Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Berharap Sejumput Maaf


"Apakah anda sudah makan?" sekilas Hanna melihat porsi makan malam untuk Pak Andre masih berada di meja samping ranjang belum tersentuh. Laki-laki itu melihat ke sampingnya, terasa tak ada nafsu makan. Cairan yang masuk ke tubuhnya melalui selang infus membuatnya tak ingin makan sama sekali, bahkan terasa sangat mual.


Pak Andre mencoba mengubah posisinya menjadi duduk, agak kerepotan, karena tubuhnya merasa payah. Hanna bergegas lebih dekat dan membantu membenahi bantal untuk menyangga Pak Andre.


"Terima kasih" ucapnya lalu kembali mencoba tersenyum. Hanna mengambil piring yang ada di atas meja tersebut, perlahan menuangkan sayuran dan lauk, dan menyodorkan agar Pak Andre makan malam. Kasihan laki-laki itu, terlepas dari masa lalu yang dilakukan pada Rayyan yang dia sendiri tak tahu menahu kenapa, laki-laki itu kesepian dan merana di masa tuanya. Perlahan Pak Andre mencoba berdamai dengan makanan yang dia kunyah, meskipun terasa ingin memuntahkannya, dia mencoba menahannya.


"Terima kasih sudah datang, maaf jika banyak merepotkanmu, maklum sudah tua" gumamnya sambil mencoba tertawa kecil. Hanna kembali menyendokkan nasi dan menyuapkannya pada Pak Andre.


"Anda harus sembuh" ucap Hanna melihat mata laki-laki itu yang terlihat putus asa. Pak Andre menggeleng.


"Dia sudah membenciku sebegitu hebatnya, dan saya akui ini memang kesalahan saya sejak dulu" senyumnya hambar, kini dia sudah menggeleng. Tak mau lagi melanjutkan makannya, perutnya sudah menolak. Hanna mengambilkan segelas air yang letaknya tak jauh dari piring tadi. Membantu meminumkan untuk Pak Andre. Kemudian Hanna meletakkan piring dan gelas bekas makan Pak Andre ke tempat semula.


"Di sisa usia yang nggak tahu kapan akan berakhir ini, saya hanya ingin dia memaafkan saya" matanya menerawang. Hanna melihat mata tua itu. "Ini salah saya yang meninggalkan Rayyan sejak kecil dengan Ibunya, meninggalkan luka batin pada dia hingga sekarang, saya pantas menerima ini, menerima hukuman ini"


Pak Andre yang memang terkenal temperamental dan suka mabuk-mabukan pada saat itu, hampir setiap hari dia selalu memukul Ibu Rayyan. Bahkan tak segan dilakukan di depan Rayyan. Tak ubahnya anak kecil lainnya, Rayyan kecil sungguh takut dan iba melihat Ibunya yang babak belur dipukuli olehnya. Laki-laki yang hobby berjudi dan mabuk itu memang begitu setiap harinya, hingga akhirnya dia meninggalkan Ibunya Rayyan yang baginya sudah tak dapat dia manfaatkan hartanya.


Ibunya Rayyan yang awalnya kaya, jatuh miskin karena ulahnya. Rayyan kecil yang tak tahu menahu pun harus menanggung akibatnya. Hingga dia akhirnya berjuangan dan menjadi sukses seperti sekarang.


Pak Andre yang masih dengan tabiat yang sama pun melanglang mencari hidup enak dengan cara berhubungan dengan wanita-wanita kesepian yang kaya raya agar dia tak perlu untuk bekerja. Hingga pada akhirnya dia menyadari jika apa yang dilakukan selama ini salah.


Mata laki-laki itu kembali berkaca-kaca mengingat akan kebodohannya, bahunya berguncang. Dia yang menyadari jika Rayyan sudah sebesar itu, tapi dia sama sekali tak bisa menyentuhnya sekarang. Luar biasa pukulan hati yang dia terima.


"Saya hanya ingin dia memaafkan saya" ucapnya tergugu. "Tolong bantu saya" Pak Andre memegang tangan Hanna, memohon agar Hanna membantunya. "Saya tak akan bisa bertahan lebih lama lagi" imbuhnya.


Hanna tercekat, mengedipkan matanya berkali-kali dan akhirnya mengangguk.


"Akan saya usahakan" gumamnya sambil tersenyum, agar hati laki-laki itu hangat. Mungkin benar, sejahat dia di masa lalu, dialah tetap Ayah Rayyan. Di masa tuanya dia menginginkan dekat dengan keluarganya. Tapi apa yang dilakukan Rayyan pun sebenarnya bisa dimengerti jika laki-laki itu merasa sakit hati dengan perlakuan ayahnya.


        ***


Hanna memencet bel beberapa kali, beberapa kali juga dia memainkan tali tas selempangnya dan juga menggigit bibir bawahnya menghilangkan rasa gugupnya. Dia sudah bertanya pada security apartemen. Dan security mengatakan jika Rayyan berada di tempat dan baru tiba sejam yang lalu.


Pintu pun terbuka, ini adalah pertemuan pertama sejak mereka resmi berpisah. Hanna menatap Rayyan yang baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah. Mengapa pesona laki-laki yang ada di depannya itu begitu menghipnotisnya. Hanna buru-buru menundukkan pandangan, degup jantungnya tak karuan. Dia berusaha untuk menguasainya agar berjalan normal.


"Maaf menganggu" ucap Hanna dengan hanya sekilas melihat ke arah Rayyan. Benar-benar dia mengkesampingkan gengsinya untuk bertemu dengan Rayyan. Rayyan membuka pintu lebar-lebar, tanpa mengatakan apapun dia mempersilahkan Hanna masuk.


Rayyan duduk di atas sofa dengan kaki menyilang, handuk warna putih masih tersampir di pundaknya. Rayyan membuka kaleng minuman yang selama ini menjadikannya brand ambassador itu. Rayyan menyodorkan sebuah untuk Hanna.


"Terima kasih" hampir saja kalimat Hanna tak keluar, karena dia benar-benar grogi. Ingin rasanya Hanna merutuki dirinya sendiri, mengapa dia bisa secanggung ini bertemu dengan Rayyan.


"Ada yang salah?" tanya Rayyan membuka obrolan mereka, Rayyan melirik jam dinding, ternyata sudah hampir jam 12 malam. "Atau kamu belum menerima surat itu?" tanyanya. Hanna menggeleng.


"Lalu?" pertanyaan yang meluncur dari bibir Rayyan seolah mengalir begitu saja tanpa beban. Mungkin mudah bagi Rayyan melupakan dia. Hanna ingin menertawakan dirinya, terlalu percaya diri jika dulu Rayyan pernah bilang suka padanya.


Hey ingat, dia itu aktor. Jadi apa yang dia ucapkan tak lebih dari sekedar drama, dia hanya akting saja.


Hanna mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terjebak dengan kekecewaannya. Karena merasa Rayyan telah melupakan dirinya.


Rayyan berdiri dan melemparkan handuk ke kursi lain dengan sembarangan, lalu dia melihat ke arah luar jendela. Hanya terlihat lampu kelap kelip. Bayangan masa kecilnya kembali berkelebat.


"Oh jadi dia sekarang memperalat kamu untuk ini?" Rayyan tersenyum sinis.


"Bukan, dia hanya ingin kamu memaafkan dia"


"Sudah malam, pulanglah" Rayyan tak menggubris permintaan Hanna.


"Rayyan..."


"Sudah tengah malam, kecuali kamu ingin menginap di sini" imbuh Rayyan sambil melihat Hanna lekat. Tatapan itu membuat Hanna meleleh, sejenak melupakan misinya kesini. Ah lagi-lagi dia harus menata detak jantungnya agar bisa kembali berdetak dengan normal.


"Aku serius Rayyan"


"Kamu pikir aku nggak serius, ini sudah tengah malam, dan pulanglah, kalau kamu nggak pulang, maka nginaplah di sini"


Hanna menghela nafas panjang, dia sadar usahanya kali ini belum berhasil. Maka dia harus berusaha lain waktu, dan benar, ini sudah terlalu larut.


"Kapan kamu ada waktu?" tanya Hanna sebelum dia meninggalkan apartemen Rayyan.


"Aku sibuk" jawab Rayyan tiba-tiba dingin, tak ingin diganggu.


"Tolong hubungi aku saat tidak sibuk"


"Hey...kamu pikir kamu siapa?" Rayyan tersenyum sinis. Hanna menahan gesekan giginya yang sedang menahan gemasnya, iya Rayyan kini memang bukan siapa-siapa dia.


"Teman...jadi tolonglah" ucap Hanna akhirnya.


Rayyan mengambil jaketnya dan mengambil kunci mobilnya. Jaket tersebut tak dia pakai sendiri, melainkan dipakaikan untuk Hanna.


Hanna kembali menjadi hampir gila, jantungnya tak karuan saat Rayyan menarik tangannya dan mengajak keluar dari apartemennya. Inilah yang akan dia lakukan memang, dia akan pulang. Tapi Rayyan nampak masih saja menggandeng tangannya hingga keluar dari lift.


"Aku bisa naik taksi" ujar Hanna tak mau merepotkan.


"Kamu selalu keras kepala" jawab Rayyan.


"Aku nggak mau merepotkan kamu yang sibuk"


"Kita adalah teman, maka tidak ada salahnya kita saling tolong menolong kan?" Rayyan mengingatkan komitmen Hanna bahwa mereka akan berteman. Hanna yagng termakan omongannya sendiri pun akhirnya menurut. Dia masuk ke dalam mobil Rayyan.


"Sudah aku bilang, jangan keluyuran malam-malam, masih saja keluar malam" omelnya, Hanna yang teringat akan kejadian awal-awal dia bersama Rayyan pun tersenyum kecil. Hanna memakai sabuk pengamannya dan mobilpun melaju menuju rumah Hanna.


Malam ini memang dia belum berhasil membantu Pak Andre, tapi dia janji akan mendamaikan dua laki-laki itu, bagaimanapun mereka mempunyai ikatan darah.