
Perihal cincin yang sudah dilepaskan dari jari manisnya, sebenarnya Hanna menyimpannya dengan baik di rumahnya. Sejak dia memutuskan untuk meninggalkan Rayyan, dia menyimpannya dengan baik. Untuk harapannya, dia sendiri tidak tahu, apa hanya disimpan atau kelak akan dia kenakan lagi. Hanna menarik jemarinya agar tidak terlihat oleh Rayyan.
Rayyan meletakkan cincinnya di atas meja. Hanna menatapnya, menatap cincin yang pernah menjadi saksi pertautan cinta mereka. Hanna menelan ludahnya.
"Bahkan kamu sudah membuangnya, lalu untuk apa lagi aku memakainya," ungkap Rayyan.
Hanna menatap Rayyan, sedari tadi dia memang fokus di jari manis Rayyan. Hanya saja dia belum bisa memastikan jika cincin yang dipakai oleh Rayyan itu adalah cincin tunangannya dulu. Hanna malah mengira jika cincin yang sedari tadi di jemari Rayyan itu cincin pertunangan Rayyan dengan gadis yang lain.
"Jadi kamu sudah benar-benar melupakan semua ini, sungguh tidak bisa dipercaya," Rayyan nampak kecewa, gurat wajahnya menatap Hanna hambar. Lalu dia menggelengkan kepalanya. Ingin rasanya Hanna menjelaskan dari awal, tapi urung.
Terdengar suara ponselnya berdering, Hanna menatap layar ponselnya, dan nama Ratna tertera di sana.
"Angkat tuh, penting mungkin dari pacarmu," sergahnya dengan datar. Hanna menaikkan kedua alisnya dengan wajah heran, karena yang tertera di sana jelas-jelas nama Ratna. Apa selama ini Rayyan sudah menganggapnya dia menjadi pecinta wanita?
Hanna mengambil ponselnya dan mengarahkan ke Rayyan. Untuk menunjukkan jika yang menghubunginya adalah Ratna, perempuan. Hah? kenapa dia melakukan itu? apa dalam hati kecilnya dia ingin menunjukkan jika panggilan itu memang bukan dari laki-laki. Hanna menepuk dahinya lalu beranjak agak menjauh dari Rayyan, dia menjawab panggilan Ratna.
Rayyan tersenyum tipis melihat kelakuan Hanna, membuatnya gemas. Rayyan melihat dari sofa Hanna yang berdiri di dekat jendela.
Di mana Ratna sedang bingung mencari keberadaan Hanna yang sudah sejak tadi ditunggu di lobby, namun tidak muncul juga. Ratna kebingungan mencari, untung saja ponselnya ada di saku celana, sehingga dia masih bisa menghubungi Hanna.
"Iya bentar, ini lagi ada....ehm...urusan sebentar. Iya habis ini aku turun," Hanna menggaruk kepalanya sambil melihat Rayyan yang kini sudah mengganti ekspresi wajahnya dari senyum kegirangan menjadi kembali sok cool. Hanna memungkasi panggilannya dan mendekat ke arah Rayyan.
"Maaf, aku dicari sama temanku mau ngebalikin tas," Hanna menenteng tas Ratna yang dari tadi dia bawa. Rayyan menghela nafas panjang.
"Urusan kita belum selesai, 5 menit untuk kembali kesini," titahnya. Hanna mendelik, tidak ada urusannya dengan pekerjaan atau apa, kenapa Rayyan berani memberikan perintah tegas padanya.
"Kan....,"
"Nggak ada bantahan apapun, 5 menit kembali kesini," ujarnya tegas. Hanna pun akhirnya mengangguk dan hendak melangkah.
"Heh tunggu," Rayyan menahan langkah Hanna.
"Apa lagi,?" Hanna menoleh.
"Tinggal tasmu di sini," perintahnya lagi. Hanna melihat tasnya dan merasa heran. Sebegitu tidak percayanya Rayyan padanya. "Aku tidak mau kamu kabur,"
Hanna mendengus lagi, dan meletakkan tasnya di atas meja. Si pemberi perintah pun lega, hanya saja wajahnya terlihat biasa saja. Hanna keluar dari ruangannya. Nampak Rayyan sedang senyum-senyum sendiri dengan apa yang baru saja terjadi. Hanna memang masih sama.
Hanna buru-buru menemui Ratna yang sudah ada di lobby.
"Sorry Rat...ada urusan mendadak, iya....,"
"Sama siapa? dicariin tuh sama pak Farel dari tadi,"
"Mau dianterin pulang sepertinya," jawab Ratna sambil mengambil tas yang diulurkan Hanna.
"Duh...bilangin aku lagi ketemu sama temen, oh ya...kamu bisa kan tungguin di sini," karena Ratna ingin menginap di rumah Hanna, sedangkan Hanna masih belum selesai berbicara dengan Rayyan di atas.
"Eh Han...sorry....ini barusan bokap ngabarin kalau nyokap masuk rumah sakit, kayaknya aku nggak jadi ke rumah kamu deh,"
"Ih kenapa nyokap,?" Hanna menatap Ratna yang nampak bisa menguasai rasa cemasnya.
"Biasa, asmanya kambuh, jadi nggak bisa nginep deh, tapi kapan-kapan aku ke rumahmu ya...,"
"Ok, trus kamu baliknya gimana,?" Hanna yakin teman sekantornya sudah pada meninggalkan kantor Rayyan.
"Aman, ini tadi aku nelpon sopirnya, katanya masih di sekitaran sini kok, lagi nyari makan, nanti aku balik sekalian bareng mereka,"
"Oh ya sudah, kamu hati-hati ya...salam buat nyokap, lekas sehat biar kamu lekas bisa ketemu sama Nayo,"
"Ah hiya....gagal ketemu calon dokter tampan, salam ya...,"
Hanna mengangkat jempol tangan kanannya sebelum Ratna pergi untuk ikut bergabung dengan teman satu kantornya yang mau balik.
Lebih dari 5 menit, Hanna melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hanna menepuk dahinya, seolah sedang berlomba dengan waktu. Hanna berjalan dengan cepat masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka karena ada orang yang mau naik juga. Hanna menggerakkan jemarinya, terlihat angka 10 dan pintu lift terbuka.
Hanna keluar dari lift dan menuju ruangan Rayyan. Hanna membuka pintu perlahan, namun di dalamnya sepi. Tas yang dari tadi dia tinggal pun tak ada. Jangan-jangan Rayyan sedang mengerjainya? atau Rayyan dendam dan akan....
Pikiran Hanna kemana-mana. Hanna menutup pintu perlahan.
"10 menit lebih 32 detik, kamu lambat sekali," suara itu membuatnya semakin kaget. Hanna sontak melihat ke arah sumber suara, Rayyan sedang duduk di kursi kebesarannya yang tadi menghadap belakang.
"Maaf," suara Hanna menyahut datar.
Rayyan berdiri dan menatap Hanna, tangan kirinya membawa tas Hanna. Tidak ada perintah apapun Rayyan memeluk tubuh mungil Hanna.
Debaran jantung Hanna sudah tidak beraturan sejak pertama melihat keberadaan Rayyan sejak tadi, dan kini tubuh itu malah memeluknya dengan erat. Rasanya tangannya ingin memeluk balik, hanya saja dia masih ragu dan akhirnya tangannya menggantung di udara.
Rayyan tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya pada Hanna. Sebuah anugerah bisa bertemu dengan Hanna di sini hari ini, di mana sama sekali tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Ingin marah, ingin melampiaskan rasa kecewanya pada Hanna karena dia ditinggalkan begitu saja, namun tidak bisa. Dan memeluknya adalah salah satu hal yang dilakukan saat ini. Dia merasa tenang, dan sangat lega akhirnya bisa menemukan Hanna. Meskipun dia tidak tahu keadaan Hanna sekarang ini.
Apakah sosok yang dipeluknya itu masih sendiri? apakah dia masih memiliki rasa untuknya.
Begitupun dengan apa yang ada di benak Hanna, apakah laki-laki yang masih ada di hatinya itu kini masih sendiri? atau dia memeluknya karena hanya merindukan dia? sedangkan di luar sana ada pacar yang menunggunya.
Hanna melepaskan tubuhnya dari tubuh Rayyan dan menatap lekat, sungguh dia juga merindukan Rayyan begitu dalam.