
Rasanya Evan sampai kehilangan kata-kata. Sensasi malam pertama yang seolah membuatnya kehilangan kesadaran. Evan benar-benar pecah, meledak. Berjuta warna pelangi seakan bisa terlihat oleh kedua matanya yang terpejam. Pria yang untuk kali pertama mencoba hubungan suami istri itu benar-benar tidak mengira bahwa sensasi nikmat akan seperti ini rasanya.
Pun demikian juga dengan Andin yang merasakan perih di pangkal pahanya, tulangnya yang terasa begitu nyeri, bahkan sekarang benar-benar lemas di sana. Wanita yang baru saja melepaskan mahkotanya untuk sang suami, masih memeluk Evan yang rubuh di atasnya. Keduanya sama-sama menstabilkan nafasnya terlebih dahulu. Hingga akhirnya, Evan bangkit. Pria itu mengubah posisinya dan merebahkan diri di samping Andin dengan menelisipkan tangannya di bawah kepala Andin, mendekap istrinya itu dengan begitu eratnya.
"Sakit Andin?" tanyanya.
"Iya, perih," balasnya.
Evan merasa bersalah rasanya karena telah menyakiti Andin, terlebih Evan sendiri melihat bagaimana ada darah di sana kalau dia berusaha menerobos selaput yang akhirnya terkoyak juga. Kini Evan yang lakukan adalah memeluk Andin di sana, sekiranya saja pelukan darinya bisa memberikan ketenangan.
Evan lantas menarik selimut, dan menyelimuti tubuh keduanya, kendati demikian Evan sedikit tersenyum melihat tubuh Andin. Walaupun dalam sinar yang temaram, tetapi Evan bisa melihat lekuk-lekuk feminitas yang ada di sana. Evan lantas berbaring di sisi Andin dan memeluk istrinya itu.
"Maaf yah ... karena memang harus membuat kamu merasakan perih terlebih dahulu. Katanya sih kalau sudah terbiasa, tidak akan perih lagi," balas Evan.
"Kata siapa?" tanya Andin.
"Katanya Elkan," balas Evan dengan jujur.
Andin lantas mengernyitkan keningnya, "Elkan sudah pernah? Bukannya dia masih single?" tanya Andin.
Evan kemudian tertawa di sana, "Dia married duluan daripada aku," balasnya.
Andin seakan tak percaya. Sebab, memang Elkan masih muda dari Evan dan juga terlihat jika Elkan seolah masih lajang. Sama sekali belum terlihat jika ELkan sudah berkeluarga.
"Oh, jadi tanya dulu ya Mas sama si Elkan?" tanya Andin lagi.
"Iya ...."
Evan berkata dengan jujur. Lagipula memang dirinya sama sekali tidak memiliki pengalaman bercinta. Wanita pertama untuknya ya hanya Andin seorang. Sekadar pacaran pun tidak pernah. Evan lantas melirik kepada Andin masih bergelung di dalam selimut di sisinya.
"Sekarang percaya kan, kalau aku pria sejati. Bukan pria belok seperti yang kamu tuduhkan kepadaku dulu," ucapnya.
Andin seakan teringat pada memori pertama mengenal Evan, di saat pria itu mengajaknya untuk serius. Saat itu memang Andin mengira Evan adalah seorang pria yang belok karena memang selama ini tidak pernah terdengar kabar mengenai Evan berpacaran.
Evan tersenyum di sana, "Kamu bisa saja. Menantu idaman apanya. Aku enggak pernah pengen pacaran. Enggak pengen pacaran sama siapa pun. Kamu yang pertama dan akan selalu menjadi satu-satunya buat aku," balas Evan dengan begitu yakin.
Andin yang mendengarkan ucapan Evan, tersenyum di sana. Kali ini, wanita itu membuang rasa sungkannya, lantas Andin membawa kepalanya untuk bertumpu di dada Evan. Rasanya bermanja-manjaan dengan seorang pria rupanya seperti ini rasanya. Andin tersenyum dalam hati kala tangan Evan terbuka dan mencerukkan kepalanya di dadanya, sementara pemuda tampan itu menundukkan wajahnya dan mencium kening Andin.
"Makasih Mas Evan sudah memilihku," balas Andin.
"Makasih juga sudah menungguku," balas Evan.
Evan membawa tangan Andin dan menggenggamnya erat. Evan sangat yakin bahwa tangan inilah yang akan dia genggam seumur hidupnya. Tangan inilah yang akan terus bersamanya menjalani hari entah itu panas atau pun hujan.
"Makasih juga Andin, aku pun menjadi pria yang pertama untukmu kan?" tanya Evan kali ini.
Andin pun menganggukkan kepalanya di sana. "Iya ... kamu yang pertama dan akan selalu menjadi satu-satunya buat aku," balas Andin.
Evan begitu senang mendengarnya. Bukan munafik, tetapi mengetahui bahwa keduanya sama-sama yang pertama untuk satu sama lain membuatnya merasa begitu bahagia. Menjadi orang yang pertama merasakan nikmatnya malam pertama usai akad. Itu adalah hadiah pertama dalam pernikahan dua insan. Pusara asmara yang memabukkan. Pusara asmara yang penuh candu. Sampai Evan tidak bisa menjelaskan lagi hadiah terindah dari pernikahannya itu.
"Andin, aku lihat tadi Arine tidak datang yah? Dia kemana?" tanya Evan. Bukan bermaksud apa-apa, tetapi terlihat jika anggota keluarga Andin yaitu kakak kandungnya sendiri tidak datang.
"Oh, Kak Arine akhirnya ke Sydney, Mas ... dia akan menjalani sisa bulan hingga persalinan nanti. Selain itu, memang Kak Arien tidak datang karena memang media bisa menyorotnya dan juga memberitakan kehamilannya. Oleh karena itu, Kakak tidak datang," balas Andin.
Evan pun menganggukkan kepalanya di sana. Tentu sebagai publik figur, banyak kamera juga akan bisa mendeteksi kehamilan Arine sekarang ini. Ternyata Arine tidak datang karena pergi ke Sydney.
"Kenapa Mas Evan nanyain Kak Arien?" tanya Andin kemudian.
Evan tampak menggelengkan kepalanya di sana, "Enggak ... cuma bertanya saja. Soalnya dia anggota keluargamu yang datang," jawabnya dengan jujur.
"Oh, aku kira ...."
"Kamu kira apa, Andin? Tidak usah berpikir yang macam-macam. Aku hanya bertanya, jangan rusak momen malam pengantin kita ini," balas Evan.
Andin menghela nafas dan mulai menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Mas ...."