Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Akhir Cerita Cinta


"Aku kira itu cuman gosip" Kia menyendok kuah bakso dan menyeruputnya, dia mendengar berita tentang tragedi ulang tahun Bian hanya dari grup di ponselnya. Kebetulan dia ada acara keluar kota bersama orang tuanya, sehingga tidak bisa datang pada saat acara ulang tahun Bian. "Dan ternyata itu bener" Kia geleng-geleng kepala masih tidak percaya.


Jam istirahat siang dimanfaatkan Kia untuk nyamperin Hanna di kantornya dan mengajak keluar untuk makan siang. "Lihat, matamu masih sembab" Kia menunjuk ke arah wajah Hanna. Hanna masih diam saja, sibuk menikmati nikmatnya bakso.


"Kamu udah putus kan sama dia?" Kia kembali menyerocos, baksonya sudah tandas.


"Kamu pikir?" Hanna akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Bagus lah, aku nggak mau ya temanku nanti jadi korban selanjutnya, duh....bener-bener nggak nyangka sih Bian kayak gitu" giliran dia menyeruput es tehnya.


Hanna menganggap hubungannya dengan Bian sudah berakhir, hanya saja dia belum pernah mengatakannya secara langsung. Hanna juga tidak mendapatkan pesan apa-apa walau lewat ponsel. Hanna mengedikkan bahu.


"Kamu jangan mau deh" Kia merasa ilfil dengan Bian. Hanna tersenyum kecil melihat Kia begitu kesal dengan Bian. "Secara ya, emang sih ganteng....banyak yang kagum bahkan mengidolakan dia, tapi NO...buang jauh-jauh cowok begitu. Mending kamu sama Rayyan aja deh" Kia meletakkan gelasnya yang tinggal berisi sisa-sisa es batu.


"Kamu lapar atau mangkokmu bocor?" Hanna melihat makanan Kia yang sudah benar-benar tandas, sementara mangkoknya masih separoh lebih isinya, begitu juga es tehnya. Masih sangat penuh.


"Aku laper banget" gumamnya. "Pokoknya kamu percaya aku, jangan balikan sama Bian, apapun alasannya. Titik!. Kamu sama Rayyan"


"Dih kenapa jadi kamu yang memutuskan" Hanna tertawa.


"Pokoknya dengerin" Kia kekeh. Hanna semakin tertawa melihat Kia.


"Tuh kan kamu sudah bisa ketawa" Kia senang melihat Hanna tertawa.


"Dari tadi udah ketawa"


"Kamu tadi sarapan nggak? jangan sampai gara-gara cowok nggak bener, kamu terus depresi, hempaskan" Kia menambahkan dengan berapi-api.


Hanna mengangguk.


"Bagus" Kia manggut-manggut.


"Kamu kok persis emak-emak sih?" Hanna melihat Kia sambil menahan tawa.


"Anggap saja begitu. Dan ingat ya...Rayyan..."


Kembali nama itu disebut, membuat Hanna teringat akan makanan yang dia makan pagi tadi. Tapi rasanya bukan waktu yang tepat untuk memikirkan drama percintaan lagi, Hanna merasa ingin fokus pada masa depannya terlebih dahulu.


"Pernah ketemu Panji?" Hanna mengganti topik pembicaraan, agar Kia tak kembali membahas tentang Bian ataupun Rayyan.


"Pernah, kemarin kalau nggak salah. Dia sudah curiga sama Bian, nah kejadian"


Sudah dibelokkan arah pembicaraan, Kia malah kembali lagi membahas tentang Bian. Hanna menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian dia menusuk bulatan bakso dengan garpunya dan melahapnya.


"Jaga diri kamu baik-baik Han, semangat ya" Kia melambaikan tangan, dibalas oleh lambaian tangan Hanna juga. Hanna tersenyum sambil geleng-geleng kepala, merasa senang dengan perhatian Kia.


Hanna merapikan meja kerjanya, mematikan komputer dan mengecek kembali barang bawaannya, memastikan tak ada yang tertinggal. Meta sudah keluar beberapa menit yang lalu meninggalkannya, dia sudah dijemput sama saudaranya. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Hanna berdiri dari kursinya, dan merapikannya dengan merapatkan posisi kursi ke arah meja. Hanna keluar dari ruangannya menuju lift.


Nampak kantor belum sepi, karena masih ada beberapa karyawan yang berlalu lalang. Terlihat beberapa OB juga yang sedang membersihkan lantai dan juga bekas gelas kpi para karyawan. Hanna masuk ke dalam lift, hanya dia sendiri. Tak menunggu lama, Hanna telah tiba di lantai dasar, Hanna keluar dari lift dan berjalan menuju parkir motornya.


Pukul 5 sore, matahari sudah mulai meredup. Hanna merogoh tasnya mencari kunci motornya sembari berjalan. Setelah tiba di dekat motornya, seseorang sudah menunggunya.


"Kita harus bicara" ungkap Bian. Hanna mendongak dan melihat ke arah Bian. Laki-laki itu sedang berdiri di hadapan Hanna.


"Mas..." Hanna nampak sedikit terkejut.


        Bian berniat mengantarkan Hanna pulang, tapi Hanna menolak. Dan akhirnya mereka berbincang di sekitaran kantor.


Hanna duduk di sebuah kursi cafe yang ada di seberang kantor. Hanna memilih duduk di bagian luar cafe, agar bisa melihat senja serta lalu lalang orang.


"Maafin aku Han" Bian membuka percakapan, nampak sendu di matanya. Hanna menyesap kopi yang ada di mejanya, asapnya masih megepul. Kemudian Hanna tersenyum.


"Tak mestinya Mas Bian minta maaf sama aku" Hanna tersenyum kecil. Kalimat Hanna semakin menjadi tamparan untuk Bian.


"Tapi kita baik-baik saja kan?" Bian nampak berharap dengan jawaban dari Hanna adalah jawaban yang dia harapkan.


"Aku cewek mas, dan aku mengenal Talitha. Namun bukan itu intinya, hanya saja aku merasa apa yang kamu lakukan itu sungguh melukai hati seorang perempuan. Anak itu tidak bersalah, dan kini dia sudah tiada" Hanna menelan ludahnya, seolah merasakan sakit yang dirasakan oleh Talitha. "Talitha bertaruh nyawa untuk menggugurkan kandungannya, andai saja Mas Bian mau bertanggung jawab" Hanna tersenyum absurd.


"Nggak mungkin Han, kita sudah sepakat. Kita sudah sepakat untuk melupakan semuanya, aku sudah meminta dia menggugurkan kandungan itu. Lagian, itu ketidaksengajaan kita" Bian membela diri.


"Mas, entah sengaja atau tidak, itu adalah anak kamu dan itu sudah terjadi. Harusnya Mas sebagai laki-laki yang baik harus bertanggung jawab, bukan malah lari dari tanggung jawab" Hanna berkata tegas. Bian semakin yakin jika usahanya untuk mempertahankan Hanna akan sulit. "Sebaiknya kita berteman saja, Mas" ujar Hanna akhirnya.


"Han...asal kamu tahu, aku melakukan semua ini untuk mempertahan kamu" Bian menatap Hanna lekat, matanya penuh harap.


Mendengar kalimat itu membuat Hanna semakin kesal, jika benar itu yang dilakukan Bian, Maka dia tak akan bisa memaafkan dirinya. Hanna akan merasa menjadi tembok penghalang dan berdosa pada Talitha.


"Please Han..maafkan aku, aku memang bajing*n, tapi setelah aku bertemu dengan kamu, rasanya itu sudah berlalu"


Hanna mengeryit, dengan entengnya Bian mengatakan hal itu padanya. Hanna merasa hanya akan dijadikan kelinci percobaan. Siapa yang akan berani menjamin jika Bian akan sembuh dari tabiatnya?.


"Aku bersyukur jika Mas Bian sudah menjadi lebih baik dan berubah, tapi rasanya kita lebih baik berteman saja" Hanna kembali menegaskan. Matahari semakin tenggelam, Hanna kembali menyesap kopinya yang sudah mulai terasa dingin.


"Permisi Mas, aku harus pulang, Ayah menungguku" Hanna bangkit dari kursinya meninggalkan Bian yang masih duduk di kursinya. Melihat Hanna meninggalkannya.


Hanna berjalan perlahan, tak menengok lagi ke arah Bian. Batinnya terasa sakit, bukan ini yang dia inginkan. Dia yang sudah mengagumi Bian sejak dulu, suka dan akhirnya jadian itu kini harus berpisah dengan cara yang sangat menyakitkan batinnya. Penghianatan. Hanna menyalahkan dirinya sendiri yang tidak melihat Bian dengan seksama sejak awal. Hanna mengusap air mata yang meleleh di pipinya sambil terus berjalan menyeberang jalan yang masih ramai itu.


Hanna tiba di parkiran, dia segera mengambil helm dan memakainya. Segera dia kembali merogoh kunci motornya dan segera menyalakan motornya. Di sepanjang jalan, Hanna masih saja menangis. Dia janji, ini akan menjadi tangisa terakhirnya untuk seorang Bian. Terima kasih atas waktu yang sekejab itu. Kini dia akan lebih fokus pada hidupnya.