
Dua hari di Bogor benar-benar dimanfaatkan Evan dan Andin untuk rekreasi. Bahkan Evan juga memperlihatkan rumah Mama Sara dulu di Bogor yang sekarang sudah dijual. Banyak cerita juga yang Evan bagikan kepada istrinya itu. Selain itu, Evan juga mengajak Andin ke Coffee Bay pertama yang dibuka di Bogor. Sampai sekarang kedai kopi itu masih berdiri dan juga masih begitu hits di kalangan anak muda Bogor.
Setelah menikmati dua hari di Bogor, rupanya Andin segera mengajak Evan mengunjungi Obgyn untuk melepaskan kontrasepsinya. Kali ini Andin benar-benar serius untuk bisa memiliki buah hati dengan Evan.
"Iya, yakin ... toh lepas, juga belum tentu akan isi kan?" tanyanya.
"Ya, iya ... kan tergantung Tuhan juga mau ngasih kita kapan, Yang," balasnya.
Andin pun menganggukkan kepalanya, "Makanya itu, Mas ... jadi dilepas dulu saja, dan berusaha. Toh, skripsiku bisa sambil jalan kok," balas Andin.
"Iya Sayang ... intinya tidak membebani kamu saja," balas Evan.
Akhirnya setelah cukup lama mengantri, sekarang giliran mereka yang masuk dan mendatangi Obgyn yang bernama Dokter Rinta itu. Mulailah keduanya berkonsultasi bersama.
"Silakan masuk Bu Andin," sapa Dokter Rinta dengan begitu ramah.
"Iya, Dokter," balas Andin dengan menganggukkan kepalanya.
"Ada yang bisa saya bantu. Kontrasepsinya aman kan?" tanya Dokter Rinta lagi.
Sebelumnya memang Andin memasang implan karena dia pikir semula ingin mencegah kehamilan setidaknya sampai dia lulus kuliah. Akan tetapi, sekarang Andin merasa berubah pikiran sehingga, kali ini dia datang untuk melepas implan yang sebelumnya sudah dia pasang.
"Saya ingin melepas implan, Dokter. Kami mau serius untuk memiliki buah hati," balasnya.
Mendengar jawaban dari Andin, Dokter Rinta pun memberikan suntik anestesi, dilanjutkan dengan membuat sayatan kecil pada tempat pemasangan sebelumnya. Andin memejamkan matanya, saat Dokter Rinta mulai menyayat dan mengeluarkan implannya.
"Tahan sebentar ya Bu Andin ... tahan nafas," pinta Dokter Rinta.
Selang beberapa kemudian implan pun sudah terlepas.
"Nah, implannya sudah saya lepaskan ya, Bu. Nanti setelah implan dilepas tentu akan terasa nyeri di tangan sama saat dulu pertama memasangnya, bahkan bisa bengkak ya Bu. Gejala lainnya adalah terjadinya sakit kepala, kondisi ini terjadi lantaran steroid yang terkandung dalam hormon di dalam implan itu sendiri, sehingga menyebabkan hormon jadi tidak stabil. Usai dilepas, maka tubuh akan berada dalam fase mengembalikan kadar hormon yang normal, sehingga proses ini menyebabkan sakit kepala. Yang terakhir adalah siklus menstruasi tidak langsung kembali. Jadi kemungkinan membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk mengembalikan masa subur. Akan tetapi, jika Ibu sudah bisa langsung menstruasi artinya tidak ada kendala dalam masa subur."
Andin dan Evan pun sama-sama menganggukkan kepalanya. Penjelasan yang detail dari Sang Dokter membuat keduanya menjadi tahu bahwa kadar hormon juga butuh waktu untuk kembali normal. Selain itu siklus haid juga akan membutuhkan waktu untuk mengembalikan ke masa subur.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Dokter Rinta kepada Andin dan Evan.
"Kalau untuk program hamil, apakah yang sebaiknya dilakukan ya Dok?" Kali ini Andin pun bertanya secara langsung kepada Dokter Rinta.
Dokter Rinta pun memandang pasangan muda itu dan kembali tersenyum, setelahnya mulai memberikan penjelasan kepada keduanya.
"Dalam mendapatkan buah hati atau program hamil Bapak dan Ibu tentunya harus menjaga kesehatan, tidur cukup, mengonsumsi makanan yang mengandung asam folat. Pastikan Anda mengonsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, susu rendah lemak, makanan berprotein dan kaya akan zat besi. Hindari makanan siap saji serta minuman bersoda. Batasi juga asupan gula dan kafein. Meningkatkan frekuensi hubungan suami-istri, dan tentunya berdoa. Karena dalam mengharapkan buah hati ada campur tangan Allah ya Bapak dan Ibu. Usaha manusia dibarengi dengan doa, jika sudah diridhoi Allah maka semua akan dilancarkan," ucap sang Dokter.
"Amin," balas Evan dan Andin bersamaan. Ya tentu saja, dalam usaha manusia dibutuhkan perkenanan Allah, jika Dia, Sang Pemilik Hidup telah berkenan maka itulah yang akan terjadi.
"Saya doakan tidak lama lagi Bapak dan Ibu bisa kembali dan membawa kabar baik yah," balas Dokter Rinta.
"Amin ... doakan ya Dok," balas Andin.
Mengakhiri sesi konsultasi, Evan dan Andin pun bergegas untuk segera pulang. Hari sudah semakin malam, masih ada hal yang harus dikerjakan oleh Evan yaitu mereview laporan, dan Andin juga masih harus melanjutkan skripsinya.
Setidaknya sekarang tidak ada yang mereka khawatirkan. Hanya perlu memperbanyak doa dan juga usaha semoga semuanya dilancarkan oleh Tuhan.
“Yang, ingat pesan Dokter tadi enggak?” tanyanya kemudian.
“Hmm, yang mana Mas?” tanya Andin kemudian.
“Meningkatkan frekuensi hubungan suami dan istri. Artinya, kita harus lebih sering Sayang,” balas Evan. Kali ini pria itu menunjukkan wajah yang serius.
Sementara di satu sisi Andin justru tersenyum menatap suaminya itu, “Modus pasti,” balas Andin.
Evan kemudian tersenyum tipis, “Ya, enggak modus sih … kan sudah lama juga, tidak olahraga sama kamu, Yang … kan menjalankan pesan Dokter tidak ada salahnya,” balas Evan.
Kemudian Andin pun tersenyum, “Kan harus memperbaiki siklus hormon dulu dan juga memperbaiki masa kesuburan juga. Jadi, waktunya kan panjang,” balas Andin.
“Ya sudah deh, terserah kamu saja,” balas Evan kemudian.
Agaknya kali ini, Evan yang harus bersabar. Mungkin istrinya yang tidak peka, atau dia yang memang tidak seharusnya tidak meminta. Evan lebih memilih fokus untuk mengemudi dan tidak banyak berbicara. Jujur saja, sudah seminggu berlalu dan tidak ada hubungan suami istri, kepalanya merasa pusing. Akan tetapi, sekadar memberikan kode kepada istrinya, tetapi istrinya juga tidak mempedulikannya.
Dua hari di Bogor benar-benar dimanfaatkan Evan dan Andin untuk rekreasi. Bahkan Evan juga memperlihatkan rumah Mama Sara dulu di Bogor yang sekarang sudah dijual. Banyak cerita juga yang Evan bagikan kepada istrinya itu. Selain itu, Evan juga mengajak Andin ke Coffee Bay pertama yang dibuka di Bogor. Sampai sekarang kedai kopi itu masih berdiri dan juga masih begitu hits di kalangan anak muda Bogor.
Setelah menikmati dua hari di Bogor, rupanya Andin segera mengajak Evan mengunjungi Obgyn untuk melepaskan kontrasepsinya. Kali ini Andin benar-benar serius untuk bisa memiliki buah hati dengan Evan.
"Iya, yakin ... toh lepas, juga belum tentu akan isi kan?" tanyanya.
"Ya, iya ... kan tergantung Tuhan juga mau ngasih kita kapan, Yang," balasnya.
Andin pun menganggukkan kepalanya, "Makanya itu, Mas ... jadi dilepas dulu saja, dan berusaha. Toh, skripsiku bisa sambil jalan kok," balas Andin.
"Iya Sayang ... intinya tidak membebani kamu saja," balas Evan.
Akhirnya setelah cukup lama mengantri, sekarang giliran mereka yang masuk dan mendatangi Obgyn yang bernama Dokter Rinta itu. Mulailah keduanya berkonsultasi bersama.
"Silakan masuk Bu Andin," sapa Dokter Rinta dengan begitu ramah.
"Iya, Dokter," balas Andin dengan menganggukkan kepalanya.
"Ada yang bisa saya bantu. Kontrasepsinya aman kan?" tanya Dokter Rinta lagi.
Sebelumnya memang Andin memasang implan karena dia pikir semula ingin mencegah kehamilan setidaknya sampai dia lulus kuliah. Akan tetapi, sekarang Andin merasa berubah pikiran sehingga, kali ini dia datang untuk melepas implan yang sebelumnya sudah dia pasang.
"Saya ingin melepas implan, Dokter. Kami mau serius untuk memiliki buah hati," balasnya.
Mendengar jawaban dari Andin, Dokter Rinta pun memberikan suntik anestesi, dilanjutkan dengan membuat sayatan kecil pada tempat pemasangan sebelumnya. Andin memejamkan matanya, saat Dokter Rinta mulai menyayat dan mengeluarkan implannya.
"Tahan sebentar ya Bu Andin ... tahan nafas," pinta Dokter Rinta.
Selang beberapa kemudian implan pun sudah terlepas.
"Nah, implannya sudah saya lepaskan ya, Bu. Nanti setelah implan dilepas tentu akan terasa nyeri di tangan sama saat dulu pertama memasangnya, bahkan bisa bengkak ya Bu. Gejala lainnya adalah terjadinya sakit kepala, kondisi ini terjadi lantaran steroid yang terkandung dalam hormon di dalam implan itu sendiri, sehingga menyebabkan hormon jadi tidak stabil. Usai dilepas, maka tubuh akan berada dalam fase mengembalikan kadar hormon yang normal, sehingga proses ini menyebabkan sakit kepala. Yang terakhir adalah siklus menstruasi tidak langsung kembali. Jadi kemungkinan membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk mengembalikan masa subur. Akan tetapi, jika Ibu sudah bisa langsung menstruasi artinya tidak ada kendala dalam masa subur."
Andin dan Evan pun sama-sama menganggukkan kepalanya. Penjelasan yang detail dari Sang Dokter membuat keduanya menjadi tahu bahwa kadar hormon juga butuh waktu untuk kembali normal. Selain itu siklus haid juga akan membutuhkan waktu untuk mengembalikan ke masa subur.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Dokter Rinta kepada Andin dan Evan.
"Kalau untuk program hamil, apakah yang sebaiknya dilakukan ya Dok?" Kali ini Andin pun bertanya secara langsung kepada Dokter Rinta.
Dokter Rinta pun memandang pasangan muda itu dan kembali tersenyum, setelahnya mulai memberikan penjelasan kepada keduanya.
"Dalam mendapatkan buah hati atau program hamil Bapak dan Ibu tentunya harus menjaga kesehatan, tidur cukup, mengonsumsi makanan yang mengandung asam folat. Pastikan Anda mengonsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, susu rendah lemak, makanan berprotein dan kaya akan zat besi. Hindari makanan siap saji serta minuman bersoda. Batasi juga asupan gula dan kafein. Meningkatkan frekuensi hubungan suami-istri, dan tentunya berdoa. Karena dalam mengharapkan buah hati ada campur tangan Allah ya Bapak dan Ibu. Usaha manusia dibarengi dengan doa, jika sudah diridhoi Allah maka semua akan dilancarkan," ucap sang Dokter.
"Amin," balas Evan dan Andin bersamaan. Ya tentu saja, dalam usaha manusia dibutuhkan perkenanan Allah, jika Dia, Sang Pemilik Hidup telah berkenan maka itulah yang akan terjadi.
"Saya doakan tidak lama lagi Bapak dan Ibu bisa kembali dan membawa kabar baik yah," balas Dokter Rinta.
"Amin ... doakan ya Dok," balas Andin.
Mengakhiri sesi konsultasi, Evan dan Andin pun bergegas untuk segera pulang. Hari sudah semakin malam, masih ada hal yang harus dikerjakan oleh Evan yaitu mereview laporan, dan Andin juga masih harus melanjutkan skripsinya.
Setidaknya sekarang tidak ada yang mereka khawatirkan. Hanya perlu memperbanyak doa dan juga usaha semoga semuanya dilancarkan oleh Tuhan.
“Yang, ingat pesan Dokter tadi enggak?” tanyanya kemudian.
“Hmm, yang mana Mas?” tanya Andin kemudian.
“Meningkatkan frekuensi hubungan suami dan istri. Artinya, kita harus lebih sering Sayang,” balas Evan. Kali ini pria itu menunjukkan wajah yang serius.
Sementara di satu sisi Andin justru tersenyum menatap suaminya itu, “Modus pasti,” balas Andin.
Evan kemudian tersenyum tipis, “Ya, enggak modus sih … kan sudah lama juga, tidak olahraga sama kamu, Yang … kan menjalankan pesan Dokter tidak ada salahnya,” balas Evan.
Kemudian Andin pun tersenyum, “Kan harus memperbaiki siklus hormon dulu dan juga memperbaiki masa kesuburan juga. Jadi, waktunya kan panjang,” balas Andin.
“Ya sudah deh, terserah kamu saja,” balas Evan kemudian.
Agaknya kali ini, Evan yang harus bersabar. Mungkin istrinya yang tidak peka, atau dia yang memang tidak seharusnya tidak meminta. Evan lebih memilih fokus untuk mengemudi dan tidak banyak berbicara. Jujur saja, sudah seminggu berlalu dan tidak ada hubungan suami istri, kepalanya merasa pusing. Akan tetapi, sekadar memberikan kode kepada istrinya, tetapi istrinya juga tidak mempedulikannya.