Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Pernikahan Tanpa Jalinan


Begitu akad usai, nyatanya Evan dan Arine sama-sama memilih untuk duduk menjauh. Mereka sama-sama merasakan bahwa pernikahan ini hanya sebuah status saja. Tanpa ada cinta yang mempersatukan keduanya. Pandangan mata Evan kini mengedar dan tentu yang dia cari adalah Andin. Melihat tidak ada sosok Andin, Evan pun segera mengeluarkan handphonenya dan kemudian mengirimkan pesan kepada sekretarisnya itu.


[To: Andin]


[Kamu ada di mana Andin?]


[Bolehkah kita bertemu?]


[Akadnya sudah selesai, dan aku mencarimu]


Dengan cepat Evan mengirimkan pesan-pesan itu dan juga berharap bahwa dia bisa melihat Andin. Sebab, memang hanya sosok Andin saja yang ingin dia lihat. Walau orang-orang selalu mengelu-elukan kecantikan dan popularitas Arine, tetapi semuanya itu tidak berarti bagi Evan. Gadis yang berhasil mencuri perhatiannya adalah Andin semata.


Rupanya tidak lama, Andin pun turun menuruni anak tangga. Tatapan matanya kini beradu dengan Evan yang duduk di ruang tamu. Evan tentu terpaku dan hanya menatap pada Andin. Walau di sana ada Arine yang sedikit mencuri pandang kepada Evan, tetapi Evan tak menghiraukannya. Satu-satunya objek yang bisa ditangkap oleh retina matanya hanya Andin seorang.


"Evan, mau makan dulu?" tawar Papa Miko.


Setidaknya usai akad itu bisa diakhiri dengan makan bersama. Tentunya supaya bisa menjadi lebih akrab. Walau hanya kontrak, tetapi Evan tetap menjadi anggota keluarga baru bagi keluarga Sukmajaya.


Namun, Evan dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak Om ... saya makan di rumah saja," balasnya.


Ketika mengatakan hendak makan di rumah, tetapi sorot mata Evan kini justru terpaku hanya pada sosok Andin yang kini sudah turut duduk dan bergabung di ruang tamu. Andin memilih bersikap biasa, tetapi Andin juga tidak berbicara apa pun. Memantau keadaan dengan mengamati yang terjadi di sekelilingnya.


"Andin, ajak Evan makan gih," ucap Papa Miko lagi.


Mungkin jika Andin yang membujuk Evan, maka Evan bersedia untuk makan di rumah mereka. Lagipula, tidak ada salahnya untuk meluangkan waktu makan bersama terlebih dahulu.


"Pak Evan mau makan di sini?" tawar Andin.


"Tidak Andin ... sebaiknya kamu bersiap dan ikut saya, ada pertemuan dengan klien hari ini," ucap Evan.


"Bekerja di hari Sabtu, Nak Evan?" tanya Papa Miko.


"Iya Om ... saya hanya pekerja biasa saja, sehingga kalau Bos besar menyuruh saya untuk bekerja ya saya akan bekerja," balas Evan.


"Baik Pak Evan, saya akan bersiap," balas Andin.


Kurang lebih 20 menit Evan menunggu, Andin kembali turun dengan pakaian kerja yang formal. Tidak lupa membawa slingbag miliknya. Maka Evan pun berdiri dan berpamitan dengan Papa Miko dan Mama Tika. Evan pun masih memanggil keduanya dengan sebuatan Om dan Tante. Padahal sekarang Evan bisa memanggil mereka dengan sebutan Papa dan Mama.


"Kami pergi dulu Om dan Tante," pamit Evan.


Sementara Papa Miko, Mama Tika, dan juga Arine menatap kepergian Evan dan Andin dengan menghela nafas sepenuh dada. Arine yang sedari tadi diam pun akhirnya juga bersuara, "Kenapa tidak membiarkan Andin saja yang menikah Pa?" tanyanya.


"Bagaimana dengan anakmu itu? Kamu mau melahirkan anak yang tidak ada Bapaknya?" tanya Papa Miko.


"Tidak apa-apa, daripada terjadi kesalahpahaman antara Andin dan juga Arine," balasnya.


"Lalu, kenapa kamu hamil dengan pria sembarangan. Harusnya kamu itu mikir, Rine. Kamu itu publik figur yang disorot ratusan ribu pasang mata di Indonesia. Harusnya kamu lebih berhati-hati dalam bersikap. Sekarang, apa yang kamu harapkan lagi?"


Papa Miko pun kesal dan membentak Arine. Baginya apa yang sudah dilakukan Arine pun adalah tindakan yang sembarang. Seharusnya sebagai seorang publik figur, Arine bisa menjaga sikapnya dan tindakannya. Tidak melakukan apa pun yang merugikan dirinya.


"Itu semua juga hasil dari tindakan bodohmu itu," balas Papa Miko.


Sungguh, Papa Miko meminta Evan menikahi Arine secara kontrak bukan karena mengasihi Arine dan menutupi kesalahannya. Papa Miko pun menilai bahwa tindakan Arine kali ini pun adalah tindakan yang salah. Namun, setidaknya Arine bersuami walau pun hanya sebatas suami di atas kertas.


"Semua ini juga tidak akan terjadi, jika kamu berpikir dengan jernih sebelum melakukan sesuatu. Kamu pamit untuk refreshing, break syuting, tetapi yang terjadi kamu kehilangan mahkotamu di sana. Ingat Arine, hanya karena setitik noda, semua kerja kerasmu di panggung hiburan bisa lenyap begitu saja. Apa yang sudah kamu gapai bisa hilang dan sirna begitu saja," balas Papa Miko.


Arine hanya menundukkan kepalanya. Jika Papanya sudah marah seperti ini, Arine tak pernah berani untuk melawan Papanya. Lagipula, dalam hal ini memang dirinya yang bersalah.


"Maafkan Arine, Pa ... hanya saja untuk apa menikah jika tidak ada ikatan. Lagipula, Arine tahu bahwa yang dia cintai adalah Andin. Arine justru menjadi orang yang jahat di sini," balasnya.


"Semua sudah terjadi Arine. Jalani saja untuk 12 bulan ke depan. Atau jika memang begitu kamu melahirkan dan kamu ingin menyelesaikan pernikahan kontrak ini juga tidak apa-apa," balas Papa Miko.


Hanya saja memang jika usai melahirkan anaknya nanti dan Arine ingin membatalkan pernikahan yang tanpa ikatan ini, Papa Miko juga akan mengizinkannya. Yang diharapkan Papa Miko sekarang adalah Arine yang mendapatkan suami dan anak yang dia kandung tidak mendapat cela. Selain itu, nama Papa Miko sebagai pengusaha pun tidak akan tercela karena kelakuan gegabah putri sulungnya itu.


“Baik Papa … Arine hanya menjalani masa 12 bulan ini, dan melepaskan Evan. Bagaimana pun Evan harus mendapatkan Andin karena yang dia cintai adalah Andin dan bukan Arine,” balasnya.


Biarlah untuk waktu 12 bulan ini Arine akan berusaha untuk menjalani. Sudah pasti dalam 12 bulan ini, hubungannya dengan Andin juga tidak akan baik-baik saja. Namun, Arine pun hanya bisa menjalani untuk apa yang sudah disepakati bersama. Setelahnya, Arine berjanji akan melepaskan Evan dengan sukarela bagi adiknya sendiri.