
Air mata Hanna membanjiri pipinya, bahkan jatuh di pangkuannya. Tak menyangka jika kejadian ini akan terjadi. Kejadian yang sama sekali tak dia duga, kejadian yang belum sama sekali terlintas di pikirannya. Hanna memunguti pakaian yang berceceran di lantai dengan sesenggukan. Sementara Rayyan seolah masih terbius dalam kondisi mabuk. Dia nampak berusaha meraih Hanna dan mengajaknya tidur.
Hanna segera ke kamar mandi, lagi, dia meraung di sana. Sambil menyalakan shower dan mengguyur seluruh tubuhnya. Air matanya luruh tidak terlihat bersamaan dengan air yang mengalir.
Hanna menyesali semua yang terjadi, Hanna menyalahkan dirinya yang tak berdaya melawan. Bagaimana jika Bian tahu akan hal ini? bagaimana dia akan menjalani hari setelah ini. Kembali, Hanna tergugu, bahkan terdengar keras.
Rayyan yang seolah baru siuman dari pingsan panjangnya mengucek matanya, nampak memperhatikan bajunya yang berceceran di lantai. Dia merasa bahwa baru saja dia bermimpi sedang memadu kasih dengan Hanna. Rayyan memakai pakaiannya dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar. Tak melihat Hanna di sana, sementara pintu kamar masih tergeletak di meja.
Rayyan berdiri dan mendekati arah pintu kamar mandi, terdengar suara tangisan yang begitu menyesakkan dada. Rayyan termangu sejenak, memperhatikan dirinya, mengingat semua kejadian. Dimulai saat dia kalut dan pergi ke klub bertemu Gerry, mabuk, dan diantar pulang oleh Gerry. Selanjutnya...aarrrgh...bahkan Rayyan sudah setengah tak ingat. Yang dia masih merasa adalah saat dia tertidur dan merasa sedang berduaan dengan Hanna.
Rayyan menepuk dahinya. Bisa segila itukah dia?
Rayyan mengetuk pintu kamar mandi, perasaan khawatir menghantui dirinya, memenuhi relung hatinya. Apa yang terjadi dengan Hanna di dalam?.
"Han...Hanna...." Rayyan memanggil Hanna yang dia yakini sedang berada di dalam. Namun tak ada sahutan, suara tangisan itu masih terdengar. Rayyan kembali memanggil Hanna dibarengi dengan tangannya mengetuk pintu sekeras mungkin.
"Han...buka Han..." Rayyan kembali mencoba.
Hanna yang mendengar panggilan tersebut melihat ke arah pintu kamar mandi, menggigit bibirnya sendiri dan memilih tak peduli. Hanya saja suara tangisnya kini memelan.
"Han...please...buka Han....aku bisa jelasin Han....tolong jangan berbuat nekat Han" Rayyan berbicara dengan nada panik. Rayyan menempelkan tubuhnya di pintu kamar mandi dengan wajah pasrah, siap menerima apapun dari Hanna.
"Han...tolong buka pintunya" Rayyan memohon.
Dirasa Hanna sudah cukup mandinya, Hanna keluar kamar dengan perasaan yang tak karuan, dongkol, benci, marah, muak, dan lain sebagainya.
Mendengar suara pintu terbuka, Rayyan merasa lega melihat Hanna keluar dalam keadaan baik-baik saja. Setidaknya Hanna tidak berbuat nekat. Rayyan mencoba membuntuti Hanna berjalan.
"Han..." Rayyan mencoba melobi. Hanna mengangkat kedua tangannya, menandakan dia tak ingin diganggu oleh dia.
"So sorry Han..." Rayyan memohon. Hanna menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Tanpa berkata sepatah katapun Hanna segera merapikan seluruh pakaiannya dan keluar kamar Rayyan.
Hanna ingin menenangkan diri dengan cara pindah ke kamar yang sebenarnya akan dia tempati, Hanna menuju resepsionis menanyakan kunci kamarnya. Dan resepsionis memberikannya. Hanna segera menuju sebuah kamar yang tertera di kunci tersebut, dia bersyukur kamar yang dia tempati berbeda dengan lantai di mana Rayyan berada. Setidaknya dia bisa menenangkan diri.
Hanna sengaja membolos hari ini, dia bodo amat Rayyan akan melakoni syuting seharian tanpa dia. Toh dia akan baik-baik saja, seharian hanya dia gunakan untuk duduk di tepi jendela sambil meratapi nasibnya. Ada beberapa pesan masuk dari Bian, tak sanggup rasanya dia membalasnya. Dia merasa hina di hadapan Bian. Hingga malam tiba, Hanna masih berdiam diri di kamar. Bahkan rasa lapar pun menguap.
Syuting seharian tanpa melihat Hanna membuat fokus Rayyan pecah, beberapa kali adegan yang seharusnya mudah menjadi sulit, hingga diulang beberapa kali. Rayyan menyalahkan dirinya yang sudah membuat Hanna marah.
"Kamu kenapa sih?" tanya lawan main Rayyan yang tak lain adalah gadis yang mengolok Hanna kemarin.
"Enggak...lagi banyak pikiran aja" jawab Rayyan asal.
Rayyan meninggalkan gadis itu dan segera bersiap pulang karena scene untuknya sudah selesai. Hari hampir tengah malam. Rayyan segera kembali ke hotel, takut jika Hanna akan pulang tanpa sepengetahuannya, berkali-kali Rayyan mengecek ponselnya. Dia sengaja meminta resepsionis dan juga security hotel untuk selalu memberi kabar mengenai Hanna.
Dan hanya ada kabar jika Hanna sama sekali tidak turun dari kamarnya.
Rayyan bergegas memesan makanan untuk Hanna, dia akan menemui Hanna dan bersiap dengan segala apa yang dilakukan oleh Hanna, bahkan dibenci seumur hidupnya.
Rayyan berada di depan pintu kamar Hanna, beberapa kali menelan ludahnya. Baru kali ini dia keder menghadapi orang. Rayyan mengetuk pintu pelan. Dan betapa terkejutnya dia, tak butuh waktu lama dia menunggu di depan pintu. Hanna berada di balik pintu, Rayyan merasa lega Hanna dalam keadaan baik-baik saja. Tak terlihat jika Hanna menangis.
Rayyan masuk ke dalam, meletakkan makanan yang dia bawa.
"Makanlah, kamu boleh marah semarahnya setelah kamu makan" Rayyan hendak mengambil piring dan menyajikan makanan untuk Hanna, namun kalah gesit dari Hanna. Dia tak mau dilayani oleh Rayyan.
Hanna duduk di kursi, di mana terdapat makanan di meja di depannya dia duduk. Hanna meletakkannya di atas piring, namun dia urung memakannya. Rayyan yang masih harap-harap cemas pun ikut duduk di salah satu kursi di dekat Hanna. Gadis itu nampak sangat menakutkan baginya kali ini, meskipun Hanna tak menampakkan ekspresi apapun. Lebih baik Hanna marah dan mengumpatnya daripada melihat Hanna yang diam seperti ini.
Hanna nampak makan, menambah kelegaan Rayyan. Senyum tipis mengembang dari bibirnya, tak sekalipun Hanna melihat ke arah Rayyan, dia hanya fokus pada makanan yang ada di depannya. Rayyan dengan sabar menunggu Hanna selesai. Hanna hendak meraih gelas yang berisi air, Rayyan mendekatkan gelas tersebut ke tangan Hanna dengan menggesernya perlahan. Hanna meneguk air tanpa sisa, seolah ingin meneguk Rayyan dan memusnahkannya dari hadapannya.
"Han..."
"Aku tahu apa yang ingin kamu ucapkan" Hanna memotong ucapan Rayyan. Rayyan menatap gadis itu lekas, namun rasanya tak sanggup berlama-lama, kembali dia melihat ke sisi lain di ruangan ini. "Hanya karena kamu tahu aku mengidolakan kamu, bukan berarti kamu bisa melakukan apapun ke aku" Hanna melihat Rayyan dengan tegas.
"Han...aku tahu aku salah, aku tahu kamu marah"
"Iya, semuanya...semua emosi jengkel, marah, semua ke kamu" Hanna menimpali. Rayyan mengangguk.
"Iya, makanya aku minta maaf" Rayyan seperti anak kecil yang sedang mendapat marah dari emaknya. "Aku minta maaf dengan setulus hati"
Hanna terdiam dan membuang muka, karenna yang dilakukan Rayyan baginya itu sudah sungguh keterlaluan.
"Bagaimana jika aku melaporkan kejadian ini kepada yang berwajib?" tanya Hanna, Rayyan mendongak.
"Kamu istriku Han, di atas kertas kamu istriku, dan harus kamu tahu, aku mencintai kamu" Rayyan meneguk ludahnya, terasa ada yang mengganjal di tenggorokannya, terasa sakit.
Hanna menatap Rayyan, jelas dia kalah jika dia akan melaporkan tindakan Rayyan, karena memang di atas kertas dia adalah istri dari Rayyan. Hanna menghela nafas panjang.
"Bolehkah aku tahu tentang sesuatu?" Rayyan menatap Hanna. "Kenapa kamu membenciku?"
Pertanyaan yang sama sekali tak bisa dijawab oleh Hanna, apakah dia memang membenci Rayyan atau hanya membentengi dirinya agar tidak jatuh cinta pada Rayyan. Karena dia selalu menganggap jika Rayyan adalah bintang, Rayyan hanya sekedar mimpi. Hanna tahu, jika dia terbangun kelak, Rayyan hanya bagian dari mimpinya, bukan dunia yang nyata.
Bantu like, vote, komen, rate, ah apapun itu...thank you...