ke rumah dan mengatakan niat baiknya untuk mengajak anaknya serius.


“Mama, Papa … Pak Evan sudah datang,” panggil Andin kepada kedua orang tuanya.


“Ya, kami akan turun,” sahut Papa Miko.


Andin pun kembali turun dan duduk berhadapan dengan Evan, hanya terpisahkan meja kaca yang berada di antara mereka berdua.


“Rumah kamu besar juga, Din,” ucap Evan yang berusaha untuk mencairkan suasana.


“Oh, bukan rumah saya ini, Pak … tetapi rumah orang tua saya,” balas Andin.


Walau memang Andin terlahir sebagai anak jutawan, tetapi Andin tidak pernah merasa bahwa semua yang ada ini adalah miliknya. Andin merasa bahwa semuanya adalah milik orang tuanya, Andin pun juga tidak mengharapkan akan mendapatkan sesuatu harta kekayaan Papanya yang memang melimpah. Dari kecil, Andin pun sudah hidup sederhana saja, tidak terlalu bersikap layaknya anak orang kaya.


“Ya sudah, nanti kalau sudah menikah, saya buatkan rumah untuk kamu,” balas Evan dengan tiba-tiba.


Mendengar apa yang Evan katakan, Andin pun tertunduk malu. Jawaban atau pun perkataan yang sering kali disampaikan oleh Evan itu terdengar datar, tetapi syarat akan rayuan. Sampai rasanya, Andin bisa tersipu malu karenanya.


“Apaan sih Pak,” balas Andin.


“Saya serius … asal kamu tidak meminta seribu candi saja, pasti saya bisa mewujudkannya,” balas Evan lagi.


Andin pun tersenyum, tetapi gadis itu masih menundukkan wajahnya, “Emangnya dipikir saya Roro Jonggrang apa Pak,” balas Andin.


“Makanya itu … kalau hanya rumah, saya bisa membuatkan untukmu dengan penghasilan saya sendiri, bukan dari uang Mama dan Papa saya,” balas Evan yang juga mengatakan ingin membuatkan rumah untuk Andin dengan penghasilannya sendiri.


“Sudah Pak Evan … jangan aneh-aneh,” balasnya.


“Sedikit aneh juga tidak apa-apa,” sahut Evan dengan singkat.


Evan kemudian masih mengedarkan matanya, dan melihat ke isi rumah besar itu. Desain dan perabotan yang ada di dalamnya terlihat begitu berkelas. Sehingga Evan yakin jika Andin ini adalah putri seorang taipan kaya raya. Namun, dalam hatinya Evan justru suka karena Andin tidak seperti anak-anak orang kaya yang hedonis dan mengenakan berbagai barang branded. Andin terlihat sederhana, jika sekelas melihat Andin, Evan merasa melihat Mamanya. Ya, Mama Sara itu istri CEO dan memiliki gurita bisnis dengan penghasilan besar, tetapi Mama Sara tetap terlihat sederhana dan juga tidak menunjukkan diri bahwa dia kaya raya. Jika Andin yang kaya saja terlihat sederhana, setipe dengan Mamanya. Mungkin ini juga yang membuat Evan tertarik kepada Andin.