
Serasa sedang mengemban tugas yang sangat berat, Hanna mengurut kepalanya, bagaimana bisa Pak Andre tahu jika dia sudah menikah dengan Rayyan?. Apakah Rayyan yang menceritakan? jelas itu bukanlah jawabannya. Tapi bukan itu inti masalahnya sekarang, apakah dia bisa membantu Pak Andre meminta maaf pada Rayyan?. Karena terlihat mata laki-laki sepuh itu begitu berharap mendapatkan maaf dari Rayyan, menginginkan kedamaian dalam hidupnya.
"Kak..." sapa Nayo membuyarkan lamunan Hanna di depan televisi yang menyala.
"Ih ngagetin aja. Tumben?" Hanna melihat adiknya duduk di kursi seberangnya, memang tidak biasanya Nayo nimbrung di jam segini, biasanya selepas ngampus dia akan kembali ke kamarnya dan belajar atau mengerjakan tugas. Tentu setelah makan malam bersama, bahkan kadang tak sempat makan malam bersama.
"Nih" Nayo menyerahkan sebuah amplop warna putih dengan logo yang Hanna belum pernah melihatnya.
Hanna menerima amplop tersebut, lalu melihat ke arah wajah adiknya yang nampak sumringah.
"Apa ini?" tanya Hanna masih membolak-balik amplop tersebut dan belum membukanya.
"Buka aja kak"
Perlahan Hanna membuka amplop tersebut, di mana keterangannya adiknya mendapatkan tugas untuk pertukaran mahasiswa ke luar negeri.
Hanna menatap adiknya tanpa kata, Hanna merasa jika perjuangannya selama ini tidaklah sia-sia, di mana dia bisa menghasilkan uang untuk adiknya kuliah. Nayo memang pintar dan cerdas jauh di atasnya. Dan kini adik laki-lakinya akan menjadi salah satu bagian mahasiswa yang akan ke luar negeri.
"Berapa bulan?" tanya Hanna masih sambil membaca tulisan tersebut, kebahagiaan tak bisa dia sembunyikan di matanya.
"1 semester kak"
"Ok, persiapkan dirimu dengan baik, selamat" Hanna memeluk adiknya bangga. "Ayah sudah tahu?"
Nayo mengangguk, tadi sore dia sudah mengabarkan hal ini pada ayahnya, dan sama, ayahnya sangat senang sekali dengan prestasi anak bungsunya. Memang, pertukaran mahasiswa melalui seleksi ketat yang diadakan kampusnya, dilihat juga dari nilai IPK. Dan Nayo menjadi salah satunya. Dia akan berada di luar negeri dengan full akomodasi.
"Ini kesempatan bagus, maka kamu harus serius" pesan Hanna, Nayo mengangguk.
"Terima kasih kak" balas Nayo sungguh-sungguh, tanpa pengorbanan Hanna, dia tak akan sampai di sini. "Tapi nanti selama 6 bulan kita tidak boleh pulang kak"
"Nggak masalah, kerasanlah di sana, pulang-pulang bawa ilmu yang banyaaaak, yah?"
Nayo mengangguk.
"Kakak benar-benar bangga padamu" ucap Hanna.
"Kakak baik-baik lah sama ayah, jaga ayah"
"Nggak usah khawatir, kayak nggak tahu kakak aja" Hanna tersenyum simpul sambil mengangkat jempol kanannya ke arah adiknya.
Ada sedikit kelegaan yang Hanna rasakan, di mana adiknya mampu membuat ayah dan dirinya bangga. Semoga berlanjut hingga nanti lulus. Hanna mematikan televisi dan segera masuk ke dalam kamar untuk istirahat setelah seharian disibukkan dengan banyaknya aktivitas.
Ingatan tentang Pak Andre kembali terulang di benaknya, laki-laki itu. Hanna menggelengkan kepalanya.
"Duuuh....kenapa harus berkutat lagi dengan dia? bukankah beberapa hari ini baik-baik saja tanpa Rayyan?" gumamnya sambil menaikkan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, kini kaki hingga kepala terbungkus selimut yang sudah usang itu.
Tangan Hanna meraba di sekitarnya, mencari ponselnya. Dan setelah meraih benda itu, dia memasukkan ke dalam selimut dan mengecek ponselnya, tak ada pesan masuk. Hanna melihat nomor Rayyan, laki-laki itu nampaknya sudah melupakannya, buktinya dia sama sekali tidak mengirimkan pesan padanya. Hanna tersenyum.
Hanna mengetik sesuatu, namun dihapus, mengetik lagi dan dihapus lagi, begitu seterusnya, hingga akhirnya dia meletakkan ponsel di meja dekat ranjangnya.
***
Dengan asisten pengganti Kamila, Rayyan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Baik kerjaan di luar negeri maupun dalam negeri, dengan kesibukannya, dia mampu sedikit mengalihkan pikirannya dari Hanna dan juga laki-laki yang enggan dia sebut dengan panggilan ayah itu.
"Waktunya kembali bos" sahut asistennya. Rayyan meletakkan ponselnya kembali dan bersiap menggambil gambar untuk sebuah produk parfum. Ditemani dengan model cantik yang sedang naik daun, Rayyan melakukan pemotretan hingga selesai.
"Diana" sahut model wanita cantik itu memperkenalkan diri, hingga kerjaan usai, dia baru sempat menyebut namanya di depan Rayyan. Rayyan menyambut uluran tangan wanita itu dan tersenyum.
"Tak usah menyebutkan nama anda, saya sudah sangat tahu" senyumnya diiringi kerlingan mata.
Rayyan tersenyum kembali, tak perlu menjelaskan apapun, karena dia memang setenar itu.
"Ada waktu?" tanya model itu. "Kita bisa ngopi sambil ngobrolin pekerjaan sebentar"
Rayyan nampak berfikir, tak ada salahnya menyempatkan untuk ngobrol sebelum kembali pada acara yang lain.
"Ok" jawabnya singkat.
Mereka telah ada di coffeshop tak jauh dari lokasi pemotretan. Diana meneguk coffe yang masih hangat itu, Rayyan masih membiarkan minumannya.
"Jadi aku mau ada proyek gitu deh, dan siapa tahu kita jodoh bisa kerja sama" sambung Diana yang ternyata juga seorang penyanyi pendatang baru. "Aku butuh model agar bisa booming karya pertamaku" ulasnya jujur.
"Kamu urus saja dengan asistenku, siapa tahu jadwalku bisa" sambung Rayyan.
"Dunia hiburan memang kejam, kalau mau main mulus mah kita nggak bakal naik" sambung Diana. Rayyan tak setuju, karena selama ini dia tak perlu melakukan hal kotor untuk bisa menjadi sekarang ini. Karirnya yang dirintis dari nol memanglah tidak mudah, tapi dia tidak pernah melakukan hal-hal yang mengundang kontroversi.
Diana memang cantik, seksi, dan bisa jadi ini adalah paket komplit dia, tapi Rayyan tak yakin jika suara wanita itu menjual, wanita itu menyalakan batang rokoknya. Rayyan semakin yakin jika dugaannya tidak meleset.
"Aji mumpung aja" Diana tersenyum sambil masih asyik merokok, asapnya mengepul hingga Rayyan menyibakkan tangannya.
"Sorry...kamu bukan perokok ya, duh...maaf...nanti bisa merusak suara kamu yang kece itu" gumamnya lalu mematikan rokok tersebut di asbak. "Rasanya nggak enak kalau tanpa dia" Diana terkekeh.
Rayyan menyesap kopinya yang sudah tak lagi panas itu, lalu kembali meletakkannya di atas meja.
"Jadi kalau mau kerjasama dengan kamu, lewat asisten ya? nggak bisa lewat kamu langsung?"
"Iya, hubungi saja asisten"
"Kamila kemana?"
"Masih sakit, butuh istirahat''
"Boleh nanya sesuatu?"
Rayyan melihat ke arah Diana.
"Jadi berita tentang Talitha yang lalu itu benar?" tanya Diana mengulas cerita yang sudah lampau itu. Rayyan tersenyum datar, itu cerita yang usang baginya.
"Haruskah aku jawab?" tanya Rayyan masih tersenyum datar.
"Sorry...aku kepo ya?" Diana tergelak.
"Bagaimana jika aku sudah menikah dan ternyata yang aku nikahi adalah gadis biasa?" Rayyan meminta pendapat.
"Sayangnya aku nggak akan percaya, lebih baik kamu menikah sama aku daripada karirmu turun" gelak Diana lalu tertawa, menganggapnya itu hanyalah lelucon saja.