
Semalam suntuk Hanna tak bisa tidur, dia tetap berada di samping jenazah ayahnya. Sesekali dia mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh. Sementara Rayyan pun tak tega meninggalkan Hanna. Dia tetap berada di sana.
Pagi pun datang, dan para pelayat yang semula sepi kini menjadi ramai lagi. Panji, Meta, Kia pun datang.
"Ya ampun Han...turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, kuat ya" Kia memeluk Hanna erat, air matanya ikut tak terbendung.
"Han...sabar ya Han" Meta bergantian memeluk Hanna erat. Hanna mengangguk. Matanya terlihat bengkak karena menangis sejak kemarin. Rayyan nampak berdiri tak jauh dari Hanna.
"Han...." Panji langsung memeluk Hanna erat, tak mengeluarkan kalimat apapun. Air matanya tertahan di pelupuk matanya. Pasti Hanna sangat-sangat terluka.
Meta mematung saat melihat Rayyan berada di sana, beribu pertanyaan tertahan di bibirnya, ingin teriak tapi tak layak karena situasi yang tidak memungkinkan. Sementara Kia dan Panji bergantian bersalaman dengan Rayyan. Karena mereka sudah tahu, maka mereka biasa saja dengan situasi ini.
Jenazah selesai dimandikan dan dikafankan, siap untuk diberangkatkan ke makam. Rayyan memilih tetap mendampingi Hanna berada di mobil ambulans yang akan mengantarkan Pak Handi ke peristirahatan terakhir. Sementara yang lainnya ada yang naik mobil dan juga kendaraan lainnya.
Sepanjang perjalanan yang hanya memakan waktu sekitar 10 menit itu terasa amat menyakitkan, inilah momen di mana Hanna bisa menemani ayahnya untuk terakhir kali. Air matanya kembali tumpah, dadanya terasa sesak. Bahkan Hanna tak bisa menemani ayahnya di saat terakhir. Hanna menyesal, merutuki dirinya. Rayyan mengusap air mata Hanna yang mulai turun ke pipi.
Sekitar 10 menit kendaraan tiba di area pemakaman, Rayyan membantu Hanna turun dengan memegangi tangannya. Hanna nampak rapuh.
Seusai membantu Hanna turun, Rayyan membantu warga untuk menurunkan keranda Pak Handi turun untuk segera dibawa ke area pemakaman untuk dimakamkan.
Perlahan jenazah mulai diturunkan, Hanna yang berada di barisan kedua setelah para bapak-bapak yang berada di bagian depan yang akan bertugas menguruk tanah. Rayyan pun ikut turun ke liang lahat, tak peduli dengan kotornya tanah merah yang ada di sana, ditambah bekas hujan kemarin malam. Dan langit hari ini pun kembali mendung.
Jenazah sudah turun ke liang lahat, dan mulai ditimbun tanah. Mata Hanna nanar melihat ayahnya sudah berbaring di sana. Tak akan ada lagi tawa dari ayahnya, tak ada lagi bercandaan, tak ada lagi masak bersama, tak akan ada lagi yang sama. Gundukan tanah semakin penuh di liang lahat, Hanna duduk di sebuah kursi di pinggir liang lahat yang mulai menggunung itu. Tangannya memegang keranjang bunga tabur. Di sampingnya ada Kia dan Meta yang menenangkan Hanna.
Satu per satu para pelayat meninggalkan area pemakaman, Hanna masih di sana. Begitu juga Kia, Meta, Panji, dan juga Rayyan. Hanna bangkit dan menaburkan bunga di makam ayahnya. Hanna berjongkok di samping, tangannya mengelus pusara ayahnya.
Seolah mimpi buruk, Hanna mencoba menepis kenyataan ini. Ini terlalu sakit, dadanya terasa sangat sesak. Hanna menatap nisan itu dengan tatapan sendu.
"Ayah...ayah yang tenang ya..." Hanna mencoba tersenyum. "Hanna bisa, Hanna kuat," imbuhnya menyemangati dirinya sendiri.
Kia ikut berjongkok di samping Hanna, begitu juga Meta. Rayyan berdiri agak jauh dari mereka, dia masih di sini. Begitu juga Panji. Mereka masih menemani Hanna.
Setelah agak lama, Meta dan Kia pamit undur diri.
"Aku pulang dulu ya Han, nanti sore aku balik lagi," ucap Kia seraya memeluk Hanna. Bergantian Meta melakukannya.
"Aku juga Han,"
"Terima kasih, maaf jika ada salah-salah kata dari ayah ya....." Hanna mencoba tersenyum, dia mulai bisa menguasai dirinya.
"Iya Han" jawab Kia, dia mengusap dua pundak Hanna, agar sahabatnya itu semakin tegar.
Kini tinggal Hanna yang berada di sana, ditemani Rayyan.
"Terima kasih sudah menemani dari kemarin, aku masih ingin di sini, kamu pasti capek, pulanglah dulu aku nggak apa-apa" Hanna menatap Rayyan, bibirnya namapak tersenyum meskipun dipaksakan.
"Aku berharap ini adalah mimpi, tapi ternyata bukan," Hanna tersenyum kecil. Tangannya sedang memegang bunga tabur yang ada di gundukan makam ayahnya. Kini Pak Handi sudah istirahat dengan tenang. "Dan tak akan ada lagi tawa ayah di rumah." Hanna menatap nanar nisan ayahnya.
Rayyan meraih pundak Hanna dan meletakkan di bahunya, Hanna tak menolak. Dia membiarkan kepalanya bersandar di bahu Rayyan. Dia sudah sangat lelah rasanya.
"Aku kehilangan ayah, aku tak punya siapa-siapa"
"Jangan bilang seperti itu, masih ada Nayo, masih ada aku," Rayyan menenangkan. Hanna terdiam, semua tak lagi sama.
"Aku harus bagaimana sekarang?," ucapan Hanna terdengar putus asa.
"Masih ada aku, katakan apa yang bisa aku lakukan untukmu, akan aku lakukan." Rayyan mengusap pundak Hanna. "Aku tidak akan pernah bisa merasakan luka yang kamu rasakan, tapi setidaknya izinkan aku menemanimu melewati ini,"
Nyatanya Rayyan adalah orang yang ada di sampingnya saat dia terpuruk, Rayyan yang ada menemani hingga kini. Apakah hanya sekedar kasihan? sekadar sebagai mantan?. Ah Hanna tak ingin memikirkan hal itu.
"Hanna pulang dulu ya yah...ayah baik-baik di sini, ayah yang tenang ya, Hanna akan baik-baik sama Nayo." pamit Hanna sambil mengusap nisan ayahnya sekali lagi sebelum dia bangkit dan meninggalkan area makam. Rayyan membukakan pintu mobil untuk Hanna dan bersiap mengantarkannya pulang.
Sepanjang perjalanan, hanya pedih yang Hanna rasakan. Dia hanya diam saja, sementara Rayyan membiarkannya begitu saja.
Karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh, mereka tiba di rumah Hanna. Rayyan ikut turun dan mengantar Hanna hingga masuk ke dalam rumah.
"Apakah masih ingin aku temani?." Rayyan kembali menawarkan diri.
"Pulanglah, kamu pasti sangat lelah, terima kasih," jawab Hanna sambil membenahi kerudungnya yang melorot.
"Nanti aku kesini lagi, kamu buruan mandi dan makan,"
Hanna mengangguk kecil. Rayyan pamit undur diri karena dia juga akan mandi, bajunya kotor semua terkena tanah makam.
Hanna masuk ke dalam rumah, dia tak bergegas mandi. Dia memperhatikan seisi ruangan rumah, mataya menyisir setiap sudut ruang di mana biasanya ayahnya berada. Kursi tempat duduk ayahnya yang biasa ditempati untuk mengaji, tempat kerja ayahnya, di mana ayahnya menyetrika baju para pelanggannya. Aroma ayahnya yang masih sangat terhirup.
Hanna benar-benar merindukan laki-laki itu.
"Ayaaah..." gumam Hanna sambil mengusap salah satu baju yang masih menggantung di gantungan di belakang pintu, kini Hanna berada di kamar ayahnya. Ranjangnya masih rapi dengan selimut yang masih terlipat.
"Kenapa ayah pergi tanpa meninggalkan pesan?" gumamnya lagi. Dia menatap dinding kamar ayahnya, di mana terpajang foto keluarga di sana.
"Kini ayah senang ya sudah ketemu sama Ibu?." Hanna mengelus foto tersebut. Hanna seperti orang linglung, ditambah lagi sejak semalam dia tidak tidur. Hanna mendekat foto tersebut ke dadanya, dia merebahkan diri di ranjang ayahnya hingga dia tertidur pulas.
Hampir sore saat Hanna membuka mata, dia amat berharap saat membuka matanya ini semua akan kembali. Suara ayahnya akan terdengar dari balik pintu membangunkannya. Tapi nyatanya, dadanya terasa sesak, sakitnya nyata. Hanna sadar bahwa ini bukanlah mimpi.
Hanna masih memeluk foto dalam figura itu, dia menatapnya lagi sebelum dia kembalikan ke dinding. Lalu Hanna keluar dari kamar ayahnya, dia akan membersihkan dirinya sebelum tamu akan berdatangan nanti untuk acara tahlilan bersama.