Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Sarapan Pagi Bersama


Mendengar bahwa Andin siap untuk lembur tentu Evan merasa sangat senang. Itu artinya waktunya bersama dengan Andin bisa lebih banyak. Mungkin bisa Evan manfaatkan sekalian untuk pendekatan dengan gadis cantik itu. Selain itu membuat Andin lembur agaknya menjadi pilihan terbaik supaya Andin tidak terlalu bersedih di rumah. Dari yang Evan tangkap sejauh ini, posisi Andin di rumahnya sendiri juga kurang mendapat tempat. Mungkin yang bisa dikatakan dekat dengan Andin hanya Mamanya saja. Sementara Kakak dan Papanya seolah memiliki motif tersendiri dengan Andin. Evan memang tidak tahu banyak mengenai keluarga Sukmajaya, tetapi sejauh ini terasa bahwa kehadiran Andin seolah tidak terlalu diinginkan. 


"Baiklah, jika kamu siap lembur ... aku tak akan segan-segan untuk memberikanmu banyak-banyak pekerjaan," balas Evan.


Andin pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, "Baik Pak Evan ... yang penting ada gaji tambahan buat lembur kan?" balas Andin dengan sedikit tertawa.


"Tentu ... untukmu, apa pun akan aku berikan. Jika bisa aku membayar, aku akan memintamu untuk mempertahankan senyuman di wajahmu itu," balas Evan.


Andin mengerjap, tidak mengira sepagi ini atasannya itu sudah berbicara manis kepadanya. Walau tanpa sarapan, Andin sangat yakin bahwa asupan glukosa di tubuhnya berlipat-lipat banyaknya usai mendengar perkataan Evan Agastya. 


"Ingat Pak Evan, Anda Kakak Ipar saya loh," balas Andin. 


Evan tampak menghela nafas yang rasanya begitu berat dan kemudian mengedikkan bahunya begitu saja. "Biarkan saja, masalah hati itu tidak bisa ditahan, Andin. Sebaiknya kita jalani saja apa yang ada. Bagaimana pun aku dan kamu juga berhak bahagia," balas Evan. 


Andin memilih diam, bagaimana jika berawal dari menjalani dan kemudian dia benar-benar jatuh hati kepada Bosnya yang memang begitu tampan itu. Sedikit senyuman yang ditunjukkan Evan di wajahnya nyatanya telah benar-benar membuat jantung bertalu-talu, pesona atasannya itu memang begitu luar biasa. 


Ketika Andin diam, ternyata Evan mencari kontak Mamanya dan mulai melakukan panggilan video kepada Mama Sara.


"Halo Ma," sapa Evan pagi itu. 


"Ya, Halo Van … sudah diberikan kotak bekalnya?" tanya Mama Sara. 


Bukan menjawab, nyatanya Evan justru menghadapkan kamera handphonenya kepada Andin. Sontak saja Andin merasa malu, gugup, dan tentunya bingung juga harus berbicara apa dengan Tante Sara. 


"Halo, Andin," sapa Mama Sara dengan tersenyum menatap Andin dari kamera handphone itu. 


"Ya, halo Tante … ini Andin berterima kasih banyak untuk bekalnya," ucap Andin yang mengucapkan terima kasih kepada Tante Sara. 


"Sama-sama. Dimakan mumpung masih hangat, itu Tante bawakan untuk Evan juga katanya pengen sarapan sama kamu," balas Tante Sara lagi. 


"Baik Tante, terima kasih banyak," balas Andin. 


Evan kemudian membawa handphonenya dan kini menyorot wajahnya sendiri dan menatap sang Mama yang masih terhubung dengannya di panggilan video itu. 


"Sama-sama Kak Evan. Love U Son," balas Evan. 


Andin tampak memperhatikan interaksi antara Bosnya dengan Mamanya sendiri terlihat bagaimana kedekatan Mama dan anaknya yang sudah dewasa pun masih terjalin dengan begitu baiknya. Bahkan pemuda di sampingnya ini tidak segan untuk mengucapkan 'i love u' kepada Mamanya sendiri. Bukankah ini tidakan yang tidak lazim, menggelikan, tetapi manis di saat yang bersamaan. 


"Yuk, temani saya sarapan," pinta Evan kemudian. 


Pria itu segera membuka kotak bekal yang pagi itu berisi Nasi Goreng dengan Ikan Teri yang ditaburkan di atasnya. Bagi masyarakat Melayu, nasi goreng seperti ini sering kali disebut dengan Nasi Goreng Kampung. Rasa nasi goreng yang pedas bercampur gurih dan asinnya ikan teri memberikan cita rasa tersendiri. 


"Nasi Goreng Ikan Teri?" tanya Andin lagi. 


"Iya, kamu tidak pernah memakan nasi goreng seperti ini?" tanya Evan. 


Andin pun menggelengkan kepalanya, "Belum. Palingan hanya nasi goreng telor ceplok dan nasi goreng ayam saja," balas Andin. 


"Ini salah satu menu kesukaan Papaku. Saat mengerjakan projek di Batam, orang Melayu menyebutnya dengan nama Nasi Goreng Kampung. Cobalah, sekali coba kamu pasti akan suka," balas Evan yang sudah mengambil satu sendok nasi goreng dan memakannya dengan lahap. 


Andin pun segera mencoba mencicipi nasi goreng yang baru kali ini dia makan karena dimakan dengan ikan teri medan yang ditaburkan di atas nasi goreng. 


"Gimana, enak bukan?" tanya Evan. 


"Hmm, ini enak … enak banget. Cuma kelihatannya Tante Sara jago memasak ya Pak?" tanya Andin. 


"Benar Mamaku pintar memasak. Bahkan saking sukanya masak, kami sejak kecil paling suka masakan Mama. Apa pun yang Mama masak akan kami makan dengan lahap," balas Evan. 


"Bersyukur banget ya Pak Evan. Bersyukur Pak Evan memiliki keluarga yang utuh, saling menyayangi, dan saling perhatian. Jauh berbeda dengan keluarga saya. Keluarga yang bahagia itu juga adalah anugerah dari Tuhan, Pak," balas Andin. 


Andin sepenuhnya menyadari bahwa keluarga yang bahagia, di mana setiap anggota keluarganya bisa saling menyayangi adalah anugerah tersendiri. Sebab, tidak banyak keluarga yang bisa mendapatkan anugerah yang sama. Bersyukur bisa memiliki keluarga yang utuh dan bahagia. 


"Makasih Andin, mau keluarga yang utuh dan bahagia? Tunggulah 12 bulan lagi, aku akan mewujudkan itu untukmu," balas Evan. 


Andin kemudian sedikit tertawa kecil, "Makan saja Pak… nasi gorengnya keburu dingin. Terima kasih banyak untuk sarapannya, Pak."