
Di Masa Lalu ....
Andin yang kala itu masih begitu kecil, tidak pernah tahu kenapa Papanya seolah tidak pernah sayang kepadanya. Yang Andin tahu bahwa Papanya selalu memberikan yang terbaik dan harganya mahal untuk Kakaknya, tetapi tidak untuknya.
Dari kecil, Andin merasa dirinya berbeda. Jika di dalam satu rumah, orang tua akan mencurahkan kasih sayangnya kepada kedua anaknya. Akan tetapi, tidak untuk Andin. Ketika waktu kecil, Andin harus mencari perhatian dari Papanya agar Papanya mau mengajaknya berbicara, agar Papanya mau menggendongnya. Andin tahu dan bisa merasakan bahwa jikalau Papanya menggendongnya itu hanya sekadar saja. Tidak ada interaksi manis antara Papa dan anak perempuannya.
Bahkan, sejak kecil, Andin harus terbiasa dengan pandangan orang yang mengatakan bahwa wajahnya dan Arine begitu berbeda. Bahkan tak jarang banyak orang berkata, mungkinkah keduanya adalah saudara kandung. Keduanya sama-sama memiliki raut wajah dan penampilan fisik yang berbeda.
Jika Andin tinggi dan berwarna hitam, Arine justru memiliki warna rambut lebih cokelata. Fitur wajah keduanya pun juga berbeda. Dulu, ketika banyak orang membeda-bedakannya dengan Kakaknya, Andin hanya menganggap angin lalu. Bagaimana pun juga, Andin merasa bahwa dia adalah anak Mama dan Papanya.
***
Sekarang ....
Semua pertanyaan Andin di masa lalu akhirnya terjawab sudah. Bahwa dia memang bukanlah seorang anak yang diharapkan. Bahwa dia memang anak yang tidak akan mendapatkan hati dari Papanya sendiri. Begitu hancurnya hati Andin kala itu. Benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini, setelah 22 tahun berlalu, barulah Andin tahu bahwa dia adalah anak yang membuat Papanya kehilangan wanita yang paling dicintainya.
Tidak banyak bicara, Evan mengajak Andin untuk pergi dari rumahnya. Jika yang dibutuhkan Andin adalah buku, Evan bisa membelikan semua buku yang Andin butuhkan. Pria itu menggenggam tangan Andin dan membawanya kembali untuk masuk ke dalam mobil. Kini Evan mengajak Andin untuk segera pulang.
Ya, ada tempat untuk Andin pulang dan itu adalah di rumahnya. Rumah yang memang Evan persembahkan untuk Andin dan anak-anaknya kelak. Sepanjang jalan, Andin hanya menangis. Evan memilih diam, biarlah kali ini Andin menangis terlebih dahulu dan barulah nanti dia akan menenangkan istrinya itu.
Begitu sudah tiba di rumah, Andin pun segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam kamar mereka. Andin menangis dan menyembunyikan wajahnya di bantal, persis di waktu dia masih kecil. Dulu, ketika Papanya memarahinya dan hanya membelikan mainan untuk Arine, yang dilakukan Andin adalah menangis dengan kondisi tengkurap dan menyembunyikan wajahnya di antara bantal-bantal di sana. Evan yang melihat Andin pun tak kuasa untuk menenangkan istrinya. Pria itu melepas sepatunya terlebih dahulu, melepas jas yang dia kenakan, dan lantas menaiki ranjang itu dengan perlahan-lahan. Tangannya memberikan usapan di rambut Andin.
“Sayang,” ucapnya dengan begitu lembut.
Dipanggil oleh Evan, tangisan Andin kian pecah di sana. Bahunya bergetar, dadanya teramat sesak, sampai tangisan itu terdengar begitu pilu di dalam telinga Evan.
Evan pun membalik posisi Andin yang tengkurap dan segera memeluknya. Ya, membiarkan tangan wanitanya itu tumpah ruah di dadanya dan mengenai kemeja kerjanya.
“Ada apa Sayang … menangislah, jika itu memang membuatmu lega,” ucap Evan dengan memeluk Andin dan tangan bergerak memberikan usapan yang lembut di lengan hingga bahunya. Gerakan usapan naik dan turun yang akhirnya perlahan-lahan membuat tangisan Andin mereda.
“Aku … hanya … anak … yang … tidak diinginkan, Mas!”
Ucapnya dengan begitu susah dan bibir yang bergetar, dan isakan di setiap kata yang dia ucapkan. Evan pun menundukkan kepalanya dan mengecup kening Andin di sana.
“Ternyata selama ini terjawab sudah, kenapa Papa memperlakukanku berbeda … itu semua karena aku yang membuat Mamaku tiada kala melahirkanku,” ucap Andin lagi dengan terus menangis.
Evan menganggukkan kepalanya, “Iya … aku mendengarkannya Sayang … aku mendengar semuanya. Jangan merasa tersakiti, karena kita tidak pernah tahu dengan apa yang Tuhan takdirkan dalam hidup kita. Jika menangis membuatmu lega, menangislah,” ucap Evan.
Evan tidak meminta istrinya itu untuk berhenti menangis. Evan tahu ada kalanya menangis justru bisa melegakan hati dan perasaan seseorang. Selain itu, apa yang Andin dengar barusan adalah kenyataan yang pahit. Asal usulnya hanya sebagai anak yang tidak diinginkan. Anak yang dianggap merenggut kebahagiaan Papanya sendiri. Terdengar begitu tragis, tetapi itulah kenyataannya.
Seharusnya Andin bisa bersyukur, walau dia kehilang Mama kandungnya, ada Mama Tika yang pasti kala itu juga begitu tersakiti ketika suaminya memutuskan untuk menikah lagi dan justru mengasuh, membesarkan bayi dari wanita yang telah merebut suaminya. Akan tetapi, justru selama ini Mama Tika yang selalu membela Andin. Tak jarang pertengkaran demi pertengkaran terjadi antara Mama Tika dan Papa Miko karena Mama Tika yang membela Andin dan meminta perlakuan adil untuk Andin.
“Tuhan itu baik, Andin … selalu baik. Di hari kamu kehilangan Ibu kandung kamu. Akan tetapi, dia memberikan Ibu yang lain dalam diri Mama Tika. Seorang Ibu yang begitu menyayangi kamu dan bahkan tulus denganmu. Kamu harus tahu, ada dan banyak orang-orang yang menginginkan kamu dan menyayangi kamu,” ucap Evan dengan terus memeluk Andin di sana.
“Padahal aku juga anak kandungnya, bukan anak tirinya. Akan tetapi, kenapa Papa memperlakukanku seperti ini?” Andin bertanya masih dengan terisak.
Diperlakukan dengan tidak adil oleh orang tua sendiri itu begitu menyakiti hati anak. Andin merasa dia juga adalah anak kandungnya, tetapi seolah Andin hanya penyebab malapetaka dan perusak kebahagiaan Papa Miko.
“Tidak apa-apa. Orang berhak merespons apa pun terhadap sesuatu yang terjadi dalam hidupnya, dan kala itu Papa kamu memilih untuk merespons demikian. Bersabarlah Sayang,” ucap Evan yang masih berusaha untuk menenangkan Andin di sana.
Cukup lama Andin menangis, hingga tangisannya reda. Lantas Andin menatap Evan di sana, “Aku tidak masalah menikahi anak yang tidak diinginkan dalam hidupnya? Dibenci oleh Papanya sendiri?”
Evan menggelengkan kepalanya, “Aku sama sekali tidak keberatan, Sayang … aku bisa melihat di mataku, apakah ada kilat keberatan di sana? Tidak ada!”
Evan menjawab dengan tegas dan menegaskan bahwa dia sama sekali tidak mempermasalahkan masa lalu Andin. Sama seperti Andin yang tidak mempermasalahkan bahwa Evan adalah anak yang lahir karena rahim sewaan.
“Terima kasih Mas Evan,” balas Andin dengan menitikkan air matanya dan kembali masuk ke dalam pelukan Evan.
Kini, Andin tahu bahwa dalam hidupnya yang pahit sekalipun, ada Evan yang Tuhan kirimkan dan memberikan penawar bagi semua kepahitan dalam hidupnya, sehingga ada rasa manis di sana. Andin tahu bahwa pria yang memeluknya sekarang ini adalah pria yang akan terus menggenggam tangannya, memeluknya, dan memberikan ketenangan di dalam hidupnya walau banyak badai yang Andin rasakan.
“Jangan tinggalkan aku,” pinta Andin kali ini.
“Iya, aku tidak akan meninggalkan kamu,” balas Evan dengan begitu sungguh-sungguh.