
Hanna berlari menghambur ke pelukan adiknya yang tengah berdiri di teras, pantas saja lampu rumahnya sudah menyala. Seingatnya dia tidak menyalakan lampu saat berangkat wisuda tadi pagi.
"Kakak kangen banget," Hanna memeluk erat adiknya sembari meneteskan air mata. Banyak hal yang sudah dilewatkan Nayo, terutama kepergian ayahnya. Nayo hanya bisa melihat proses pemakaman ayahnya lewat video call saat itu.
"Aku juga kangen sama kakak," Nayo mengelus bahu kakaknya.
Sementara itu Rayyan hanya menyaksikan pertemuan adik kakak yang hampir setengah tahun tidak bertemu itu, bahkan lebih. Rayyan membawa totebag yang ditinggalkan Hanna begitu saja saat melihat adiknya berdiri menyambutnya.
"Kamu kurusan, kamu kurusan...kamu nggak sakit kan,?" Hanna mengkhawatirkan adiknya yang memang terlihat kurusan dari terakhir kali yang dia lihat dulu.
"Ini semua karena aku nggak makan masakan kakak," Nayo bercanda. Hanna mencubit pinggang adiknya.
"Kamu ini,"
"Kakak selamat wisuda, maaf nggak keburu ikut ke acara wisuda kakak," Nayo hendak memberikan kejutan untuk bisa datang ke acara wisuda Hanna. Tapi tidak keburu karena pesawat yang mengalami delay.
"Yang penting kamu sampai rumah dengan selamat," Hanna memegang kedua tangan adiknya, dan lalu memeluknya lagi.
Nayo menyalami Rayyan, dan Rayyan tersenyum kecil. Sejak tadi dia seperti tak terlihat, tapi dia tak mempermasalahkan itu. Dia ikut bahagia dengan pertemuan adik kakak itu.
"Terima kasih sudah banyak membantu," ujar Nayo, disambut anggukan Rayyan. Hanna melihat Nayo dan Rayyan bergantian.
"Jadi....," Hanna mengangkat telunjuknya.
"Iya kak, jadi sebenarnya sudah pengen pulang tapi nggak dapat tiket, nah dibantulah sama Mas Rayyan, eh nggak tahunya kena delay, ah ya sudah lah, yang penting kakakku sudah lulus sekarang," Nayo tersenyum.
"Masuklah, sudah malam,"
"Nggak mampir dulu mas,?" tanya Nayo. Hanna tersenyum pada Rayyan, seolah ikut menyuarakan pertanyaan yang sama.
"Sudah malam, kalian butuh istirahat, besok-besok kita ketemu dan ngobrol banyak,"
"Oh iya mas, sekali lagi terima kasih sudah menjaga kakak," jawabnya. Rayyan kembali tersenyum, Hanna menunduk melihat buket bunga yang masih dia genggam dengan satu tangan.
Rayyan melambaikan tangan dan meninggalkan rumah Hanna.
Selepas mandi, Hanna keluar kamar dan mendapati adiknya sedang duduk di kursi ruang tamu sambil menyalakan televisi. Dia sengaja menunggu Hanna selesai mandi dan ingin mengobrol.
"Sekarang terasa berbeda," Nayo menghela nafas panjang.
Hanna sudah duduk di seberang kursi di depan Nayo. Hanna melihat sekeliling, menyapu setiap sudut rumah. Dan kursi kayu yang ada di pojok itu kini kosong, biasanya ayahnya akan duduk di sana dan mengaji selesai maghrib.
"Maaf ya kak, nggak bisa di samping kakak saat ayah meninggal, dan itu aku sedih banget," Nayo menerawang, melihat Hanna.
"Bukan salah kamu, yang harus kita lakukan sekarang adalah melihat ayah senang di sana, oh ya bagaimana pertukaran mahasiswa kemarin? pasti sangat menyenangkan,?" Hanna membelokkan arah pembicaraan tentang ayahnya, agar Nayo tidak terlalu sedih.
"Ya begitulah kak, menyenangkan karena banyak ilmu baru yang aku dapatkan,"
"Lalu kapan mulai kuliah lagi,?"
"Besok sudah ke kampus, buat urus jadwal mata kuliah semester baru,"
"Ih adek kakak mah keren sekarang," Hanna mengacungkan jempolnya. "Oh ya sampai lupa, kamu sudah makan? kakak masakin,?" Hanna menoleh ke arah dapur.
"Nggak usah kak, sudah makan tadi pas dijemput sopirnya mas Rayyan,"
"Eh kok bisa,?"
Nayo mengangkat kedua bahunya, dan memang kepulangannya hari ini benar-benar diurus oleh Rayyan. Jam sudah hampir jam 11 malam, Hanna beberapa kali menguap, begitu juga Nayo. Mereka sama-sama kelelahan dengan aktivitas masing-masing hari ini.
"Kakak tidurlah, aku juga mau tidur, besok kita ngobrol lagi kak," pinta Nayo. Hanna mengangguk, matanya sudah hampir merem karena menahan kantuk. Hanna beranjak dari kursinya dan hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Kak," panggil Nayo.
"Hum,?" Hanna menoleh.
Hanna mengangguk dan mengangkat jempol tangannya tanda setuju, Nayo tersenyum dan mengikuti jejak Hanna untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sementara Hanna sudah berada di kamarnya dan segera memejamkan matanya, mengistirahatkan raga yang lelah seharian. Tapi dia bahagia, setelah matanya terpejam sesaat, tiba-tiba ingatannya kembali ke peristiwa ciuman tadi. Ini adalah ciuman pertamanya dengan Rayyan, ciuman yang...ah Hanna menggelengkan kepalanya, tangan kanannya memegang bibirnya. Mengingat bagaimana kejadian tadi terjadi.
"Kok bisa,?" gumamnya.
Tiba-tiba Hanna tidak bisa menahan kantuknya, lalu dia benar-benar tertidur.
***
Adiknya sudah berangkat ke kampus selepas sarapan, Hanna membuka ruang laundrynya untuk bekerja. Sementara waktu dia akan full bekerja di laundry, sedangkan mulai hari ini dia juga akan memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan yang membuka lowongan kerja.
Hanna menyalakan laptopnya dan memulai membuat CV (Curriculum Vitae) sebagai salah satu syarat untuk melengkapi dokumennya. Lalu dia mengirimkannya melalui email.
"Semoga ada yang memanggilku," doa Hanna. Jam hampir menunjukkan jam 10 pagi, Hanna merentangkan kedua tangannya dan menutup laptopnya. Bersiap untuk segera mengerjakan baju pelanggan agar tidak semakin numpuk.
"Semangaaat," Hanna menyemangati dirinya sendiri.
Terdengar deru suara motor memasuki halaman rumahnya, Hanna melongok keluar jendela. Dan melihat Kia sedang melepas helmnya. Kia segera masuk ke dalam ruangan di mana Hanna sedang menyetrika baju. Peluh membasahi dahinya.
"Ih yang kemarin habis buat heboh di acara wisuda," Kia menggoda. Hanna masih saja menyetrika. "Sampai-sampai pesanku nggak dibales semalam, habis kencan sama Aa' ya...,?" goda Kia. Semalam Hanna tidak tahu jika Kia mengirimkan pesan untuknya. Karena dia sudah terlanjur ngobrol asyik dengan adiknya.
"Gosip lagi...," Hanna menimpali.
"Bukan gosip lagi ini mah, tapi faktaaa," Kia duduk di kursi plastik tak jauh dari Hanna.
"Tumben naik motor, habis dari mana,?" tanya Hanna.
"Udah deh jangan mengalihkan pertanyaanku, semalam kemana saja hayo...," Kia mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum.
"Nggak kemana-mana ih," Hanna masih sibuk menyetrika.
"Masa,?" Kia semakin kepo.
"Kan Nayo pulang, jadi ngobrol sama dia," memang kenyataannya begitu.
"Hah? masa? mana dia,?" Kia mengedarkan pandangannya ke dalam rumah Hanna. "Nggak ada, sepi," Kia tak melihat ada tanda kehidupan makhluk lain selain mereka berdua.
"Dia ke kampus," Hanna menimpali, dia mencaput kabel setrika dari steker listrik. "Mau minim apa,?" tanya Hanna dan hendak mengambilkan minuman untuk Kia.
"Nggak usah, nanti kalau haus juga ambil sendiri, aku kesini cuma mau minta berita aja,"
"Berita apaan,?"
"Ya kemarin lah,"
"Ih siapa suruh nggak datang," Hanna tersenyum-senyum jahil. Kia sudah bilang nggak bisa datang ke acara wisuda Hanna karena ada saudara luar kotanya yang menikah, jadi dia harus ikut kesana.
"Yaaaah...tau gitu aku datang deh," sesal Kia, mulutnya mengerucut.
"Dah ah, nggak penting juga," Hanna masuk ke dapur, membuka lemari es dan membuatkan Kia minuman rasa buah. Kia mengikuti Hanna masuk ke dapur.
"Udah kamu sana aja, sono gih ke ruang tamu aja, ngobrol di situ," pinta Hanna sambil menunjuk ruang tamu. Kia pun menurut.
"Aku nyalain televisinya ya Han...," izin Kia.
"Hah serah, pake nanya lagi, gratis boook," Hanna sedikit berteriak. Kia terkekeh, tangannya mengambil remot televisi dan menyalakannya. Dan akun gosip pun bersliweran sedang membahas Rayyan.
"Tuuuuh....rame, balikan aja noh, nikah lagi sama Rayyan,"
"Eh huuussssh," Hanna menyela, tangannya membawa dua gelas minuman rasa buah berwarnah hijau, Kia dengan cekatan menyambar gelas tersebut dan meletakkan di meja.
Untuk saat ini, Hanna sedang fokus pada masa depannya. Dia sedang berjuang untuk mendapatkan kerja, agar adiknya bisa lanjut kuliah dan kehidupannya mapan tanpa tergantung orang lain.