
"Iya Mil" Hanna buru-buru menerima panggilan dari Kamila bertepatan dia mematikan mesin motornya. Hanna baru saja tiba di rumah. Hanna masih mengenakan helm, dan menyempilkan benda pipih itu di antara telinga dan helem di telinga kiri. Dia masih berdiri mematung sambil mendengarkan Mila.
Rayyan sakit, tolong kamu tengokin dia ya...aku mau kesana, tapi keadaan aku belum memungkinkan.
"Di mana?" Hanna mendengarkan dengan seksama.
Apartemen, itu Andik, si asisten baru juga kebetulan nggak bisa, ada saudaranya meninggal. Sementara Rayyan aku suruh ke dokter nggak mau dia, bandel banget. Tolong ya....
"Iya" jawab Hanna singkat, karena dia sangat menghormati Kamila.
Terima kasih Han...
"Sama-sama Mil"
Hanna memutuskan panggilan suara, dia bergegas mengambil ponsel yang terhimpit di anatra helm dan telinganya, meletakkannya di jok motornya, lalu dia melepas helmnya. Sebelum dia ke apartemen Rayyan, dia akan mandi terlebih dahulu.
Dilihatnya Pak Handi sudah dengan pakaian rutinya, baju koko dan sarung. Nampaknya dia baru saja menjalankan ibadah sholat maghrib saat Hanna baru tiba. Hanna mencium tangan ayahnya.
"Baru pulang anak ayah"
"Iya yah, habis ini keluar lagi"
"Kemana?" Pak Handi nampak melihat Hanna yang lelah.
"Mila...barusan telpon, katanya Rayyan sakit, ya udah suruh kesana" Hanna menyunggingkan senyum miring.
"Oh ya udah, segeralah kesana, kasian dia nggak ada yang urus" Pak Handi bersemangat. Hanna memutar bola matanya lalu tersenyum ke arah ayahnya. Kemudian dia masuk kamar untuk meletakkan tasnya dan bersiap membersihkan diri.
Tepat setelah isya, setelah Hanna makan malam dan menunaikan kewajibannya, Hanna bersiap untuk pergi lagi.
"Pergilah" ucap Pak Handi yang kini sudah berganti kostum, nampak laki-laki itu sedang mencacat sesuatu di buku catetan kerjanya.
"Iya yah" Hanna meraih tangan ayahnya pamit.
"Nginep juga nggak apa-apa" sahutnya sambil terkekeh.
"Ayah...." Hanna cemberut, membuat ayahnya semakin terkekeh.
"Loh nggak ada salahnya kan"
"Ah udah ah" Hanna mencium punggung tangan ayahnya lalu keluar dan bergegas pergi. Apa yang dikatakan oleh ayahnya tidaklah salah, memang Rayyan adalah masih sah suaminya.
Hanna mengetuk pintu apartemen Rayyan, tak berapa lama Rayyan membukakan pintu. Wajahnya nampak pucat. Sebelum sampai kesini, Hanna membawakan Rayyan soto untuk Rayyan. Dia yakin jika Rayyan belum makan. Rayyan nampak tersenyum melihat kedatangan Hanna yang tak dia duga.
"Hanna masuk ke dalam apartemen, Rayyan menutup pintunya. Hanna meletakkan tasnya di meja yang dekat pintu, kemudian dia pergi ke arah dapur untuk menata makanan untuk Rayyan.
Sementara Rayyan menghempaskan dirinya di sofa dengan posisi menyandarkan kepala di sandaran sofa sambil melihat ke arah Hanna yang sibuk di dapur.
"Kamu pasti belum makan" Hanna mendekat dan meletakkan seporsi soto hangat yang menggugah selera itu. "Makanlah" Hanna mempersilahkan.
"Kamu sakit apa?" alih-alih Hanna menjawab pertanyaan Rayyan, dia bertanya balik tentang keadaan Rayyan yang sakit. Mungkin saja Rayyan sakit karena habis kehujanan. Jika ditanya tentang patah hati, tentu masih dia rasakan. Tapi dia sudah berjanji sore tadi, itu tangisan terakhirnya untuk Bian. Untuk masa lalu, akhir cerita cintanya dengan Bian.
"Han...apa kamu masih terluka?" Rayyan kekeuh bertanya. Hanna menatap laki-laki itu. Dia memejam sejenak, lalu kembali menatapnya.
"Aku baik-baik saja" jawab Hanna lalu mencoba tersenyum.
"Jika kamu masih tak baik-baik saja, aku masih bisa meminjamkan dada atau bahu untukmu" Rayyan tertawa kecil, nampak sumringah meskipun bibirnya terlihat pucat. Hanna pun ikut tersenyum akhirnya. "Tersenyumlah, hempaskan laki-laki macam begitu"
"Memangnya kamu tahu dia laki-laki macam apa?"
Rayyan melihat Hanna lalu tertawa dengan renyahnya.
"Bahkan sebelum kamu tahu aku sudah tahu"
"Tentang Bian dan Talitha?" Hanna memastikan. Rayyan mengangguk. Rayyan memang tahu semuanya, dia sengaja menyuruh orang untuk menyelidiki Bian.
"Sorry, apa sih yang nggak bisa aku lakukan?" Rayyan menyombongkan diri seraya tertawa.
"Jadi selama ini kamu...?" Hanna menggantung kalimatnya.
"Itulah alasanku selama ini belum melepaskan kamu, aku ingin melindungimu" ujar Rayyan dengan mimik serius. Mendengar pemaparan yang singkat namun berkesan itu, membuat darah Hanna berdesir, pipinya terasa panas. Dia merasa tersanjung dengan apa yang dilakukan Rayyan. Namun buru-buru dia menyadarkan dirinya, dia tak mau GR dengan semua ini.
Apa setelah ini dia akan melepaskan aku?
Batin Hanna, dia merasa nelangsa saat mengatakan hal itu dalam hati.
"Han...maafkan aku, atas kejadian tempo hari di pulau itu, aku sungguh tidak sengaja melakukannya, aku mabuk saat itu" Rayyan membuka ingatannya tentang peristiwa itu, dan entah mengapa Hanna seolah sudah memaafkan meskipun itu mengecewakannya.
"Tak perlu dibahas lagi" Hanna tak ingin membahasnya kini, setelah patah hatinya tadi, dia belum siap membahas hal-hal yang melukai hatinya.
"Makanlah, keburu dingin"
Rayyan terlihat mengambil piring yang ada di atas meja, asap dari soto yang tadi terlihat mengepul kini sudah tak nampak lagi, menandakan jika makanan itu sudah tak lagi panas. Rayyan mulai memakannya meskipun sebenarnya enggan, karena terasa pahit di lidahnya. Tapi dia tidak mau mengecewakan Hanna yang dengan susah payah membelikan untuknya. Hanna sedang berada di pinggir jendela, melihat jalan raya di bawah yang penuh dengan kendaraan berlalu lalang.
Rayyan menyudahi makannya, rasa mual menguasai dirinya sehingga tak bisa menghabiskan makanannya. Setelah minum dia kembali merebahkan dirinya. Dan akhirnya tertidur. Hanna yang baru sadar terdiam di sana kembali melihat ke arah Rayyan yang nampak tertidur, Hanna mendekat. Merapikan piring bekas makan dan gelas minumnya, lalu membawanya ke dapur.
Hanna kembali lagi ke Rayyan dan melihat laki-laki itu tidur dengan wajah masih pucat, dengan agak ragu Hanna mendekatkan punggung tangannya. Mengecek dahi Rayyan, dan terasa amat panas.
"Maaf...maafkan aku Han..." Rayyan seperti meracau, Hanna yang melihat Rayyan mengigau pun terkejut, tapi dia masih berjongkok di dekat Rayyan. Segera Hanna bangkit dan ke dapur mengambil air hangat. Dia butuh handuk kecil, Hanna bingung harus mencari kemana. Dia tidak tahu di mana Rayyan menyimpannya.
Hanna yang agak panik dengan suhu Rayyan pun mencarinya di lemari Rayyan meskipun tanpa persetujuan laki-laki itu. Akhirnya Hanna menemukan sebuah handuk berwarna biru muda, bergegas dia kembali ke dapur dan mencelupkan handuk tersebut ke dalam sebuah wadah yang berisi air hangat.
Hanna meletakkan handuk tersebut di dahi Rayyan, berharap demamnya segera turun. Hanna duduk di sofa yang ada di dekat sofa di mana Rayyan merebahkan dirinya.
Hanna melihat jam tangannya, waktu sudah hampir tengah malam. Meninggalkan Rayyan pun dia tak tega karena keadaannya.
Hanna duduk di sofa, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran, dan akhirnya dia tertidur.