Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Obrolan Arine dan Andin


Malam harinya, Arine kini datang dan mengetuk pintu kamar Andin. Setidaknya kali ini yang perlu dibicarakan Arine kepada adiknya, Andin. Bahkan ada hal yang harus diluruskan karena memang Arine sendiri tak menghendaki pernikahan ini.


"Ndin, Andin … boleh Kakak masuk," panggil Arine kepada Andin dengan sedikit membuka pintu kamar adiknya itu.


"Masuk aja Kak," balas Andin yang kini sedang duduk di meja belajarnya.


Memang Andin masih mahasiswa dan magang di Agastya Properti sehingga ada laporan Kuliah Kerja Lapangan yang harus dia susun.


"Andin, apa kamu mencintai Pak Evan itu?" tanya Arine dengan tiba-tiba.


Tentu saja, Andin yang mendengar pertanyaan itu seketika menghentikan aktivitasnya dan melirik kepada Arine. Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Kakaknya sekarang


"Kenapa menanyakan itu Kak?" tanya Andin kepada Kakaknya.


"Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu kepada atasanmu itu. Dia tampan dan tentunya good looking," balas Arine.


Mendengar kakaknya yang memuji ketampanan Evan membuat Andin menghela nafas yang rasanya begitu berat. Jika semula Arine mengatakan bahwa dia tidak menghendaki pernikahan ini, mungkinkah sekarang Arine telah berubah pikiran dan justru menginginkan untuk bisa mendapatkan Evan sepenuhnya?


Membayangkan jika saja hal itu terjadi membuat dada Andin terasa begitu sesak. Ya, sangat sesak sampai Andin tak bisa membayangkan jika sampai Evan jatuh ke dalam pelukan Kakaknya yang memang jauh lebih cantik, seksi, dan juga populer itu.


"Bagaimana perasaan Andin, cukup Andin yang tahu. Kak Arine tidak berhak tahu," balas Andin.


Arine kemudian tersenyum tipis dan menatap Andin, "Jika kamu menyukainya kenapa tidak menikahinya sekaligus?"


"Kakak ini tidak waras yah? Bagaimana bisa seorang pria menikahi kakak dan adiknya sekaligus. Makanya Kak, berpikir sebelum bertindak. Andai Kakak tidak hamil duluan, semua ini tidak akan terjadi," balas Andin dengan kesal.


Arine menatap tajam pada sosok Andin yang dengan berani-beraninya mengatainya hamil di luar nikah itu. Dihakimi oleh adiknya sendiri tentu saja membuat Arine meradang.


"Jaga bicaramu Andin, bagaimana pun aku ini Kakakmu. Jika kamu terus-menerus bersikap kasar seperti ini, aku bisa merebut Evan dari sisimu," balas Arine.


“Hebat kamu Kak … jangan kamu pikir bahwa hanya hamil dan kamu populer, sehingga membuatmu bisa mendapatkan apa pun yang kamu tahu. Ada kalanya Tuhan akan membalikkan semuanya. Lagipula di sini jelas, anak itu tidak tahu milik siapa. Jika yang menghamilimu adalah pria baik-baik tentu dia akan datang dan bertanggung jawab tak peduli dengan aral rintangan yang ada. Aku justru kasihan padamu, Kak,” ucap Andin yang merasa iba dengan Kakaknya.


“Sialan kamu Ndin, jangan merasa sok suci kamu. Aku tahu kamu tidak sebaik yang kamu tunjukkan di hadapan Mama. Aku tahu kamu hanya berpura-pura menjadi anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari Papa karena Papa hanya sayang padaku,” balas Arine.


Sungguh, tidak mengira obrolan biasa nyatanya justru menjadi pertengkaran bagi kakak beradik itu. Pembicaraan yang saling menyudutkan satu sama lain. Hingga Andin begitu geram dengan semua ucapan Kakaknya itu.


“Sebaiknya silakan pergi dari sini Kak … maafkan Andin, mulai saat ini tidak perlu berbicara lagi dengan Andin,” balasnya.


Tak ingin berlarut-larut, Andin memilih mengusir Kakaknya itu untuk keluar dan juga menutup pintu kamarnya dan menutupnya dari dalam. Tidak akan memberikan celah bagi Kakaknya itu. Memang dia tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Papanya, bukan berarti Andin bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian dari Papanya.


Luka lama rasanya kembali terkuak. Anak yang diasuh dan dibesarkan dengan cara yang berbeda. Anak yang lebih banyak mendapatkan materi daripada kasih sayang. Hingga kini Andin justru seolah menjadi anak yang hilang di dalam rumahnya sendiri. Tidak ada kasih sayang yang tulus dari orang tuanya.


Memiliki saudara kandung pun yang ada hanya merebut apa yang dia miliki. Bahkan sekarang, seorang Evan Agastya pun harus mereka perebutkan bersama. Sungguh, dada Andin rasanya begitu sesak sekarang ini.


“Apakah lebih baik aku melepaskanmu Pak Evan? Apakah lebih baik kamu memulai pernikahan yang sebenarnya dengan Arine? Memang aku belum mencintaimu, Pak Evan … tetapi kenapa ini sudah menjeratku. Seolah sebuah tali benar-benar diikatkan di leherku sampai aku tidak bisa bernafas rasanya. Ini sangat menyiksaku Pak Evan,” gumam Andin dengan lirih.


Hingga air mata pun berlinangan begitu saja. Apa yang merasa menjadi miliknya, tetapi direbut begitu saja oleh Kakaknya rasanya sangat menyakitkan. Menjadi pihak yang harus mengalah, menjadi pihak yang tak didengar kemauan dan keinginan hatinya.


“Pernikahan kontrak ini menghancurkanku Pak Evan … kamu dan Kakakku, belum Papaku yang seolah berusaha keras mendapatkan perhatianmu. Mungkin pada akhirnya, aku yang akan mengalah, maka aku akan mengalah. Cintaku ini harus layu sebelum berkembang. Menguncup pun belum, tetapi harus dipotek begitu saja dan dilempar ke jalanan. Sungguh tragis kisah cintaku,” ucap Andin dengan sesegukan.


Sementara itu, Arine yang kembali ke dalam kamarnya pun merasa begitu kesal. Benar dirinya hamil di luar nikah. Hanya saja, ketika Andin yang mengucapkannya secara langsung hal itu membuat Arine begitu kesal.


“Jaga bicaramu itu Andin, jika tidak aku bisa benar-benar mengambil Evan darimu. Lagipula, pria itu tampan dan menawan. Aku mungkin bisa menggunakan kecantikanku ini untuk mendapatkan hati seorang Evan Agastya. Kita lihat saja nanti Andin, aku atau kamu yang akhirnya akan mendapatkan Evan Agastya,” balas Arine dengan tersenyum culas.


Ada jiwa kompetisi yang tinggi di antara kakak beradik itu. Rasa ingin memiliki apa yang dimiliki sang adik terus mendominasi dan seolah membuat Arine merasa tidak rela jika Andin mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia miliki.