Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Empat Mata


Brian membuang muka, dia merasa muak dengan apa yang baru saja dilihatnya. Rayyan mempersilahkan Brian kembali duduk di sofa dengan manis.


"Silahkan, apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Rayyan santai dan tenang, tidak merasa bersalah apapun.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Brian kesal.


Rayyan melihat kemarahan di mata Brian, laki-laki itu terlihat ingin menerkamnya, seperti harimau yang sedang lapar dan siap memakan mangsanya. Terbersit semua yang dilakukan Rayyan dan Talitha saat liburan, ingatan Rayyan benar-benar kembali ke momen itu. Iya, di mana perempuan yang dia cintai itu adalah milik Brian, laki-laki yang ada di depannya. Rayyan mencoba berpikir sehat.


"Aku tidak melakukan apapun" kalimat itu yang terucap, matanya menatap tajam ke arah pandangan Brian. Mereka saling beradu pandangan.


"Kamu merusak apa yang menjadi milikku, lepaskan dia atau aku aka menghancurkan karirmu!" ancam Brian.


"Bukankah kamu sudah mendengar apa yang diucapkan oleh istriku?" Rayyan masih tenang. Brian tersenyum kecut, seolah meremehkan dan tidak percaya dengan Hanna.


"Seberapa besar aku harus percaya bahwa inilah hidup kamu? bahwa kamu sudah menikah dan akan segera menjadi ayah? sampai kapan aku harus membuktikan? sampai istrimu melahirkan?" cecar Brian. Rayyan terdiam sesaat, dia merasa terpojok, dia merasa kalah, dan entah diakui atau tidak, dia memang bersalah.


"Aku akan membuktikan bahwa anggapan kamu salah tentang aku dan Talitha" geram Rayyan, dia tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan, dia sedang membela harga dirinya, lupa dengan permintaan Talitha untuk segera menikahinya.


"Akan aku buktikan ucapan kamu sebagai lelaki sejati" Brian mengacungkan jarinya sambil berdiri dan berlalu. Rayyan ikut berdiri dan melihat Brian keluar dari rumahnya.


Punggung laki-laki yang merupakan suami Talitha itu sudah tak terlihat lagi karena sudah masuk mobil, dan mobilpun meninggalkan rumahnya.


Rayyan menghela nafas panjang, dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya. Apa yang sebenarnya dia lakukan? mengapa dia dengan lantang akan membuktikan bahwa dia tak ada hubungan Talitha.


        Hanna tengah sibuk di dapur, memasak seperti biasanya. Rayyan melihat sejenak ke arah Hanna, lalu kembali berpaling dan segera menuju tangga menuju kamarnya.  Hanna kembali memasak dan tak mempedulikan Rayyan. Namun hanya sebentar ketenangan di dapur dia rasakan, karena terlalu fokus pada aktivitasnya, Hanna tak menyadari jika Rayyan telah berada di sana.


"Bahagia sekali kamu bisa memelukku" gumamnya. Hanna berjingkat lalu melihat Rayyan.


"Sial...sejak kapan kamu di situ? kamu mengagetkan saja" Hanna kesal.


"Kenapa? kamu terlalu menikmati memelukku ya?" Rayyan masih saja berlagak. Hanna mencebik, dia menolak bahwa dia menikmati pelukan Rayyan, sesungguhnya dia juga enggan memeluk Rayyan. Hanya saja sandiwara itu harus dilakukan untuk menyelamatkan Rayyan. Hanna mematikan kompor dan melihat ke arah Rayyan, mereka berhadapan.


"Ok, kalau aku menikmati lalu apa maumu?" Hanna seolah menantang, dia tersenyum menggoda, "Bukankah kamu memang suamiku?" Hanna benar-benar menjahili Rayyan.


Rayyan membelalakkan mata, gadis di depannya itu lebih menakutkan dari monster, Rayyan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Hiiiiii" Rayyan memasang wajah lucu.


"Kenapa kamu menakutkan?"


"Oh ya?"


"Jadi kamu benar menikmati dekat dan melekat dengan lenganku yang kekar ini hah?" Rayyan mengangkat tangan kanannya seperti binaragawan yang memamerkan otot tangannya. Hanna tertawa terbahak-bahak.


"Sejujurnya aku suka....."


"Ehm...jadi kamu suka sama aku?" Rayyan sangat percaya diri. Hanna semakin terbahak. Rayyan menunjukkan sikap aneh, dia benar-benar heran dengan sikap Hanna. Mengapa dia nampak sama sekali tidak seperti magnet saat berhadapan dengannya, mengapa Hanna nampak tak suka dengannya.


"Aku suka godain kamu, udah gitu aja" Hanna memasang mimik serius. "Bau, cepetan mandi!" Hanna menutup hidungnya, seolah sedang mengejek Rayyan. Rayyan sibuk mencium badannya, tidak ada bau sama sekali, yang ada parfum wangi yang masih melekat di tubuhnya.


"Aku lapar aku mau makan" Rayyan menarik salah satu kursi lalu duduk manis, menunggu Hanna melayaninya. Hanna yang sudah hapal, lalu mengambilkan nasi dan lauk pauknya. Karena dia juga lapar, maka Hanna juga ikut makan di meja yang sama.


Hanna berpikir, bagaimana laki-laki ini bisa sangat bucin pada Talitha? hingga seolah siap mengorbankan resiko karirnya. Di satu sisi dia juga pernah diminta agar menjaga Rayyan untuk Talitha. Di lain sisi lagi dia diminta Kamila untuk menjaga Rayyan. Hanna menglena nafas panjang di sela dia makan. Hingga Rayyan melihat ke arah gadis itu.


Bagi Rayyan, ini bukan hal yang aneh lagi, dia makan semeja dengan orang asing di rumahnya, bahkan gadis itu sering membuatnya tertawa tanpa sadar.


"Bagaimana aku membuktikan pada Brian?" tanya Rayyan. Hanna mendongak, mengapa Rayyan tiba-tiba mengucapkan kalimat itu. "Tapi aku berterima kasih kamu sudah menyelamatkanku hari ini" ucapnya lirih tapi tulus.


Hanna berdiri sambil mengambil piring yang sudah kosong miliknya dan milik Rayyan, "Iya" jawab Hanna.


"Aku sadar, tanpamu aku tadi...entahlah"


"Lain kali agar lebih sempurna, jangan matikan ponselmu" Hanna menimpali.


"Itu tadi masalah non teknis, daya ponselku habis, mau bagaimana lagi"


"Ok diterima, tapi tolong jawab pertanyaanku"


"Apa?" Rayyan memutar tubuhnya mengikuti arah Hanna yang sedang berada di cucian piring.


"Sebenarnya kamu berlibur dengan Talitha?" pertanyaan Hanna menusuk. Rayyan terdiam, berarti Hanna sudah tahu jawabannya. "Oh terima kasih sudah mengirimiku makanan kapan hari, ayah sangat senang, begitu juga Nayo" imbuh Hanna yang tak mendapatkan jawaban pasti dari Rayyan.


"Kamu tidak suka?" Rayyan tak meladeni pertanyaan tentang liburan, malah dia menanggapi tentang makanan.