Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Obat Hati


Hanna pamit kepada ayahnya untuk keluar sebentar malam ini, dia harus menyelesaikan urusannya. Semakin lama akan semakin menyiksanya.


"Perlu ayah antar?" tawar Pak Handi saat melihat putriny pamit. Hanna menggeleng, dia tak mau merepotkan ayahnya. Pak Handi pun memaklumi dan tidak bertanya perihal kemana Hanna pergi. Pasti untuk sesuatu yang penting. Dia paham putrinya tak akan pergi ke tempat yang aneh-aneh.


Hanna memilih untuk menggunakan taksi online menuju alamat yang akan dia tuju. Setelah naik taksi, Hanna memperhatikan jalanan malam yang lumayan ramai, Hanna melihat ponselnya untuk melihat jam. Dan ini sudah hampir jam 8 malam. Selang 20 menit, Hanna sampai di sebuah bangunan yang megah nan mewah. Hanna sudah tahu jika dia mendapatkan izin, sehingga security pun tidak mempersulitnya untuk masuk.


Hanna berada di depan pintu yang masih dia ingat. Hanna menghela nafas panjang sebelum memencet bel, dia tahu bahwa sang empunya ada di tempat, karena dia sudah memastikan lewat informan yang terpercaya. Dia merasa gengsi jika harus bertanya secara langsung pada yang bersangkutan.


Hanna, dengan dandanan santai, kaos pendek dipadu jaket denim serta celanan jeans dan juga tas selempang kecil warna hitam, menggerai rambut pendeknya. Tangannya memberanikan diri memencet bel yang ada di dekat pintu tersebut.


Hanna memainkan jarinya di udara sambil menunggu pintu terbuka.


        Rayyan nampak tertegun melihat siapa yang ada di depan pintunya, gadis itu. Gadis yang siang tadi berada di ruangan yang sama dengannya.


"Hai" sapanya sumringah. Hanna nyengir.


"Fans beratku" Rayyan menambahkan, diselingi tawa sumringah tanpa dosa. Hanna yang mendengar kalimat itu merasa malu. Pasti Rayyan akan membual setiap kali bertemu dengannya dan menjadikan ini sebuah senjata. "Masuk" ucapnya. Hanna mengikuti Rayyan, dia duduk di sofa. Rayyan pun demikian.


Rayyan tak menyangka jika akan kedatangan Hanna malam ini, seperti hal yang sangat dia nantikan.


"Langsung saja" Hanna memulai percakapan, dia akan mengatakan maksud dan tujuannya datang kemari. "Tak enak jika aku menyampaikan lewat pesan atau telpon.


"Kamu mau minum apa?" tiba-tiba Rayyan menginterupsi Hanna yang sedang fokus menyusun kalimat penting. Hanna memejamkan matanya dan menghirup udara kuat-kuat. Belum juga dijawab oleh Hanna, Rayyan sudah beranjak meninggalkan Hanna, dia berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan minuman dingin tanpa soda itu. Dia meletakkan di atas meja, untuknya dan satu lagi untu Hanna.


"Terima kasih" ujar Hanna akhirnya, sebenarnya ini bukan inginnya, dia merasa ini malah merusak fokusnya. Dia harus kembali merangkai kata untuk bisa kembali mengatakan apa tujuannya.


"Hehm..." balas Rayyan, dia menatap manik mata Hanna dalam. Membuat Hanna menjadi salah tingkah, mengapa Rayyan melakukan itu.


"Jadi...ingin bertanya"


"Tanya saja" balas Rayyan enteng.


"Jadi kapan...ehm..." Hanna menjadi kikuk dan hilang arah komunikasi, Hanna menggaruk rambutnya. Melihat Hanna begitu, Rayyan tak bisa menahan tawanya.


"Jadi aku menunggu surat itu" Hanna masih mengambang dengan tidak menyebut surat yang dimaksud. Rayyan sudah tahu maksud Hanna. Tapi dia sudah meyakinkan dirinya, dia tak akan menceraikan Hanna dengan mudahnya.


"Aku akan membayarmu untuk perpanjangan kontrak kita" jawab Rayyan dengan nada mengesalkan bagi Hanna. Laki-laki itu sangat arogan dan sepertinya tak menghargainya. "Jadi, kamu tetap istriku" Rayyan menambahkan, dia tidak peduli seberapa sakit hati Hanna. Tapi ini yang bisa dia lakukan sekarang.


"Aku tidak butuh ini"


"Tapi aku ingin melakukannya" Rayyan tak mau kalah.


"Kamu tidak berhak membuat keputusan konyol ini, ini sangat tidak menguntungkan buat aku" Hanna kesal, percuma saja dia datang kesini jika keputusannya akan seperti ini.


"Apakah ini karena laki-laki itu?" Rayyan menatap Hanna dengan sinis. Hanna dengan cepat menatap Rayyan.


Rayyan tertawa renyah, nampaknya Hanna memang gadis yang berbeda, dia sungguh gadis yang keras kepala. Hanna merasa heran dengan apa yang diperbuat oleh Rayyan.


"Terkadang kita melakukan hal kepada orang lain lain bukan karena apa-apa, melainkan orang itu memberikan manfaat bagi kita"


"Maksudmu aku memanfaatkan kamu?" Rayyan menebak.


Hanna melipat kedua tangannya di dada, dia benar-benar sebal dengan laki-laki yang ada di depannya itu. Dia sudah memberanikan diri datang ke tempat ini, sudah menjatuhkan harga dirinya nyamperin Rayyan, tapi ternyata begini hasilnya.


"Hey...sudah pernah melihat dirimu di cermin selama ini? apakah aku pernah memanfaatkan kamu?"


"Hey...Rayyan Sebastian yang hits beken....dengar ya...." Hanna tidak melanjutkan kalimatnya, jika dia melakukan hal yang sama, maka tak ubahnya dia juga jadi orang yang suka mengungkit kebaikannya. "Nggak jadi" Hanna kembali menurunkan nada bicaranya, sebenernya dia ingin protes pada Rayyan. Apakah Rayyan tidak menganggap bahwa selama ini dia berkorban untuknya? dengan diam-diam menjadi istrinya demi menyelamatkan Rayyan dari kehancuran karirnya kala itu. Hanna memegang kepalanya dan menggeleng perlahan.


"Percuma, aku tidak akan melepaskan kamu, setidaknya untuk saat ini, Hanna!" gumam Rayyan tegas. Hanna tak bertanya lagi, perbincangan kali ini buntu.


"Dan aku mau kamu kembali tinggal di sini"


Dengan secepat kilat Hanna menatap Rayyan, tak perlu diutarakan, tatapan itu menandakan kemarahan Hanna.


"Aku nggak mau!"


"Bukankah kamu mengidolakan aku, hey!" Rayyan mencoba bercanda, kepalang marah, Hanna makin sebal dengan Rayyan.


"Itu duluuuu, duluuu sebelum tahu kamu, setelah tahu kamu menyebalkan, kamu yang suka sama istri orang, kamu yang aneh, kamu yang pokoknya menyebalkan, aku tidak suka sama sekali dengan sosok Rayyan Sebastian si seleb beken nan hits seantero negeri ini, paham?"


Mendengar semua ocehan Hanna, bukannya marah, Rayyan semakin tertawa lebar mendengarnya. Bak semacam dagelan yang sedang menghibur para penontonnya.


"Jadi selama ini kamu kebawa perasaan hingga tahu segalanya tentang diriku yang sebenarnya?" Rayyan merasa tersanjung.


"Gilak lama-lama aku di sini, maumu apa sih?" Hanna menghentakkan kaki di lantai.


"Kan sudah jelas, aku nggak mau pisah sama kamu, setidaknya untuk saat ini" jawab Rayyan seolah mengulang kembali jawabannya yang tadi.  "Sudah malam, tidurlah" pinta Rayyan enteng. Mendengar hal demikian membuat Hanna bergidik ngeri, kalimat itu seolah terdengar seorang suami yang sedang menyuruh istrinya tidur. Tapi dia juga sadar bahwa dia memang masih istri Rayyan. Hanna menepuk dahinya, lalu menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Aku mau pulang!" ujarnya kesal.


"Kalau kamu nggak mau tidur di sini, biar aku antar kamu pulang, ini sudah malam" Rayyan berdiri dan bersiap mengambil kunci mobil.


"Nggak usah, nggak perlu" Hanna bersungut. Tak peduli dengan perilaku Hanna, Rayyan mengambil kunci yang berada di meja yang tak jauh darinya, lalu dia menarik pergelangan tangan Hanna dan menggandengnya keluar kamar. Hanna yang seperti kerbau dicucuk hidungnya tak melawan, dia mengikuti saja apa yang dilakukan oleh Rayyan.


Tapi kenapa kamu melakukan ini Rayyan? jika kamu melakukan ini karena kamu suka padaku, itu jelas mustahil. Kamu bintang di atas sana, aku hanya remahan debu di bumi ini. Dan akupun nggak suka sama kamu....


Terima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca, yang sudah memberikan vote, like, komentar. Apa yang kalian lakukan, menambah semangat author untuk menulis lebih giat lagi. Thanks you....^^