Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Tetap Di Sini Temani Aku


Tempat yang sangat indah, bahkan dalam bayangan Hanna pun tidak terlintas sebelumnya. Sebuah pulau yang sangat asri dengan pepohonan hija dan dikelilingi oleh hamparan pantai dengan pasir putih. Sebelum sampai di sini mereka harus melakukan perjalanan darat sekitar 3 jam lamanya, dan harus naik kapal selama kurang lebih 30 menit. Perjalanan laut yang seharusnya menyenangkan itu bagi Hanna sangatlah menyiksa, karena dia harus merasakan yang dinamakan mabuk laut.


Hanna beberapa kali memegang kepalanya yang dirasa sangat pusing.


"Kamu baik-baik saja?" Rayyan memastikan, wajah Hanna nampak pucat. Hanna mengangguk pelan, tak mau Rayyan memikirkan keadaannya. "Beneran?" Rayyan tak percaya. Dan tak menjawab pertanyaan Rayyan, Hanna segera berlari mencari toilet. Setelah melihat kanan kiri, akhirnya Hanna melihat sebuah tulisan yang mengarahkannya pada toilet. Hanna segera berlari dan masuk ke dalam toilet, mengeluarkan apa saja yang ada di dalam perutnya. Badan Hanna terasa lemas.


Rayyan yang melihat Hanna berlari dengan tiba-tiba itu nampak mengejarnya, karena itu adalah toilet wanita, maka dia menunggunya di depan toilet. Cukup lama Hanna di sana hingga membuat Rayyan khawatir.


"Kamu nggak apa-apa?" begitu ucapan yang terlontar saat Rayyan melihat Hanna keluar toilet, Hanna mengangguk pelan. Terasa lega karena akhirnya dia bisa muntah, hanya saja badannya terasa lemas. Hanna duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari toilet tadi berada, serasa tubuhnya benar-benar lemas sekali. Rayyan yang melihat Hanna lemas segera membuka tutup botol air mineral dan mengangsurkan untuk Hanna.


"Minumlah" Hanna pun menerimanya.


"Terima kasih"


"Maaf aku nggak tahu kalau kamu suka mabuk kalau perjalanan air" Rayyan merasa bersalah. Ini adalah pertama kali perjalanan Hanna melalui laut, dan memang baginya sungguh menyiksa. Hanna meringis.


"Kamarnya sudah siap Tuan Rayyan" ujar salah seorang dengan seragam hitam kombinasi biru muda itu, nampaknya dia adalah salah satu pegawai penginapan di sini.


"Iya, tolong bawakan barang bawaan saya yang ada di sana" Rayyan menunjuk barang bawaan yang masih dia tinggalkan di dekat parkir karena dia terburu untuk melihat keadaan Hanna.


"Baik Tuan, siap" pegawai laki-laki itu segera berlari dan membawa barang tersebut masuk ke kamar Rayyan.


"Kamu sudah bisa jalan?" tanya Rayyan begitu melihat Hanna yang sudah bisa mengatur nafasnya menjadi lebih teratur.


"Bisa" jawab Hanna, karena dia hanya mabuk saja, bukan pingsan atau kakinya cedera. Hanna bangkit dari kursi, Rayyan pun ikut berdiri dan bersiap menuju kamar yang telah dipersilahkan. Baru beberapa langkah, tubuh Hanna terasa oleng dan hendak ambruk. Dengan cekatan Rayyan menangkap tubuh Hanna sebelum benar-benar jatuh ke jalan.


"Nah kan...sok kuat sih" Rayyan ngedumel. Tanpa menunggu lama dan tanpa menunggu persetujuan Hanna, Rayyan membopong Hanna.


"Heh...lepasin" Hanna mencoba berontak.


"Hush diam, orang lagi gini juga masih bawel" Rayyan tak mau diprotes. Dia terus saja membopong Hanna hingga tiba di sebuah penginapan yang mewah itu. "Pegangan, nanti kamu jatuh" Rayyan mengingatkan, karena tangan Hanna terasa tak memegang apapun, Hanna yang takut jatuh dan takut akan marahnya Rayyan pun akhirnya pegangan dengan cara mengalungkan kedua tangannya di leher Rayyan.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan? di sana ada kursi roda. Saya ambilkan?" tawar seorang resepsionis penginapan dengan ramah.


"Tidak perlu, tunjukkan kartu kamar saya saja"


"Oh baik Tuan, ini" resepsionis segera memberikan kunci kamar yang berupa kartu tersebut. Rayyan yang tanpa kesulitan pun langsung menuju lift, seorang pegawai membantunya memencet tombol angka 3 di lift tersebut. Rayyan masuk ke dalam lift dengan posisi masih membopong Hanna.


"Turun" Hanna merasa tak enak, karena dia sadar dia bukan bayi yang berat badannya ringan, pasti dia sangat merepotkan Rayyan.


Rayyan tak bergeming, dia terus saja memeluk tubuh Hanna agar tak jatuh ke lantai. Hingga pintu lift terbuka, dan Rayyan mencari kamarnya. Tak jauh dari lift, Rayyan menemukan kamarnya dengan nomer 301. Rayyan membuka pintu kamarnya tersebut, dengan mengeratkan salah satu tangannya pada tubuh Hanna, salah satu tangannya lagi digunakan untuk menyalakan lampu. Dan akhirnya dia meletakkan Hanna di ranjang dengan ukuran besar tersebut. Tak lupa Rayyan memakaikan selimut di tubuh Hanna.


"Aku cuma mabuk perjalanan saja" Hanna protes diperlakukan layaknya orang yang sedang sakit keras.


"Buktinya kamu mau pingsan tadi" Rayyan melipat kedua tangannya di dada sambil melihat Hanna yang masih terbungkus selimut.


"Tapi aku sudah baik-baik saja" Hanna mengembangkan senyumnya, meskipun bibirnya masih terlihat pucat. "Aku mau ke kamarku saja" Hanna menyibak selimut, tapi Rayyan melotot.


"Apa kamu bilang?" Hanna mendadak meninggikan suaranya, merasa direndahkan oleh Rayyan.


"Enggak...kamu di sini saja"


"Nggak mau" Hanna kekeh, karena baginya cukup sekali saja dia berada di kamar bersama Rayyan, jantungnya bisa keluar dari tempatnya jika dia harus sekamar lagi dengan Rayyan.


"Kenapa? kamu takut ya? takut nggak kuat lihat pesonaku ini?" Rayyan membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Hanna. Hanna menutup wajahnya dengan selimut. Rayyan tertawa melihat tingkah Hanna. Kemudian dia kembali berdiri. "Kamu tetap di sini" Rayyan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Hanna mendengus sebal, dia membuka selimutnya sesaat setelah menyadari Rayyan tak ada di dekatnya lagi. Terdengar gemricik air dari kamar mandi, nampaknya Rayyan sedang mandi. Hanna kembali membuka matanya dan memperhatikan seisi kamar yang nampak luas itu, bisa jadi ukuran kamar itu sama dengan ukuran rumahnya. Sangat luas dan mewah.


Karena badan Hanna terasa masih lemas, Hanna akhirnya memejamkan matanya untuk sekedar menghilangkan pening di kepalanya.


"Makanlah" bisik Rayyan pelan, dia tak mau mengagetkan Hanna yang nampak tertidur pulas itu. Sebenarnya dia tak ingin membangunkan Hanna, hanya saja Hanna harus makan setelah muntah tadi. Hanna membuka mata perlahan, dilihatnya Rayyan sudah berganti baju dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek.


"Makan dulu" Rayyan menyodorkan piring yang berisi makanan di depannya, Hanna mengubah posisinya menjadi duduk. "Aku suapin" Rayyan mengambil sendok dan bersiap menyuapi Hanna. Hanna segera mengambil piring dan sendok tersebut.


"Aku bisa" seketika piring dan sendok itu beralih ke tangannya, dia memang merasa sangat lapar. Karena semua yang ada di perut tadi sudah kabur. Hanna makan dengan lahapnya, Rayyan yang sedang duduk di sofa sambil melihat ponselnya itu sesekali melihat Hanna yang makan dengan lahapnya.


Hanna yang merasa aneh makan di ranjang, akhirnya turun dan membawa piring tersebut ke meja makan. Benar-benar penginapan yang mewah, pikirnya. Karena hampir semua ada, bahkan dapur mini pun ada di dalamnya. Hanna benar-benar kagum dibuatnya.


Setelah selesai makan, Hanna segera ke dapur tersebut dan mencuci piringnya. Tubuhnya sudah mulai bertenaga, karena dia sudah rebahan sejak tadi.


"Aku ke kamarku ya?" Hanna berjalan mendekati Rayyan yang tengah duduk di sofa, Rayyan melihat ke atas, di mana Hanna sedang berdiri.


"Nggk usah, siniĀ  aja, itu bajumu ada di sini semua" Rayyan menunjuk sebuah koper milik Hanna. Hanna mendengus.


"Nggak enak, masa iya sekamar berdua?" Hanna protes.


"Biarin" Rayyan cuek.


"Aku nggak mau"


"Aku mau" balas Rayyan.


Hanna geregetan.


"Aku sewa kamar sendiri deh" Hanna membuat penawaran.


"Bukan masalah itu Han, sudah, kamu di sini saja"


"Masa iya, majikan sama babu ada di sini?" Hanna mengatakan dirinya adalah babu. Rayyan kembali mendongak melihat Hanna dengan tatapan gemas. Akhirnya dia meletakkan ponselnya dan berdiri.


"Hanna istriku...istriku yang mungil....kamu di sini saja ya...aku nggak mau menemukanmu dalam kondisi pingsan"


Dan Rayyan pun meninggalkan Hanna keluar kamar, Hanna tahu dia tak akan menang. Bagi Rayyan ini adalah sebuah perintah yang