
Acara empat bulanan itu dihadiri dengan berbagai tamu undangan. Baik dari staf dan juga kolega bisnis Papa Belva yang kala itu turut hadir. Tidak hanya itu, staf dari Coffee Bay di bawah kepemimpinan Elkan pun bekerja keras malam itu. Sebab, memang salah satu hidangan yang disajikan adalah toast dan juga minuman all varian dari Coffee Bay. Penuh syukur dan juga penuh tawa.
Usai pengajian selesai, keluarga masih berkumpul menjadi satu. Terutama Andin begitu senang karena setelah sekian lama, baru kali ini bertemu lagi dengan Mama Tika, itu juga karena Mama Tika tinggal lama di Australia dan membantu Arine untuk mengasuh bayinya.
“Senangnya Mama pulang dan Andin sudah hamil, sudah empat bulan,” ucap Mama Tika dengan merangkul bahu putrinya itu.
“Amin … doa dari Mama dan Papa semuanya sehingga Allah mengaruniakan bayi kecil ini di dalam perut Andin,” balas Andin.
“Sudah tahu jenis kelaminnya?” tanya Mama Tika kemudian.
Andin tampak menggelengkan kepalanya, “Kami berdua sepakat menunda sebulan untuk tahu jenis kelamin babynya, Ma … katanya Mas Evan biar mendapatkan doa dulu, setelahnya baru bertanya kepada Dokter tentang jenis kelamin bayinya nanti. Deg-degan juga sih Ma,” balas Andin lagi.
Mama Tika pun tersenyum, “Kalau perasaan Mama sih mungkin cewek sih, karena kamu cantik dan bersih. Biasanya para Ibu hamil yang cantik dan bersih waktu hamil, anaknya perempuan,” balasnya.
Itu hanya sebatas pengamatan dan kata orang-orang yang mengatakan bahwa mereka yang hamil anak perempuan cenderung akan terlihat lebih cantik dan juga bersih. Sementara jika hamil anak laki-laki seorang ibu terlihat biasa saja, dan tidak cantik katanya. Bisa jadi itu hanya sekadar mitos belaka.
“Apa iya Ma? Mungkin memang auranya Bumil saja Ma … di mata Evan, Andin tetap cantik kok,” sahut Evan dengan tiba-tiba.
Ini menjadi perkembangan yang luar biasa dari seorang Evan bahwa dia bisa turut dalam perbincangan. Bahkan pria itu terdengar begitu percaya diri dengan mengatakan bahwa istrinya itu tetap cantik. Sontak saja Mama Sara dan Papa Belva yang mendengarnya pun tersenyum menatap putra sulungnya itu.
“Kamu seperti Papa kamu dulu, Van … katanya Papa kamu waktu hamil kamu, Elkan, dan juga Eiffel, Mama selalu cantik di mata Papa kamu. Makanya Papa kamu bilang kalau bisa Mama sering-sering hamil,” balas Mama Sara.
Kali ini semua yang berkumpul di ruang tamu menjadi tertawa. Namun, yang diceritakan oleh Mama Sara adalah fakta. Katanya dulu Papa Belva pernah berbicara bahwa Mama Sara begitu cantik dan anggun ketika hamil, karena itu Papa Belva bercita-cita memiliki anak yang banyak dengan Mama Sara. Akan tetapi, Mama Sara menganggap tiga anak sudah cukup.
“Itu benar Van … jangan sampai di mata kita, wanita lain lebih cantik. Jadikan istri kita sebagai satu-satunya wanita yang tercantik di mata kita. Hamil atau tidak hamil, istri kita tetaplah yang tercantik. Di mata Papa kamu, Mama selalu yang tercantik karena hamil itu tidak mudah, seorang wanita merasakan perubahan hormon yang bergejolak, kenaikan berat badan, stress yang melanda, belum juga ketika masih memberikan ASI dan masih hamil, itu adalah hal yang luar biasa,” balas Papa Belva.
Ah, andai semua pria seperti Papa Belva yang menyanjung wanita dan juga melihat kecantikan seorang wanita dari sudut pandang yang berbeda, sudah pasti banyak wanita hamil tidak merasa insecure, justru dipandang kian cantik oleh suaminya sendiri.
Andin pun tersenyum dan menundukkan wajahnya. Tidak mengira bahwa memang Evan jika sudah di hadapan keluarganya benar-benar menjadi orang yang berbeda, lebih hangat dan ramah tentunya.
“Harus itu Van,” balas Papa Belva dengan menepuk bahu putranya.
“Kalian ini Papa dan Anak seserver,” balas Mama Sara.
Mama Tika pun turut tertawa, “Bisa kompakan ya Bu Sara … saya senang karena Andin di dalam keluarga Agastya menemukan keluarga, bukan diperlakukan sebagai menantu, melainkan seperti seorang anak,” balas Mama Tika.
Mama Sara pun tersenyum, “Sama-sama Bu … saya dengan menantu saya yang satu juga klop, seperti Mama dan anak gadisnya,” sahut Bu Sara.
“Oh, iya … jadi Elkan sudah menikah yah?” tanya Mama Tika lagi.
“Iya, Elkan justru yang menikah duluan,” sahut Mama Sara.
Mama Tika pun tertawa, tidak mengira bahwa Elkan yang lebih muda 4 tahun dari Evan justru yang memutuskan untuk menikah terlebih dahulu. Sebagai seorang Mama, tentu Mama Tika sangat senang karena Andin diterima dengan baik dan disayang oleh keluarga suaminya.
“Berarti bulan depan mau gender reveal?” tanya Mama Sara kemudian.
Andin menggelengkan kepalanya, “Tidak usah Ma … membuat acara lagi nanti banyak keluarga yang direpotkan, nanti Andin kasih tahu para Mama dan Papa saja,” balasnya.
Dalam benaknya memang Mama Sara berniat untuk membuat gender reveal party seperti yang dilakukan publik figur dengan membuat perayaan kecil. Akan tetapi, Andin menolaknya karena tidak ingin merepotkan dua keluarga. Acara empat bulanan ini saja rasanya sudah ramai dan mewah, untuk itu Andin hanya ingin merayakannya dengan sederhana saja, tidak perlu pesta.
“Baiklah jika demikian, yang penting kalian semuanya sehat. Mama dan Papa pasti akan mendoakan yang terbaik. Jangan terbeban dengan jenis kelamin yang pasti apa pun itu bayinya sehat, selamat, dan sempurna,” balas Mama Sara kemudian.
Bersyukurnya Andin bahwa tidak ada tekanan yang dia dapatkan dari mertuanya. Yang ada justru Mama Sara dan Papa Belva sangat menyayanginya dan memperlakukannya seperti anak perempuan di rumah orang tuanya. Untuk semuanya itu, tentu Andin sangat bersyukur dan juga begitu bahagia. Kebahagiaannya kian lengkap ketika Evan juga selalu mencintai istrinya dan juga membuat Andin nyaman menjalani kehamilannya hari demi hari.